Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 83 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Asa duduk termenung di depan cermiin. Dia telah siap dengan seragam sekolahnya, tapi tidak jadi berangkat karena larangan bunda Ara dan ayah Samuel.


Itu semua karena Asa mudah lelah dan sering pingsan secara tiba-tiba. Terlebih lagi Altair tidak ada di sekolah.


Gadis itu memandangi pantulan dirinya pada cermin, mengerai rambut sebahunya tanpa senyuman.


"Apa aku harus nyerah, atau berkorban?" gumam Asa pada dirinya sendiri.


Dia tengah memikirkan pembicaraanya dengan ayah Samuel semalam. Siang nanti adalah waktu terakhir dia memberikan jawab pada ayahnya.


Sebenarnya ayah Samuel tidak memaksa, tapi Asa lah yang kepikiran tentang pembicaraan tersebut.


Gadis itu memejamkan matanya dengan tangan mengepal. "Apapun asal aku bisa sembuh dan hidup sama bahagia sama Altair," ucapnya meyakinkan diri.


***


Meski tubuh tak sekuat dulu, itu tidak membuat senyuman di wajah Asa memudar begitu saja. Gadis cerita itu tetap terlihat ceria.


Menutupi wajah pucatnya dengan liptin dan bedak tipis-tipis.


Sore ini Asa ada rencana untuk menemui Altair di apartemen. Ingin membicarakan sesuatu yang sangat serius. Sesuatu yang mungkin akan membuat hubungan mereka sedikit rengang.


Asa berharap setelah mengatakan semuanya, Altair tidak marah ataupun kecewa akan keputusan yang dia ambil.


Gadis itu terus berjalan menapaki anak tangga, menghampiri ayah dan bundanya yang berada di ruang keluarga.


"Cantik banget putri bunda, mau kemana?" tanya bunda Ara.


"Asa mau ke rumah Altair Bunda, Asa mau pamit," ucapnya dengan senyuman.


Mendengar hal itu, Samuel langsung bangkit dari duduknya.


"Ayah antar," ucap pria paruh baya tersenyum


Entahlah, tapi setelah insiden masuknya Asa ke rumah sakit, Samuel seakan selalu siap mengawal putrinya kemanapun. Mungkin karena dia melihat Asa jatuh pingsan dengan mata kepalanya sendiri, padahal gadis itu tampak baik-baik saja.


"Tunggu, ayah ambil kunci mobil dulu."


Asa mengangguk ragu, melirik bundanya yang senyum-senyum sendiri setelah kepergian ayah Samuel.

__ADS_1


"Cie ada yang senang ayahnya perhatian."


"Apasih Bun."


"Gemes banget putri bunda." Menjawil hidung Asa. "Bunda tuh senang banget liat sikap ayah sekarang. Lebih perhatian sama kamu, nggak pernah pilih kasih lagi. Kalau beli sesuatu pasti buat kalian berdua."


"Asa juga senang. Asa ...."


"Ayo!"


"Dah Bunda!" Melambaikan tangannya tanpa melanjutkan ucapan yang baru saja dipotong oleh ayah Samuel.


Gadis itu mengikuti langkah lebar ayahnya menuju garasi, masuk lebih dulu di jok samping kemudi. Menunggu ayah Samuel memeriksa kondisi mobil apa ada kendala atau tidak.


"Ayah mau nganter Asa sampai di apartemen Altair? Masuk ke ...."


"Nggak, ayah percaya sama kalian berdua."


"Makasih ayah." Tersenyum lebar.


Hati Asa selalu saja berbunga-bunga ketika ayah Samuel menyahuti setiap perkataanya tanpa ada nada kesal ataupun ketus.


Lama Asa menikmati jalanan sore bersama ayah Samuel, bahkan sedikit menemui drama macet hingga akhirnya sampai di tempat tujuan.


Asa mencium punggung tangan ayahnya sebelum turun dari mobil.


"Ayah mau nunggu atau langsung pulang?" tanya Asa.


"Nanti pulangnya minta dianter sama Altair ya? Ayah ada urusan sama om Azka. Tapi kalau Altairnya nggak mau anter pulang, telpon ayah."


"Siap komandan." Memberikan hormat sebelum turun dari mobil.


Berjalan sambil bersenandung ria menyusuri lobi apartemen. Berusaha setenang mungkin dan terlihat bahagia agar orang-orang disekitarnya ikut bahagia.


Asa langsung membuka pintu apartemen Altair tanpa izin. Mengendap-endap pada ruangan yang temarang cahaya. Ia meraba dinding Apartemen hingga menemukan saklar.


Matanya menyipit karena lampu tiba-tiba menyala. Apartemen tersebut sangat sunyi seakan tidak ada kehidupan.


Tidak mungkin kan Altair belum pulang? Asa sudah bertanya pada Jihadi sebelum berkunjung tadi. Katanya Altair ada di apartemen.

__ADS_1


"Altair?" panggilnya terus berjalan menuju kamar.


Mendorongnya perlahan dan tersenyum melihat kekasihnya ternyata tidur di ranjang.


Asa menelan salivanya, pipinya memanas seiring darah berdesir melihat pemandangan sangat memanjakan mata. Altairnya tidur tengkurap tanpa memakai baju, sehingga otot-otot tubuhnya terlihat jelas.



"Itu sampai bawah?" gumam Asa. Langkahnya seakan berat untuk memasuki kamar.


"Altair?" panggil Asa sekali lagi, tanpa bergerak di tempatnya.


Yang dipanggil bergeming, berusaha mengenali suara yang baru saja memanggil namanya. Suara yang begitu candu dan selalu ingin dia dengar setiap detiknya.


"Mimpi nggak sih?" gumam Altair, hendak kembali memejamkan mata, tapi urung saat merasakan lengannya dicubit.


"Altair?"


"Asayang?" Langsung berbalik, hingga selimut melorot dan memperlihatkan boxer yang dia kenakan.


"Hiyaaaaaaaa, kamu habis ngapain Altair? Itunya kok mengembung?" tanya Asa memekik. Memebalik tubuhnya.


Sementara Altair malah tertawa, menarik pinggang Asa hingga terjerambah di tempat tidur. Gadis itu belum membuka matanya, terlebih helaan nafas Altair menerpa wajahnya dengan hangat.


"Ja-jangan macem-macem Altair, ayah bisa potong itu kamu!" ucapnya sedikit ketakutan.


"Nggak bakal lah, ntar malam pertamanya nggak seru dong."


"Hah?" Membuka matanya hingga tatapannya terkunci oleh manik tajam Altair.


Sungguh Asa tidak bisa mengendalikan jantungnya, terlebih melihat rambut acak-acakan dan perut Altair. Pria itu berada di atas tubuhnya.


"Ngapain, hm?"


"Ngapain apa?"


"Bangunin aku?" tanya Altair.


"O-oh itu, aku bawa kabar baik buat kita, tapi aku bakal cerita kalau kamu udah minggir!"

__ADS_1


__ADS_2