
Asa celingak-celinguk di depan pagar sekolah untuk mencari keberadaan mobil Altair yang katanya susah tiba beberapa menit yang lalu.
Gadis itu mengerutkan keningnya sebab matahari sangat terik, angin yang berhembus pun lumayan panas di kulit Asa.
Hembusan nafas beberapa kali terdengar dari gadis itu. Sebentar lagi ayah Samuel akan datang menjemputnya, jika Altair tidak datang maka Asa tidak akan punya kesempatan di lain waktu.
"Nungguin siapa?" tanya Mark langsung merangkul pundak Asa. Bersikap seolah-olah tidak menyukai gadis itu padahal jantungnya selalu tidak terkendali jika berdekatan dengan Asa.
Jika dulu Mark mendekati Asa karena sebuah nilai, maka kali ini berbeda. Selain ingin melindungi gadis sebaik Asa, ia juga mencintainya. Meski sadar untuk memilikinya sangat sulit.
"N-nunggu jemputan." Asa memindahkan tangan Mark di pundaknya. Takut Altair melihat dan malah terjadi perkelahian.
"Sama gue aja kuy, hari ini bawa mobil sendiri. Gue jamin lo bakal pulang ...."
"Minggir!" Suara bariton dari arah belakang membuat Asa dan Mark sedikit terkejut.
Keduanya menoleh dan mendapati Altair tengah bersedekap dada sambil menatap tajam Mark. Pria itu telat datang karena mengerjai ayah Samuel di jalan.
"A-altair?"
"Ayo Sayang!" Menarik tangan Asa agar menjauhi Mark.
Sementara Mark dengan sigap menarik tangan kanan Asa agar tetap di tempatnya.
"Jangan ikut sama dia, Sa! Dia tuh cowok brengsek!" Cegah Mark.
__ADS_1
"Ngomong apa lo, hah?"
"Gue ngomong apa adanya, anji*ng! Gue nggak suka kalau lo cuma permainin perasaan Asa!" Mark tidak kalah sangarnya, membalas mata elang Altair tanpa rasa takut.
Keduanya saling melempar tatapan tajam, hingga akhirnya terputus karena Asa milih berdiri di tengah-tengah mereka.
Asa berdiri membelakangi Altair, dengan artian sedang menghadap Mark.
"Mark, maaf ya gue nggak bisa pulang sama lo. Tenang aja, gue bakal baik-baik aja sama Altair. Makasih udah peduli."
Asa membalik tubuhnya lalu menarik tangan Altair yang terkepal menuju mobil Van yang baru saja berhenti, entah dari mana kak Jihadi sehingga tidak datang bersama Altair.
Gadis itu duduk anteng di dalam mobil, sementara atensinya menatap Mark yang masih membeku di tempatnya.
"Jangan diliat lagi!" Altair mengembungkan pipinya. Menghalangi penglihatan Asa dengan wajah tampannya.
"Jangan jutek-jutek Sayang." Altair mencuri kecupan di kening sebelum akhirnya menarik kepala Asa agar bersandar di pundaknya.
Karena Asa menolak, Altair sedikit menekan kepala Asa agar tetap pada posisi yang ia inginkan.
"Aku nggak nyaman Altair!"
"Ya dinyamanin aja Sayang."
"Dinyiminin iji siying," cibir Asa.
__ADS_1
Meski begitu tetap anteng pada posisisnya karena merasa nyaman, menikmati perjalanan. Entah Altair akan membawa Asa kemana.
"Mau ngomong apa? Kamu beneran mau nerima perjodohan itu?" tanya Asa akhirnya.
"Itukan yang kamu mau? Kalau aku nerima perjodohan kamu bakal bahagia karena dapat kasih sayang, om Samuel. Kamu lebih milih kasih sayang palsu dibandingkan aku yang tulus sama kamu." Altair senyum kecut.
"Aku bakal nerima perjodohan tapi jangan paksa aku buat cinta sama Ayana, dan jangan salahkan aku kalau dia menderita setiap harinya!"
"Altair?" Asa mendongak, sedikit keberatan akan kalimat terakhir Altair.
Namun yang dipanggil malah mengambil kesempatan untuk melu*mat bibir mungil tersebut. Membuat pemilik bibir tersipu malu, belum lagi Jihadi yang berada di jok belakang.
Dengan sigap Asa mendorong dada Altair agar menyudahi peng*utan yang sayangnya terasa sangat manis. Seakan Altair baru saja memberinya sebuah permen.
Pipi Asa memerah, ia seketika lupa akan mengucapkan apa pada Altair.
"Minum dulu." Altair memberikan botol minum yang tinggal setengahnya.
Asa meneguknya hingga tandas sebab tenggorokannya mengering tiba-tiba.
Beberapa menit setelahnya Asa merasakan kantuk yang tak tertahankan, hingga akhirnya menutup mata dalam dekapan Altair.
"Sesuai rencana," ucap Altair pada Jihadi.
Pria yang berada di jok belakang menganggukkan kepalanya, memberikan arahan pada sopir untuk membawa mobil ke sebuah tempat yang lumayan terpencil, tapi bisa ditempuh dengan mobil.
__ADS_1
Ini semua Altair rancang jauh-jauh hari setelah mempertimbangkan pekerjaan dan Asanya.