Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 45 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Setelah kepergian keluarga Altair, kediaman Asa sedang tidak baik-baik saja. Semua orang berada di kamar masing-masing tanpa menyapa satu sama lain.


Termasuk Asa yang bersandar di kaki ranjang sambil mengigit bibir bawahnya. Air mata terus mengalir tanpa diminta, dadanya terasa sesak mendapati tatapan dingin Ayah Samuel tadi.


Kasih sayang yang dia idam-idamkan sejak dulu mungkin tidak akan ia dapatkan lagi, terlebih Asa baru saja menyakiti hati adiknya karena pengakuan Altair yang tiba-tiba di depan keluarga.


Gadis itu menghapus air matanya kasar ketika sadar tidak harus berlarut-larut dalam kesedihan, ada banyak orang yang harus dia hibur di luar sana, terutama adik kesayangannya.


Ia berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat baik-baik saja meski sadar dirinya telah melakukan kesalahan besar karena mencintai pria yang dicintai oleh adiknya.


Ia menatap pantulan wajahnya dari cermin, berusaha tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.


"Aku nggak boleh nangis, aku harus hibur Ayana sekarang," gumamnya.


Gadis itu keluar dari kamarnya setelah merasa bisa mengendalikan diri. Mengetuk pintu kamar Ayana yang ternyata tidak dikuci oleh pemiliknya.


Karena tidak kunjung mendapatkan sahutan, akhirnya Asa langsung masuk, tercegang melihat kamar adiknya yang berantakan layaknya kapal pecah.


"Ayana?" panggil Asa lirih.


"Pergi kak Asa, aku nggak mau liat wajah kakak!" pekik Ayana dari sudut ruangan, melempar boneka tepat mengenai wajah Asa.

__ADS_1


Bukannya pergi, Asa malah berjalan mendekat. Ikut duduk di samping adiknya, memeluk sangat erat meski mendapatkan penolakan berulang kali.


"Maafin kakak karena udah buat kamu nangis Aya. Maafin kakak udah bohongin kamu selama ini," bisiknya.


"Kenapa kak Asa tega bohongin aku? Kenapa nggak ngomong kalau kak Altair suka sama kakak?" Ayana mendongak menatap Asa dengan mata memerah.


Sementara Asa membalasnya dengan senyuman. "Tapi kan kakak nggak suka sama Altair dek. Yang layak bersanding sama Altair itu kamu, bukan kakak. Jangan nangis gini dong, ntar cantiknya hilang." Mengusap air mata Ayana yang terus berjatuhan tanpa diminta.


Selain karena Ayah Samuel lebih mendukung Ayana, Asa juga memutuskan mundur sebab masalah kesehatan yang tidak memungkin bersama Altair.


"Perjodohan bakal tetap terjadi, percaya sama kakak. Kakak bakal bujuk Altair buat nerima kamu dek."


Pertama, merasa dibohongi oleh kakak yang sangat dia sayang dan percaya, kedua merasa mengkhianati kakaknya sendiri karena mencintai pria yang sama.


Meski sangat mencintai Altair, bukan berarti Ayana egois dengan merebut kebahagiaan kakaknya. Mungkin jika orang lain yang Altair suka, Ayana tetap ingin dijodohkan, tapi ini Asa, kakak yang sangat dia sayang.


"Aya marah bukan karena kak Altair nggak mau sama Aya," lirihnya. "Kakak pasti suka sama kak Altair kan? Aku nggak papa kalau kakak sama dia."


"Nggak Ayana, kakak tuh nggak cinta sama Altair."


"Beneran?"

__ADS_1


"Benar adekku Sayang." Asa kembali memeluk adiknya.


Asa baru meninggalkan kamar Ayana ketika adiknya mulai tenang, berjalan sesekali sambil menghela nafas panjang.


Gadis itu tengah menunduk memadangi ponselnya. Keputusan sudah bulat memutuskan hubungan dengan Altair. Ia memblokir kontak pria yang sangat dia cintai demi kebahagiaan semua orang.


"Aku harus minta maaf sama Ayah," gumamnya.


Ia melangkahkan kaki kecilnya menuju kamar utama, hendak mengetuk pintu tapi urung ketika mendengar suara pecahan kaca di dalam kamar tersebut.


Karena pintunya yang sedikit terbuka, Asa mengintip sedikit, sehingga bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi pada orang tuanya.


Bunda Ara melempar gelas yang ada di nakas sambil menatap nyalang ayah Samuel.


"Udah cukup Bang, jangan egois mikirin diri sendiri! Kamu nggak liat dan dengar apa yang dikatakan Altair hah? Mereka saling mencintai! Jangan pisahin mereka!" Ara terap pada pendiriannya untuk mempertahankan cinta Asa dan Altair.


"Aku nggak mau tau, Ayana dan Altair harus bertunangan ada atau nggaknya persetujuan dari kamu!"


"Abang mau Ayana dan Altair kayak aku dan kamu dulu hah? Saling menyakiti satu sama lain hanya karena perjodohan?"


"Cukup Ara! Kenapa kamu malah belain Asa terus padahal dia bukan putri kita?"

__ADS_1


__ADS_2