Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 12 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Kening Asa mengerut ketika keluar dari kamar mandi sudah tidak mendapati Ayana di tempat tidurnya, karena merasa lapar, gadis itu segera membereskan ranjang, menyimpan laptop dan buku lalu hendak keluar kamar.


Namun, saat akan menarik knop pintu, benda tersebut telah di dorong dari luar. Menampilkan wajah cantik yang hampir mirip dengannya.


"Mata bunda kok merah?" Itulah pertanyaan pertama Asa ketika berpapasan dengan bundanya di depan pintu. "Bunda habis nangis?"


"Iya."


"Kok bisa? Bunda kesakitan? Kenapa nggak ngomong sama Asa? Asa pasti jagain Bunda dan ...."


Asa segera mengatup bibirnya ketika Ara mendesisi jahil.


"Anak cerewet, bunda nangis karena habis iris bawang. Siapa coba yang bakal buat bunda nangis hm? Ayah, Ayana, Asa? Mereka sayang sama bunda." Ara memperlihatkan senyuman terbaiknnya.


Mengelus rambut sebahu Asa penuh kasih sayang. Kalau memang Samuel membenci putrinya, maka Ara akan melimpahkan Asa kasih sayang seorang diri agar tidak merasakan ketidak adilan di dalam rumah.


Melihat senyuman Ara membuat hati Asa menghangat seketika. Asa berjanji tidak akan menyakiti keluarganya, jika harus merelakan kebahagiaan atau nyawanya, Asa rela asalkan untuk orang tersayangnya.


"Udah makan? Obatnya udah diminum?" Ara mengingatkan.


Lantas Asa mengelengkan kepalanya sambil menyengir. "Asa belum minum obat dari pagi, Bun. Asa lupa bawa ke sekolah," ucapnya.

__ADS_1


"Memangnya Asa sakit apa sih sampai harus minum obat tiap hari? Tau nggak Bun, Asa tuh bosan minum obat terus tanpa tau sakitnya apa." Keluh Asa.


Minum obat selama beberapa tahun nyatanya membuat Asa terbebani, terlebih dia tidak tahu apa sebenarnya penyakit yang dia derita. Ara tidak pernah menceritakan apapun.


"Kak Asa!" Pekikan dari lantai bawah membuat atensi dua perempuan cantik tersebut teralihkan.


Ara dan Asa tersenyum melihat Ayana berlari sambil membawa paper bag berukuran sedang di tangannya.


Setelah sampai, Ayana menyerahkan paper bag tersebut pada Asa dengan raut wajah bahagia.


"Ini apa?" tanya Asa dengan kening mengkerut.


"Ayana juga nggak tau kak, tapi kayaknya dari pacar atau pengemar diam-diam kakak deh. Uh romantis banget sih, sampai ngirim keperluan cewek," ucap Ayana yang sempat mengintip isinya sedikit.


"Aduh putri bunda udah ada pengagum aja. Tapi paketnya diperiksa nanti aja ya, kalian makan dulu keburu sakit perut," lerai Ara yang sangat mendahulukan kesehatan sebab dia adalah seorang dokter berspesialis bedah.


Ayana dan Asa lantas mengangguk. Asa meletakkan paper bag yang entah dari siapa di atas ranjang, lalu menyusul ke lantai bawah.


Senyumnya mengembang melihat ayah Samuel berada di dapur memegang segelas kopi yang dibuat sendiri.


"Kenapa Ayah nggak panggil Asa untuk buat kopi? Harusnya Ayah duduk dan nunggu dihidangkan aja," ucap Asa.

__ADS_1


"Ayah bisa sendiri," jawab Samuel, kemudian berlalu.


Hanya sahutan itu yang Asa dapati, tapi perasaanya langsung menghangat tanpa tahu tatapan sang bunda yang menyorot tajam pada Samuel sehingga pria paruh baya itu terpaksa berucap.


"Tuh dengar ayahnya bisa buat kopi sendiri, nggak usah di manja," celetuk Ara.


"Tapi Asa mau jadi anak yang berbakti sama orang tua, Bunda."


Asa dan Ayana duduk di meja makan, menikmati hidangan yang telah dibuat oleh Ara sejak siang tadi.


Di luar masih hujan tapi sudah tidak terlalu lebat. Namun, tetap saja rasa dingin masih menusuk hingga tulang-tulang.


"Kak Asa, tadi aku chat kak Altair tapi nggak dibalas demi apa," cemberut Ayana.


"Mungkin sibuk Dek, kan lusa ada konser. Dia lagi latihan buat ketemu istri-istri halunya."


"Hehehhe, benar juga." Cengir Ayana kembali fokus pada makanannya.


Berbeda dengan Asa yang jantungnya kian tidak normal setiap kali Ayana membahas tentang Altair.


Asa berharap Ayana menyukai Altair hanya sebatas fans pada Idolanya, karena Asa tidak tahu hidupnya akan bagaimana jika Altair telah berpaling.

__ADS_1


Air milik Asa selama-lamanya


Kalimat Altair berputar beberapa kali di kepala Asa, membuat hati yang tadinya gusar perlahan membaik.


__ADS_2