
Suara barang yang terus berjatuhan akibat kemarahan seseorang tidak membuat Altair berpindah pandang pada ponselnya.
Sejak sampai di kantor, telinganya telah penuh akan omelan bertubi-tubi dari atasaanya, begitupun dengan Jihadi.
Namun, tampaknya Altair tidak peduli kemarahan CEO Agensi tempatnya menaung, sebab pria itu tidak merasa membuat masalah. Hanya menolong orang, apa itu salah?
"Altair!" bentak CEO Agensi TB.
"Hm," gumam Altair.
"Saya sudah bilang jangan ngegabah ngambil keputusan! Lihatlah apa yang terjadi! Berita kamu menolong siswa di sekolah mulai tersebar ke sosial media!"
Altair menghela nafas panjang, meletakkan ponselnya di atas nakas setelah bosan mendengar ocehan bosnya.
Dia akui dia sangat memimpikan menjadi penyanyi berbakat, tapi tidak dengan hidupnya yang harus dibatasi sampai seberlebihan ini. Ya meski ini kesalahannya sebab tetap menandatangani kontrak padahal tahu semuanya akan seperti ini.
"Beritanya nggak ada yang jelek! Mereka muji saya pahlawan dan sebagainya. Lagi pula nggak ada salahnya nolong teman sekolah," jawab Altair santai.
"Salah karena kamu publik figure! Saya tidak mau tahu ini terakhir kalinya kamu membuat Agensi kacau!"
"Iya Pak," sahut Altair sedikit menyebalkan. Apa yang dikatakan oleh atasaanya masuk di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
"Keluar!"
__ADS_1
"Ini yang saya tunggu sejak tadi," cengir Altair. Berjalan keluar dari ruangan atasaanya, meninggalkan Jihadi dengan segala omelan yang akan memekkan telinga.
Usai menyadari dampak perkembangan Angesi setelah debutnya sebagi Idol solo, Altair tidak takut akan apapun. Karena namanya, Agensi TB yang dulunya tidak terlalu terkenal kita telah dikenal banyak kalangan.
Lalu apa atasan akan mendepak Altair begitu saja? Ini bukan tentang tatak rama, hanya saja Altair tahu batasaanya, selama tidak merugikan siapapun dia akan tetap malangkah, terlebih jika menyangkut dengan Asa.
Altair membelokkan langkahnya menuju ruangan latihan yang sering dia gunakan. Alih-alih merenung, pria itu memutuskan untuk berlatih persiapan konser dua hari lagi.
Dia ingin dikenal karena bakatnya, bukan hanya ketampanan dan ketenaran. Jika dia hanya ingin itu, tanpa menjadi Idol Altair telah mendapatkannya.
Banyak Agensi besar yang bisa Altair masuki tanpa harus berlama-lama menjadi trainee, salah satunya Anggara Group, hanya saja dia ingin menikmati proses.
Mungkin beberapa hari kedepan Altair tidak bisa menghubungi Asanya karena akan sibuk.
Tawa terus saja terdengar di dalam kamar Asa tanpa menyadari pertengkaran dari kedua orang tua mereka. Mungkin jika Asa mendengarnya, gadis itu akan menyerah tetang hidupnya.
Asa menoleh ke samping untuk menatap adiknya yang tengah asik menonton MV Altair dari konser beberapa bulan yang lalu.
"Serius banget, Dek," celetuk Asa meletakkan buku novel di samping laptop, ikut menonton. Mengagumi betapa tampannya pria yang dia cintai saat bekerja.
"Iya dong kak harus serius, kan yang nyanyi kak Altair," sahut Ayana. "Oh iya, kak Asa udah ngomong sama kak Altair? Kan tadi dia mulai sekolah," tanya Ayana yang belum memeriksa berita hari ini tentang Altair.
Asa lantas mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasanya ia ingin egois untuk satu ini. Bolehkan Altair hanya menjadi miliknya saja?
__ADS_1
"Ka-kakak lupa, nanti ya?"
"Ya udah deh aku minta kontaknya aja, pasti kakak punya." Menegadahkan tangan pada Asa.
Dengan ragu Asa akhirnya memberikan kontak pribadi Altair pada Ayana, biarkanlah adiknya berjuang sendiri sebab Asa tidak mampu untuk menjadi mak comblang. Hatinya tak sekuat karang di lautan.
"Ay," panggil Asa setelah lama saling terdiam.
"Apa?" Fokus pada layar laptop sambil memasukkan cemilan ke mulutnya.
"Ajarin kakak dong biar pintar kayak kamu. Kakak juga pengen disayang sama ayah."
"Bukannya ayah udah sayang sama Kakak? Ayah nggak pernah marahin kakak, beda sama aku. Tiap pulang terlambat selalu diomelin, kakak mana pernah kena omel."
"Iya juga ya." Asa beranjak dari duduknya.
Masuk ke kamar mandi dan memandangi wajahnya dalam pantulan cermin. Benar kata Ayana, ayah Samuel sayang padanya, dia hanya terlalu perasa sampai menganggap dirinya berbeda.
Asa menepuk pipinya berulang kali sambil tersenyum.
"Ayah sayang sama Asa tapi Asa yang nggak ngerasain," gumamnya.
__ADS_1