
Sungguh telinga Asa telah penuh akan celotehan Fely yang terus bertanya kemana dan dengan siapa dia bermalam, tapi tidak sekalipun Asa membuka suara dan membocorkan sesuatu pada sahabatnya.
Apalagi sejak tadi ada Altair yang duduk di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya. Pria itu sesekali melirik Asa. Ingin rasanya Altair menghampiri Asa detik itu juga untuk meminta maaf atas kekacauan yang telah terjadi.
Sementara tatapan Asa sendiri tertuju pada pria yang sedang menyembunyikan kepalanya pada lipatan tangan, katanya pria itu adalah siswa pindahan yang entah dari mana, anehnya datang ke kelas hanya untuk tidur.
"Asa, jawab aku ih!" pinta Fely dengan bibir manyunnya.
Asa menghela nafas panjang. "Bermalam di rumah teman."
"Kamu punya teman selain aku?" Mata Fely membulat tidak terima. Asa tidak pernah bermalam di rumahnya dan malah bermalam di rumah orang lain, sungguh Fely sakit hati mendengarnya.
"Kamu udah nggak anggap aku teman ya? Oke, hubungan kita sampai di sini aja!" Beranjak dari samping Asa, membuat gadis itu menghela nafas panjang.
Asa mengusap wajahnya kasar, sangat susah menghadapi mood anak remaja berusia 16 tahun. Tidak Fely ataupun Altair, keduanya sangat menyebalkan untuk Asa.
"Fely!"
"Jangan ajak aku bicara!"
"Lo beneran nggak mau temenan sama Asa?" Suara merdu itu mengalung indah di telinga Asa maupun Fely yang tengah cemberut.
Suara itu berasal dari sudut ruangan. Pemilik suara semakin mendekat, menumpu tangannya di atas meja yang ditempati oleh Fely.
"Temenan sama Asa, maka lo bebas ketemu sama gue!" ucapnya.
__ADS_1
Bukan hanya mata Asa dan Fely yang membulat, kaum hawa yang berada di kelas itupun ikut melolot. Tanpa diucapkan dua kali, seluruh gadis yang ada di kelas menghampiri Asa.
"Asa hari ini kita temanan, gue bakal ngasih lo contekan, kalau ada yang nggak dimengerti lo boleh tanya ke gue," ucap ketua kelas sambil melirik Altair penuh senyuman.
Beberapa siswa mengangguk, menyetujui ucapan teman-temannya.
Sementara Asa, melirik Altair mematikan. Sudah gadis itu katakan agar Altair tidak memperlihatkan kode apapun tentang hubungan keduanya.
"Jangan bawa-bawa aku kalau mau dekat sama Altair, dekat aja sana!" ujar Asa dan meninggalkan kelas yang free untuk satu jam kedepan.
Tanpa sadar, Altair ternyata mengikuti Asa yang berjalan menuju roftop sekolah. Menarik tangan Asa agar bersembunyi di balik bangunan kecil yang entah apa kegunaannya.
Asa hendak berteriak tapi mulutnya dibungkam dengan cepat oleh Altair.
"Marah sama aku?"
Karena usia yang terlalu tua untuk ukuran siswa SMA, banyak yang menjauhi Asa. Mereka mengira Asa adalah gadis nakal dan bodoh sehingga tertinggal beberapa tahun dari anak sepantaranya.
Sedih? Tentu, tapi Asa tidak ingin larut di dalamnya. Mempunyai teman seperti Fely sudah cukup untuk Asa. Lagipula Asa tahu Fely tidak benar-benar marah padanya.
"Aku nggak mau kamu kesepian di sekolah Sa. Kalau aku nggak hadir di sekolah, kamu bakal sendiri dan ...."
"Kamu kasihan?"
"Nggak sama sekali!" sahut Altair penuh tekanan.
__ADS_1
"Ya udah kalau nggak kasihan jangan ikut campur urusan perteman aku Altair!" Gemes Asa menguyel-uyel pipi Altair.
Bukannya marah Altair malah tersenyum bahagia, sangat suka jika Asa memperlakukannya seperti anak kecil.
Keduanya tidak sadar kalau ada yang memotret mereka secara diam-diam.
Asa dan Altair memutuskan untuk bersandar pada bangunan kecil persegi empat yang ada di Rooftop. Tangannya saling mengenggam satu sama lain.
"Cantik banget deh kalau diliat dari samping," gumam Altair memandangi wajah Asa yang mengerutkan keningnya kerena silau matahari.
"Aku memang cantik, udah lupa?"
"Pede!"
"Kamu yang ngajarin." Asa tertawa. Saat-saat bahagia tentu hanya bersama Altair saja.
Gadis itu tersenyum lebar saat Altair menyandarkan kepalanya di pundak.
"Kenapa sih nggak mau hubungan kita lebih jauh dari sekedar sahabat?" tanya Altair yang berubah serius.
"Karena dunia kita berbeda Altair! Kamu seorang bintang, pasangan adalah kelemahan kamu. Mereka suka sama kamu karena tampan dan punya bakat. Sebagian pendukung kamu itu adalah kaum hawa. Mendengar kamu punya pacar mereka pasti kecewa banget."
"Tapi kan bisa sembunyi-sembunyi."
"Aku nggak mau ngerusak persahabatan kita. Pacaran ada kalanya kita cemburu karena udah beranggapan saling memiliki. Bertengkar berujung putus lalu asing? Aku nggak siap Altair," lanjut Asa.
__ADS_1
Gadis itu tidak ingin egonya merusak segalanya yang dia miliki untuk saat ini.