Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 38 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Deringan telpon terus saja terdengar silih berganti di dalam kamar, tapi itu tidak menganggu fokus Asa yang tengah duduk sambil melamun di kaki ranjangnya.


Gadis itu memeluk lututnya tanpa ada keinginan untuk bersiap-siap ke sekolah. Sudah terhitung dua hari ini Asa hanya mengurung diri di kamar dengan alasan sibuk belajar dan membaca novel.


Bahkan gadis itu tidak menerima atau membalas pesan dari siapapun. Asa lebih sering mengunci pintu kamarnya, hanya membuka jika bunda ataupun Ayana berkunjung, itupun Asa harus bersandiwara bahwa semuanya baik-baik saja.


"Asa, udah jam 7 Nak? Kamu baik-baik aja? Ada yang sakit atau semacamnya?" tanya bunda Ara di balik pintu, gadis itu tidak bisa masuk seperti biasa karena Asa mengunci kamarnya.


Wanita paruh baya itu tersenyum lega ketika Asa membuka pintu dengan senyuman manis yang selalu diperlihatkan. Senyuman yang tidak mampu di raba oleh siapapun untuk melihat luka di dalamnya.


"Asa telat bangun Bun, ini baru mau mandi."


"Ya udah bunda tunggu di bawah ya, kita sarapan sama-sama. Adik sama ayah kamu udah berangkat baru aja."


Asa mengangguk, hendak kembali menutup pintu. Namun, urung ketika sesuatu terlintas di pikirannya.


"Bunda?" panggil Asa, membuat wanita telah membalik tubuhnya kembali menatap Asa.


"Misalnya Asa nggak minum obat yang bunda kasi, Asa bisa meninggal?"


"Asa!"


"Asa cuma nanya Bun, biar lebih semangat minum obatnya," cengir Asa tanpa dosa.


Berbeda dengan bunda Ara yang tampak gelisah mendapati pertanyaan keramat seperti itu dari Asa. Tatapannya tak kunjung surut pada wajah manis yang masih tersenyum.

__ADS_1


"Obatnya diminum sesuai jadwal, awas aja nggak minum bunda bakal marah sama Asa!"


"Nggak janji Bunda," batin Asa, memandangi punggung bundanya yang menghilang di balik pintu.


Jika tidak meminum obat bisa membuatnya menghilang dari dunia, maka Asa akan mencobanya. Mungkin pergi akan lebih baik agar tidak merasakan sakit melihat adiknya akan bersanding dengan pria yang dia cintai.


Lagi pula umurnya sudah pasti tidak lama lagi.


***


Baru saja Asa memarkirkan motornya, dua sosok yang selalu membuat Asa tersenyum telah datang sambil berdebat. Siapa lagi jika bukan Fely dan Mark.


"Kangen banget demi apa padahal berpisahnya cuma karena hari sabtu dan minggu," cengir Fely merangkul lengan kiri Asa.


Kali ini tidak ada penolakan dari gadis tersebut, mungkin karena melihat seseorang yang berdiri di lantai dua sambil bersedekap dada.


Orang itu adalah Altair, pria yang Asa ingin jauhi mulai hari ini dan seterusnya. Altair tengah mengepalkan tangannya melihat Mark merangkul kekasihnya terang-terangan.


"Pengen mati tuh anak meluk-meluk pacar aku!" geram Altair. Melangkah dengan kaki panjangnya ke lantai bawah untuk menghampiri ketiga manusia yang telah membuatnya kesal pagi-pagi.


Termasuk Asa yang tidak pernah menjawab panggilan ataupun membalas pesannya.


Langkah Altair berhenti ketika berpapasan dengan Asa, Fely, dan Mark masih posisi yang sama. Ia menyentak tangan Mark kasar tanpa bicara.


"Aku mau bicara!" ucap Altair lalu pergi.

__ADS_1


Hal itu membuat Fely dan Mark saling pandang.


"Dia ngomong sama siapa sih? Dasar aneh," celetuk Mark.


"Asa mungkin?" sahut Fely.


"Bukan aku kayaknya, ayo kita ke kelas!"


Jika tadi Mark dan Fely yang merangkul lebih dulu, maka sekarang Asalah yang bernisiatif.


Mungkin membuat Altair membencinya adalah pilihan yang tepat untuk kebahagiaan semua orang.


"Mark lo duduk sama Altair ya, gue duduk sama Fely!"


"Nggak! Gue duduk sama lo! Nggak mau gue diketusin sama Idol sombong itu," sahut Mark mengambil tempat duduk di samping Asa.


Sedangkan Fely merengut. "Mark! Jangan ngatain Altair sombong ih! Dia itu idola aku! Dia tampan banget, tapi lebih tampan kamu karena bisa digapai," cengir Fely mengigit bibir bawahnya menggoda.


Asa tertawa, berebeda dengan Mark yang bergidik ngeri melihat ekspresi Fely.


"Minggir!" Suara dingin itu terdengar, tapi baik Asa dan Mark tidak ada yang terganggu, sibuk menunduk. Mengerjakan tugas masing-masing.


Sebenarnya Mark tidak tahu apa-apa, tapi ikut-ikutan apa yang dilakukan Asa.


__ADS_1


__ADS_2