Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 82 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu sejak Asa masuk rumah sakit. Kondisi gadis itu tidak bisa dikatakan buruk ataupun membaik meski alat ventilator telah dilepas dari tubuhnya.


Hari ini Asa akan pulang kerumah, bukan karena keinginan dokter, tapi rengekan Asa yang mulai jenuh berada di rumah sakit.


Gadis itu merasa terbenani dengan dirinya ada di rumah sakit. Apalagi jika harus melihat ayah Samuel, bunda Ara dan Altair sibuk mengurusnya silih berganti. Asa tidak ingin merepotkan orang-orang tersayangnya.


Senyuman Asa mengembang ketika mobil berhenti tepat di depan rumahnya, gadis itu hendak turun, tapi dicegah oleh ayah Samuel.


Awalnya Asa bingung, tapi detik berikutnya merasa senang karena ayah Samuel memapahnya memasuki rumah, sementara bunda Ara membawa obat di tanganya.


Jikapun tidak bisa sembuh, setidaknya Asa ingin berada di rumah. Menghabiskan waktu bersama keluarganya.


"Kak Asa!" pekik Ayana. Gadis itu langsung memeluk kakaknya, tapi tidak terlalu erat karena teguran ayah Samuel.


Selama Asa berada di rumah sakit, Ayana hanya berkunjung dua kali saja. Itu karena fisik Ayana terlalu lemah jika menyangkut rumah sakit. Bisa dibilang, virus akan langsung menempel di tubuh Ayana jika berada di rumah sakit.


"Aya, udah meluk kakaknya! Asa harus duduk!" tegur Samuel.


"Ish ayah nyebelin." Ayana meregut, meski begitu tetap saja menjauh dari Asa yang hanya melempar senyum.


Samuel langsung membawa Asa menuju kamar, membimbingnya sepelan mungkin. Harus kalian tahu, selama Asa berada di rumah sakit, yang paling sibuk adalah ayah Samuel.


Pria paruh baya itu sibuk mencari dokter dan rumah sakit yang bisa menyembuhkan penyakit putrinya tanpa pencangkokan.


"Ayah, jangan terlalu manjain Asa," ucap Asa setelah duduk di pinggir ranjang. "Asa masih bisa jalan, Asa nggak lemah."


"Ayah tau." Samuel tersenyum tipis, ikut duduk di sisi ranjang.


Memperhatikan wajah pucat putri sulungnya. Sebenarnya Samuel mendapatkan peluang untuk kesembuhan putrinya, tapi pria paruh baya itu tidak yakin akan keputusan Asa.


"Asa beneran mau sembuh?" tanya Samuel setelah lama terdiam.


Asa yang ditanya langsung menganggukkan kepalanya. "Asa pengen sembuh Ayah. Asa nggak mau nyusahin kalian. Asa mau hidup lebih lama sama kalian."


"Kamu siap kehilangan, Nak?"

__ADS_1


"Mak-maksud Ayah?" Kening Asa mengkerut, bingung akan pertanyaan ayahnya.


Ayolah siapa yang ingin kehilangan? Semua orang yang ada di dunia ini tidak ingin kehilangan apapun dalam hidupnya.


"Pada dasarnya kita harus berkorban buat mendapatkan sesuatu yang mungkin jauh lebih berharga Nak. Kalau Asa mau berkorban sedikit aja dan bertahan, mungkin Asa bisa sehat lagi," ucap Samuel.


Pria itu hanya menunduk sambil meremas tangan putrinya. Semua keputusan ada pada Asa.


"Asa harus kehilangan apa, Yah?"


"Waktu bersama orang yang kamu sayangi."


***


Mendengar Asa keluar dari rumah sakit secara mendadak, sungguh membuat Altair sedikit kesal. Pria itu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan kekasihnya.


Altair tidak ingin mengulang momen di mana Asa tidak bisa bicara dan hanya menangis saja. Altair benci situasi saat Asa pertama kali terbaring di rumah sakit.


Pria itu langsung menuju rumah orang tua Asa setelah pulang sekolah. Menghiraukan beberapa panggilan Jihadi yang menyuruhnya ke angesi untuk latihan.


"Di mana Asa?" tanya Altair pada Ayana yang kebetulan dia temui.


"Ada di taman belakang sama ayah dan bunda," jawan Ayana.


Tanpa mengucapkan terimakasih, Altair melangkahkan kakinya menuju taman. Tersenyum melihat senyuman ceria Asa bersama ayah dan bundanya.


"Apa aku bisa liat senyum itu sampai tua nanti?" batin Altair penuh keraguan.


"Asa?" panggil Altair di ambang pintu.


Ayah Samuel dan bunda Ara lantas menoleh, segera berdiri melihat tunangan putrinya.


"Cie tunangannya datang," ledek bunda Ara.


"Apasih Bun, suka banget godain Asa." Asa tersipu malu. Terlebih tadi sebelum kedatangan Altair, ayah Samuel juga sempat menggodanya.

__ADS_1


Altair mendekati Asa setelah berbasa-basi dengan kedua orang tua gadis itu. Duduk di ayun-ayunan tepat di samping Asa.


"Pasti keluar paksa kan? Kok makin hari kedewasaanya hilang?" tanya Altair dengan nada kesal.


Tatapan pria itu hanya tertuju pada taman mini yang terdapat beberapa kupu-kupu di atas bunga. Berbeda dengan Asa yang menatap wajah Altair sangat dalam.


Tanpa diminta, Asa memeluk lengan Altair. Menyandarkan kepalanya di pundak pria yang kini menjadi tunangannya.


"Jangan kesal gitu, aku pulang karena mau berduaan sama kamu. Kita bisa ke sekolah bareng, jalan bareng dan ...."


"Aneh," guman Altair.


"Apanya yang aneh sih? Harusnya kamu senang aku pulang Altair. Kamu nggak perlu repot-repot datang kerumah sakit. Nggak harus tidur tengah malam karena jagain aku."


"Asa plis, jangan buat aku makin kesal!" pinta Altair mengepalkan tangannya.


"Cie ngambek. Sini cium dulu."


"Asa!" bentak Altair, membuat Asa sedikit tersentak.


"Aneh banget deh, dulu nyuruh aku manja. Sekarang aku manja malah kesal. Aku cuma mau ngabisin waktu sama kamu Altair, apa salah?"


"Cara kamu salah!"


"Ya udah, maaf," ucap Asa. "Pinjam pundaknya ya, aku capek," lanjutnya. Memejamkan mata menikmati angin sore di belakang rumahnya.


Tangan Asa meremas tangan Altair yang terkepal.


"Aku sayang banget sama kamu Altair. Aku nggak mau kehilangan kamu. Jangan marah-marah terus, ntar cepat tua loh."


"Maaf, udah emosi," ucap Altair setelah lama terdiam. Mengecup rambut Asa cukup lama.


"Nggak papa, udah biasa kok."


"Kalau gitu jangan pergi tanpa pamit ya? Kalau mau pergi, harus pamit baik-baik sama aku. Kalau aku nggak ngebiarin, maka kamu nggak boleh pergi!" cetus Altair.

__ADS_1


__ADS_2