
Jika Asa dan Altair sedang sarapan pagi dengan penuh kehangatan dan cinta satu sama lain, maka berbeda di kediaman Samuel.
Meja makan tampak begitu mencekam, hanya ada dentingan sedok yang saling beradu dengan piring tanpa adanya pembicaraan.
Bahkan Ayana yang biasanya ribut dan bercerita banyak hal pada sang ayah, hanya terdiam menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh bunda Ara.
Gadis manis yang masih memendam rasa kecewa pada ayahnya itu segera bangkit setelah menghabiskan sarapan.
"Aya berangkat dulu bunda," ucap Ayana merain punggung tangan bunda Ara.
"Hati-hati Nak."
"Sama ayah aja berangkatnya!" Samuel ikut berdiri tanpa menghabiskan makanan.
Sejak semalam, Ayana belum mengajak pria paruh baya itu bicara. Di mana membuat Samuel sedikit merasa kehilangan ketenangan dalam hidupnya.
Belum lagi Ara yang ikut-ikutan dingin. Hanya bicara seperlunya saja. Bahkan wanita paruh baya itu memilih tidur di kamar Asa dan tidak lupa menguncinya rapat-rapat.
Kebingungan? Tentu Samuel merasakan hal tersebut. Belum lagi ia merasa sangat asing di rumahnya sendiri. Ternyata diacuhkan tidaklah menyenangkan.
"Aya bisa naik motor!" sahut Ayana dan berlalu pergi.
Hanya menyalami punggung tangan Samuel tanpa adanya embel-embel bercanda seperti biasa.
__ADS_1
Gadis manis itu melajukan motor warna pinknya membelah jalan raya yang masih lengang akan pengendara.
Malam itu, Ayana mendapat telpon dari Altair bukan hanya membeberkan apa yang dilakukan ayah Samuel. Melainkan melimpahkan semua kesalahan pada Ayana di mana membuat gadis itu menangis sesegukan di kamar.
Ayana mengusap air matanya yang mengalir tanpa diminta.
"Gara-gara ayah aku punya musuh di luar sana. Gara-gara aku kak Asa menderita," lirih Ayana. Sepanjang jalan gadis itu hanya bisa menangis.
Terlebih saat mengingat ketika ia memohon pada Altair, tapi pria itu engang memberitahukan di mana keberadaan Asa yang sebenarnya.
***
Tidak tahan diabaikan oleh istri tercinta, Samuel terus mengekori Ara kemanapun wanita paruh baya itu pergi.
"Maafin aku, jangan diamin terus, Ra!" bisik Samuel.
Ara membalik, mendorong tubuh Samuel agar menjauh darinya.
"Kesalahan kamu terlalu besar Bang! Aku nggak nyangka ternyata kamu selicik itu!" Menatap tajam suaminya.
Sepertinya ini adalah waktu yang pas untuk mengeluarkan semua unek-unek yang ada di hatinya.
"Kenapa kamu tega minta Asa buat jauhi Altair dengan balasan kasih sayang? Kenapa ngasih tau Asa tentang alasan kamu membencinya!" bentak Ara.
__ADS_1
"Aku kira kamu berubah karena kondisi Asa semakin parah dan sempat terbaring di rumah sakit. Nyatanya kamu malah tega membicarakan hal menyakitkan padahal dia belum sembuh sepenuhnya!"
Ara semakin mundur, engang unduk disentuh oleh Samuel yang berusaha menyentuh tanpa mengeluarkan suara.
"Senangkan sekarang Asa pergi dari rumah?"
"Ara?"
"Saat aku terpuruk karena luka yang kamu berikan, Asa yang menyembuhkan semuanya. Aku milih kamu pun karena Asa, tapi kenapa kamu tega nyakitin anak sebaik dia, Bang?"
Suara Ara kian bergetar, nafasnya mulai tidak terkendali karena berbicara sambil meneteskan air mata. Tidak ada yang tahu bagaimana sakitnya hati Asa mengetahui Samuel terlalu kejam pada putrinya.
"Kamu berbeda sama sahabat-sahabat kamu yang lain, terutama Dito! Dia bahkan mampu merawat anak dari musuhnya sendiri dengan kasih sayang penuh, tapi kamu? Anak yang buat kita kembali bersatu malah kamu sakiti hatinya!"
"Ara, maafin Abang!"
Ara tertawa. "Abang minta maaf atas dasar apa? Lagipula aku nggak butuh maaf dari Abang! Karena Abang, hati kedua putriku terluka!"
Wanita paruh baya itu menarik nafas dalam-dalam ketika kakinya telah berada di pinggir kolam paling luar. Bergerak sedikit saja maka ia akan tercebur ke kolam yang kedalamannya kurang lebih 2 meter.
"Pergi! Jangan ganggu aku baik Ayana! Kamu bisa balik kalau membawa putri sulungku bersamamu!" pekik Asa bertepatan ia terjatuh ke kolam karena kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Samuel yang melihat hal tersebut lantas menceburkan tubuhnya pada kolam yang terasa sangat dingin tersebut. Ara tidak bisa berenang, dan Samuel takut istrinya kenapa-napa.
__ADS_1