Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 16 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Asa, gadis itu sangat terkejut saat membuka pintu, tubuhnya langsung dipeluk oleh seseorang. Ia tidak pernah menyangka bahwa Altair benar-benar menunggunya di balik pintu.


Dia mengerjap perlahan merasai suhu tubuh Altair yang sedikit hangat, jiwa kakak dalam hatinya seketika muncul di permukaan.


Asa menutup pintu apartemen, membuka topi dan maskernya dengan sebelah tangan, berbeda dengan Altair yang masih saja memeluk layaknya anak yang sangat merindukan mamahnya.


"Altair lepas dulu!" pinta Asa tapi dijawab gelengan oleh pria tampan tersebut.


Asa berjalan menuju sofa masih dengan Altair memeluknya. Duduk secara perlahan, untung saja Altair bisa meposisikan diri tidak menindihkan.


"Kangen banget," gumam Altair.


"Badan kamu hangat."


"Iya efek rindu."


"Altair!"


Asa mencebik melihat Altair menatapnya dari bawah, mata pria itu sayu seakan sangat mengantuk.


"Aku kesal tapi kangen sama kamu," rengeknya.


Kening Asa seketika mengerut, apa yang membuat Altair kesal padanya? Bukankah yang seharusnya kesal adalah Asa? Karena Altair pamer perut seksi di panggung.


"Aku buat salah apa lagi?"


"Kamu kan yang beri Ayana kontak pribadi aku? Sa, aku tuh nggak suka ada yang chat selain kamu! Yang tau kontak pribadi aku cuma kamu sama mamah dan papah!" omel Altair masih saja manja pada Asa.


Pria itu menempel layaknya tokek di tubuh Asa, menyembunyikan wajah di ceruk leher gadis yang entah menjadi apanya.


Teman, tapi Altair cemburu jika Asa dekat dengan pria manapun. Pacar? Mana pernah Altair menembak Asa? Hubungan keduanya sangat abu-abu, anehnya bertahan hingga sekarang.


Altair kembali menatap Asa yang hanya diam.

__ADS_1


"Nggak ikhlas nemuin aku?"


Asa mengeleng.


"Terus?"


"Dada aku sesak kamu meluk kayak gini Altair!" Mendorong tubuh Altair cukup kuat setelah mengumpulkan tenaga. Pria itu sampai terjungkal ke sisi sofa.


"Lagian kenapa kalau aku ngasih kontak kamu ke Ayana? Dia sepupu kamu juga kan? Bedanya sama aku apa?"


"Bedalah Yang, aku kan suka sama kamu."


"Ikikin siki simi kimi," cibir Asa beranjak dari duduknya, diikuti Altair seperti anak ayam.


Bahkan saat Asa berjalan memasuki kamar, Altair masih saja ikut, duduk di sisi ranjang, membiarkan Asa membongkar laci yang berada di bawah Tv.


"Minum obat dulu," ucap Asa membawa obat pereda demam dan sebotol air minum, padahal Altair tidak merasa demam sama sekali. Hanya suhu tubuh yang naik beberapa derajat.


"Nggak mau." Mengeleng dengan bibir manyunnya.


"Nahkan bayi aku pintar, sini peluk lagi." Merentangkan tangannya lebar-lebar, hingga dengan senang hati Altair memeluk Asa. Menenggelamkan kepalanya tepat diperut gadis itu.


Tangan Asa terus bergerak di kepala Altair. Memanjakan adik sepupunya bukanlah hal baru untuk Asa, ya meskipun kedekatan keduanya tidak diketahui oleh siapapun.


Baik Altair ataupun Asa tidak pernah menceritakan diri satu sama lain pada orang tua. Katanya sepupu adalah keluarga yang tidak bisa dinikahi, apalagi jika dari pihak ayah.


Namun, pada kenyataanya ada beberapa yang membolehkan, apalagi Asa dan Altair hanya sepupu dua kali.


"Besok sekolah?"


"Hm."


"Udah hampir jam 10, aku pulang ya? Takut ditungguin sama ayah," izin Asa.

__ADS_1


Altair mengeleng, mendongak untuk menatap Asanya.


"Kenapa sih kamu kayak takut banget sama om El? Dia kan sayang sama kamu dan Ayana."


"Justru karena ayah sayang sama aku. Aku harus nurut biar dia nggak marah. Nggak ada ayah yang bakal tenang kalau anak perempuannya pergi sendirian di atas jam 10 malam."


"Aduh bijak banget sih, Asanya Air. Idaman banget buat jadi ibu."


"Benarkah?" Pipi Asa bersemu merah, mendorong kepala Altair lalu membalik tubuhnya.


Sungguh kebahagian Asa ada pada Altair.


"Udah makan belum?"


"Nunggu kamu Sayang," sahut Altair.


Pria itu beranjak dari duduknya, lalu mengambil ponsel di atas meja. Setelah memeluk Asa, mood Altair membaik. Mood yang hancur sebab ulah Ayana yang terlalu memaksakan kehendak, mood yang tiba-tiba rusak tahu ada seorang gadis yang memiliki nomornya selain Asa.


Altair benci orang yang ingin mengambil dirinya dari Asa, apalagi jika harus melakukan dengan berbagai cara menjijikkan.


"Besok aku bakal ketemu adik kamu," cetus Altair.


Asa lantas membalik tubuhnya menghadap Altair.


"Aku tau."


"Nggak marah, atau cemburu gitu? Aku bakal nemuin Ayana loh. Aku bukan nemuim fans."


"Ya nggak papa Altair! Ayana adik aku, jadi nggak masalah. Kita juga kan cuma teman yang saling melengkapi." Asa tersenyum lebar.


Berbeda dengan Altair yang tampak cemberut.


"Aku mau lebih dari teman Asa!"

__ADS_1


"Sahabat?"


"Lebih dari itu! Gimana kalau pacar?"


__ADS_2