Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 80 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Sesampainya di mansion, Altair langsung turun dari mobil tanpa menunggu orang tua ataupun adiknya.


Pria itu merapikan jas yang melekat di tubuhnya, sedikit melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Harus kalian tahu Altair sangat anti dengan jas, kecuali jika menyangkut pekerjaan.


Namun, karena hari ini mamah Gianti memaksanya, Altair kembali memakai jas tersebut. Jas putih yang semakin menambah ketampanan seorang Altair sang bintang yang namanya tengah ramai di perbincangkana.


Pria itu mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan sang kekasih, tapi tidak menemukannya.


Yang Altair lihat hanya para sepupunya yang sibuk dengan keluarga masing-masing. Bukan hanya para sepupu yang Altair temui, tapi keluarga besar sahabat papah Rayhan ada di sana.


"Kak Altair!" pekik Ayana, menghampiri Altair. "Nyari kak Asa ya? Dia ada di kamar sama oma Fany."


"Ngapain?"


"Dandan."


Altair menganggukkan kepalanya mengerti.


"Tanpa dandan calon istrku udah cantik," guman Altair yang hanya bisa di dengar olehnya saja.


Muak melihat keramaian dan merasa asing dengan keluarga papahnya, Altair mulai memeriksa kamar satu persatu agar bisa menemukan kekasihnya dengan cepat.


Altair mendengus ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang.


"Ikut, Om!" Azka menarik tangan Altair agar segera meninggalkan lantai dua, pria paruh baya itulah yang telah menepuk pundak Altair tadi.


Dengan wajah masamnya, Altair mengikuti langkah om Azka hingga sampai di ruangan yang hanya dihuni kaum buaya.


"Sebenarnya ada acara apa sih? Altair nggak suka ada di sini!" ucapnya tanpa ada keinginan duduk.


Padahal Angkara, Arga dan putra Keenan memberikan tempat untuk dia duduk.

__ADS_1


"Asa mau tuangan hari ini," ucap Samuel dengan wajah lempengnya.


"Ya udah sih, pasti Altair pasangannya." Berlalu pergi, meski hatinya merasa terusik karena perkataan ayah Samuel tadi. Apalagi pikiran Altair tentang ayah Samuel belum sepenuhnya positif.


Langkah pria itu berhenti tepat di sisi panggung lumayan besar. Panggung yang sejak semalam berdiri megah tapi Altair tidak menyadarinya tadi karena sibuk mencari Asanya.


Di atas sana ada papah Rayhan dan mamah Giani yang sedang tersenyum sambil memegang mikrofon di tangannya.


"Entah apalagi yang bakal dilakuin Rayhan, gue malu jadi anaknya," gumam Altair. Seakan Rayhan bukanlah papah baginya, tapi teman yang menyebalkan.


Karena penasaran, Altair memilih duduk pada kursi kosong di samping panggung.


"Ternyata cucu oma ada di sini," ucap Jesy, mamah Rahyan yang juga seorang dokter.


"Oma?" Langsung berdiri dan memberi oma Jesy kecupan di pipi. "Ini sebenarnya ada apa?"


"Pesta pertunangan, kamu nggak tau?"


"Kamu sama Asa. Lah bisa-bisanya yang punya acara nggak tau." Jesy tertawa meledek, wanita tua itu tidak tahu kalau sejak beberapa hari yang lalu Altair bagai orang bodoh karena rencana papahnya.


"Serius Oma? Dua rius? Ini beneran?" desak Altair dengan mata berbinar bahagia. Senyuman pria itu mengembang ketika omanya mengangguk.


"Anjir sih Rayhan, ngibulin gue selama ini," gerutu Altair. Menyusul naik ke panggung dan merangkul pundak mamah dan papahnya yang sedang berbicara.


Siapa sangka Altair mengecup pipi papahnya di depan para tamu yang telah hadir.


"Ternyata pertunangan Altair ya, harusnya ngomong sejak awal biar nggak ngerepotin," cengirnya pada sang papah.


Giani tersenyum, berbeda dengan Rayhan yang memutar bola mata malas. Tanpa melepaskan rangkulan sang putra, Rayhan kembali bicara.


Membuka acara hingga akhirnya sampai pada inti pesta yang diadakan, tepat saat itu pula, Asa datang diapit oleh oma Fany dan Oma Kirana-bunda Ara.

__ADS_1


Gadis yang memakai gaun putih tersebut tampak cantik berkali-kali lipat, mungkin karena polesan make up di wajah yang sudah cantik sejak lahir.


Tanpa diberi abah-abah, Altair lantas menjemput calon tunangannya di anak tangga. Sedikit menekuk lutut, lalu mengulurkan tangan pada Asanya.


Asa yang diperlalukan demikian tersipu malu, meski begitu tetap meraih ularan tangan Altair. Matanya terbelakak ketika Altair malah mengecup punggung tangannya.


"Altair?"


"Gemes banget, tapi tetap bakal dihukum," bisik Altair.


Oma Fany dan Oma Kirana mulai mengalah, membiarkan Asa dibawa oleh Altair menuju panggung untuk melakukan pertukaran cincin.


Sepanjang jalan menuju panggung, Asa sesekali menahan rasa nyeri di dadanya karena detakan jantung yang tidak terkendali. Mungkin karena sejak pagi, dia gugup, menanti acara pertunangannya.


Gadis itu berusaha baik-baik saja meski keringat dingin mulai bermunculan sedikit demi sedikit.


Tepat saat pertukaran cincin selesai, Asa terjatuh tepat di pelukan Altair, membuat keluarga besar Altair maupun Asa terkejut.


Ayah Samuel yang melihatnya lantas berlari, merebut Asa dari gendongan Altair. Membawanya ke kamar, sementara Ara, langsung memanggil Salsa-istri Azka yang merupakan seorang dokter jantung untuk memastikan keadaan Asa yang sebenarnya.


Acara yang telah dirancang sedemikian rupa agar berkesan kini menjadi musibah untuk mereka semua, terutama Altair yang baru saja merasakan bahagia karena bisa memiliki Asa meski belum sepenuhnya.


"Asa?" pekik Altair menerobos masuk begitu saja ke kamar.


"Nak, keluarlah dulu. Asa masih di tangani sama ...."


"Nggak, Altair harus mastiin Asa dulu. Dia baik-baik aja atau nggak!" Menepis tangan Ara kasar.


Saat ini Altair tidak peduli akan apapun, selain kekasihnya.


Hari ini Asanya terlihat sangat cantik, hari bahagianya, hari spesialnya. Tapi kenapa harus dihancurkan dengan penyakit sialan itu?

__ADS_1


"Asayang?" panggil Altair, mengenggam tangan Asa, setelah menerobos pertahan ayah Samuel dan papah Rayhan.


__ADS_2