Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 37 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Jam 10 malam, barulah Asa keluar dari kamarnya dengan piyama tidur yang mambalut tubuh gadis cantik tersebut.


Ia melangkah sesekali menuruni anak tangga mana kala mendengar suara seseorang sedang berbincang di lantai bawah.


Tujuan gadis itu keluar kamar tidak lain untuk menemui bundanya. Ia ingin mengatakan isi hatinya dan apa yang dia inginkan agar tidak menyesal di kemudian hari.


Bunda Ara pernah berkata bahwa ia tidak boleh mundur jika saling mencintai, dan Asa akan mempertahankan Altair demi kebahagiaannya. Meminta pada bunda Ara agar perjodohan tidak terjadi.


Mungkin sikap Asa kali ini egois. Dengan mendapatkan Altair maka dia akan kehilangan ayah dan adik yang sangat dia sayangi. Namun, apa boleh buat, Asa tidak bisa membohongi hatinya.


"Kapan Aya sama kak Altair bakal ketemu, Ayah? Apa om Ray dan tante Giani udah setuju?"


"Udah Sayang, secepatnya makan malam keluarga akan diadakan. Apapun yang putri ayah mau pasti ayah kabulkan," sahut Samuel dengan senyuman manisnya.


Senyuman yang tidak pernah Asa dapatkan.


"Ayana sayang Ayah," ucap Ayana memeluk tubuh ayah Samuel, bertepatan langkah Asa berhenti tepat di sisi sofa.


Gadis itu melempar senyum pada ayah dan adiknya.


"Kak Asa? Ayo duduk sini sama ayah, kita cerita apa aja!" ajak Ayana.


"Uhm nanti aja deh Ay, kakak lagi nyari bunda," sahut Asa senyum kikuk.


"Ada di kamar," sahut Samuel tanpa menoleh.

__ADS_1


"Makasih Ayah."


Asa segera meninggalkan ayah dan adiknya di ruang keluarga, kembali ke lantai atas untuk menemui sang bunda di kamar utama.


Ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya yang ternyata tidak di kunci. Asa mengedarkan atensinya pada keseluruh ruangan tapi tidak menemukan wanita cantik yang melahirkannya ke dunia.


Awalnya Asa ingin berteriak, tapi urung saat mendengar suara gemircik air dari kamar mandi. Gadis itu memutuskan untuk duduk di sofa panjang, memperhatikan kertas dan ponsel di atas meja.


Kening Asa mengerut tatkala tidak sengaja melihat namanya ada di dalam kertas. Karena penasaran diapun lantas memeriksa.


Asa tergugu, jantungnya berdetak tidak karuan mengetahui isi kertas tersebut.


Baru saja dia memberanikan diri untuk mencapai apa yang dia inginkan, kini keyakinan itu kembali di pukul mundur oleh kenyataan.


Gadis itu buru-buru meletakkan kertas di atas meja saat kamar mandi terbuka. Ia memaksakan senyumnya pada bunda Ara.


Sementara bunda Ara yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Asa lalu mengambil kertas di atas meja. Wanita itu tidak ingin putrinya tahu apa yang terjadi.


Tadi Asa hanya meneliti laporan kesehatan Asa dari dokter, berharap menemukan celah untuk pengobatan agar putrinya tidak bergantung pada obat.


"Se-sejak kapan putri cantik bunda ada di kamar?" gugup Ara menyembunyikan laporan kesehatan Asa di dalam laci.


"Beberapa menit yang lalu."


"Kenapa Sayang?"

__ADS_1


Asa mengeleng, gadis itu mengurungkan niatnya untuk meminta dukungan pada bunda Ara, terlebih tahu umurnya tidak lama lagi. Sekarang dia hidup karena obat.


Bukankah jika mempertahankan cintanya hanya akan menyakiti semua orang? Termasuk Altair?


"Asa?"


"Asa sayang Bunda," lirih Asa memeluk bundanya. "Bunda punya penyakit jantung ya?" tanya Asa tiba-tiba, membuat bunda Ara mengerutkan keningnya karena heran.


"Kok nanya gitu?"


"Jawab dulu!"


Bunda Ara menghela nafas panjang, melerai pelukan dan menangkup pipi Asa yang mengemaskan. Meski berusia 20 tahun, Asa masih anak-anak di mata Ara.


"Bunda maupun ayah nggak punya riwayat penyakit jantung, Sayang. Kenapa sih?"


"Cuma iseng nanya. Oh iya Asa harus pergi, masih ada tugas yang belum selesai." Berdiri dan bersiap pergi. Pertahannya hampir tumbang sekarang. Air mata siap tumpah tanpa diminta dan ia tidak mau bunda Ara melihatnya.


"Udah jam 10 malam, nggak usah ngerjain tugas! Langsung tidur dan jangan lupa minum obat."


"Siap Bunda!" Mengecup pipi bundanya dan berlari keluar kamar.


Setelah sampai di kamarnya, dia kehilangan senyuman di wajahnya.


"Ayah sama bunda nggak punya riwayat jantung tapi, kenapa aku punya penyakit jantung bawaan?" batin Asa bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2