
Seperti janji yang telah dia ucapkan pada Ayana, Altair akhirnya meninggalkan sekolah lebih cepat usai berpamitan pada Asa melalui pesan pribadi.
Altair pergi menggunakan mobil pribadinya, memarkirkan di tempat yang sepi untuk menunggu kedatangan Ayana keluar dari sekolah.
Saat melihat dari kejauhan Ayana berlari keluar dari gerbang, Altair lantas membuka kunci pintu mobilnya, menunggu adik Asa masuk tanpa menunggu lebih lama lagi.
Altair senyum paksa pada Ayana. Meski setidak suka apapun, Altair tetap harus menjaga imagenya di depan para fans, terutama Ayana sekalipun.
"Aku senang kak Altair nggak ingkar janji," ucap Ayana merapikan rambutnya. Tersipu malu dengan jantung berdetak tidak karuan.
Ayolah siapa yang tidak lemas jika berada di sekitar pria yang dulu hanya bisa digapai lewat halu.
Ayana menyampirkan rambutnya pada telinga, di mana membuat Altair bergidik ngeri. Agaknya adik Asa sedikit menyeramkan baginya.
"Kenapa mau bertemu?" tanya Altair akhirnya agar tidak membuang waktu lebih lama lagi.
"Aku cuma mau kenal kak Altair lebih dekat. Lagian nggak salah kan kalau kita ketemu? Kak Altair kakak sepupu aku," cengir Ayana dengan wajah polosnya.
Altair mengangguk membenarkan. "Tapi gue sibuk, Ayana."
"Aku suka sama kak Altair, bukan sebagai Idola tapi pria!" ucap Ayana tanpa pikir panjang, membuat Altair mau tidak mau kembali tersenyum.
Pria itu menyandarkan kepalanya pada jok mobil, menatap lalu-lalang siswa yang terus bermunculan dari pagar sekolah Ayana.
"Nggak ada undang-undang seseorang harus marah saat tahu disukai sama orang lain. Tapi ada hak untuk menolak kan? Maaf Ayana, kita itu saudara. gue anggap lo sepupu nggak lebih."
__ADS_1
"Lagian suka sama orang yang nggak suka sama lo itu menyakitkan loh, percaya deh sama gue."
Altair bergerak untuk mengusap kepala Ayana. Tidak ingin menyakiti hati sepupunya.
"Sukai gue sebagai Idol, jangan pria!"
"Tapi kak ...."
"Setengah jam lagi gue harus berada di lokasi pemotretan, bisa turun sekarang?"
Ayana mengeleng, mata gadis itu berkaca-kaca. Kecewa karena Altair tidak memberinya kesempatan untuk membuktikan seberapa besar cinta Ayana untuknya.
"Ayana?"
"Ah iya." Ayana buru-buru turun dari mobil saat menyadari sorot mata Altair tidak seteduh tadi.
Jika Ayana sedang bersedih, maka berbeda di tempat lain. Yakni di depan pagar sekolah SMA Angkasa.
Sejak tadi Asa menatap pria yang berdiri di sampingnya. Pria yang sejak jam pertama hingga akhir menarik perhatiannya.
Pria yang mempunyai tindik di salah satu telinga, rambut tidak terlalu rapi tapi terlihat cukup tampan. Kaki baju yang keluar pertanda pria di sampingnya cukup brandal.
"Lo kan yang nabrak saya tadi?" tanya Asa akhirnya.
Pria bernama Mark tersebut mengernyitkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Lo kenal sama gue?"
"Iya, lo tadi pagi yang nabrak gue di sini. Lo bukannya minta maaf malah nyalahin gue," jawab Asa tanpa rasa takut.
"Lalu? Gue harus minta maaf? Aneh pengen banget dihargai," gumam Mark.
"Bukan mau dihargai apalagi nerima permintaan maaf! Gue cuma mau meluruskan sesuatu. Tadi yang nambrak itu lo."
"Gunanya?" tanya Mark cuek.
"Ya gunanya biar gue nggak jelek di mata lo, palagi kita sekesal," lirih Asa.
Asa membernakan ucapan Mark, untuk apa dia meluruskan sesuatu? Padahal mau siapa yang salah sebenarnya tidak berguna.
"Menarik," cetus Mark dan meninggalkan Asa di depan pagar.
Pria itu memasuki mobil hitam lumayan mewah, bisa dibilang pemiliknya punya banyak uang.
Sepeninggalan Mark Asa menepuk keningnya bodoh.
"Bisa-bisanya aku konyol banget. Ada apa sih sama kamu Sa?" tanyanya pada diri sendiri.
"Asa?" Panggil Fely yang baru saja datang dari penjual pop ice di seberang jalan.
"Tadi kan ya pas aku beli pop ice, tiba-tiba Altair datang ngasih uang ke penjualnya dan nerakhir semua yang beli di sana. Baik banget ya dia? Selain tampan dia dermawan juga."
__ADS_1
"Modus," gumam Asa yang tahu betul Altair tidak sedermawan itu.