Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 61 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Entah Asa harus bahagia atau merasa takut bisa tinggal satu rumah dengan Altair. Terlebih sikap pria itu berubah 180⁰ derajat.


Perhatian, peka dan kadang manja pada Asa di waktu-waktu tertentu saja.


Kini Asa sedang duduk di meja pantri sambil memperhatikan Altair menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Gadis itu tengah senyum-senyum sendiri melihat betapa sibuknya Altair mondar-mandir di depan kompor.


Sudah terhitung satu malam setengah hari tinggal bersama Altair, dan selama itu pula Asa baru menyadari ternyata bahagianya bukan ada pada ayah Samuel, melainkan pria yang dapat mengerti dirinya.


Pria yang tulus menyayanginya tanpa harus mengemis atau mengorbankan sesuatu.


Setelah diceramahi panjang lebar oleh Jihadi dan Altair, pikiran Asa sedikit terbuka. Gadis itu memutuskan untuk membahagiakan dirinya sendiri tanpa harus memikirkan perasaan orang lain.


Asa rasanya ingin berterimakasih pada Altair yang telah membawanya pergi cukup jauh, sampai tidak tahu arah jalan pulang.


Namun, di sisi lain sering kali hinggap rasa rindu pada Ayana dan bunda Ara yang jauh di sana. Yang membuat Asa sedikit tenang sebab Altair mengatakan semua orang tahu bahwa ia baik-baik saja.


"Mikirin apa sih?"


Asa tersentak, detik berikutnya tertawa karena hidungnya dijawil oleh Altair. Pipinya memerah seperti kepiting rebus. Altair sangat hobi mengangetkan seseorang yang sedang melamun.


"M-mikirin kamu," jawab Asa tersipu malu.


Sementara Altair berdehem kegeeran karena Asa mulai membuka diri kembali.


"Aduh jantung aku berdetak nggak karuan dengan gombalan kamu, Yang."

__ADS_1


"Lebay!" Menepuk pundak Altair.


Keduanya asik tertawa dan saling melempar canda hingga tidak menyadari pasta yang Altair rebus telah gosong, airnya sudah kering di atas panji.


"Astaga Altair!" pekik Asa berlari untuk mematikan kompor, membawa panci tersebut ke wastafel untuk disiram air.


"Ish, dasar ceroboh! Makanya kalau masak sesuatu jangan duduk!" omel Asa yang malah terlihat mengemaskan di mata Altair.


Pria itu menguyel-uyel pipi Asa yang sedikit mengembung.


"Maaf calon istri." Cengir Altair tanpa dosa.


Tolong maklumi Altair yang tidak bisa apapun selain mencintai Asanya dan bernyanyi.


Asa menghela nafas panjang, menyuruh Altair duduk di meja pantri dan ia beralih untuk membuat nasi goreng. Sarapan simpel tapi bikin kenyang berjam-jam.


"Sarapannya udah jadi, ayo makan dulu!" seru Asa dengan keringat di keningnya.


Altair yang melihat hal tersebut lantas mengambil tisu lalu mengeringkan keringat Asa.


"Jangan terlalu lelah apalagi bersemangat berlebihan, Sa. Jantung kamu bisa ikut lelah," ucap Altair dengan tatapan meneduhkan.


Asa mengangguk kaku, antara baper dan merasa tidak enak jika mengingat penyakit yang ia derita sekarang.


Selera makan Asa seakan menghilang begitu saja.

__ADS_1


"Altair, aku penyakitan dan nggak tahu bakal sembuh atau nggak," lirih Asa.


Tatapan keduanya bertemu, Altair yang meneduhkan dan Asa yang sedikit berkaca-kaca. Ayolah Asa tidak sekuat itu, selama ini ia hanya pura-pura kuat.


Namun, Altair sudah tahu sisi lemahnya, dan Asapun tidak segang-segang memperlihatkan jati diri yang sebenarnya.


Jati diri yang lemah dan sering kali ingin dimanja oleh orang-orang tersayangnya.


Jantung yang tadinya hanya berdetak normal mulai tidak terkendali ketika tangan Altair bergerak mengelus pipinya.


Senyuman pria itu sangat memabukkan di mata Asa. Seakan Asa tidak rela jika senyuman itu dimiliki oleh orang lain.


"Asayang?" panggil Altair lirih.


"Hm?"


"Pas kamu sehat aja aku nggak pernah berpikir buat ninggalin kamu, gimana pas aku tahu kamu sakit? Cinta aku tulus dan nggak bisa diikur kalimat-kalimat romantis saja."


Altair semakin menarik bibirnya agar senyuman manis semakin terlihat di wajah tampannya.


"Aku bakal nemenin kamu di sisa hidup yang kamu miliki, Asa. Sembuh atau nggaknya itu urusan belakang. Jika suatu hari nanti kamu benar-benar pergi karena panggilan yang kuasa, aku nggak bakal sedih apalagi menyesal. Kamu tahu alasannya?"


Asa mengeleng, matanya mulai berembun dan siap mengeluarkan bulir-bulir bening.


"Karena aku udah berusaha buat bahagiain kamu. Kita udah ciptain momen terindah di setiap detik waktu kamu yang terus berkurang. Jadi satu pintaku ... Mari bahagia bersama biar nantinya aku nggak sedih kalau ditinggal sama kamu."

__ADS_1


Tes


Tepat saat Altair selesai mengucapkan kalimat-kalimatnya Asapun menjatuhkan air mata. Air mata penuh haru dan kebahagiaan sebab merasa beruntung bisa dicinta begitu hebat oleh Altairnya.


__ADS_2