Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 51 ~Asa & Altair


__ADS_3

Altair, pria itu dengan lancang membuka pintu kamar Asa tanpa menimbulkan suara, sehingga pemilik kamar tidak menyadari kedatangannya.


Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar tapi tidak menemukan siapapun. Lirikan matanya tertuju pada ponsel dan novel di atas meja.


Namun, bukan kedua benda itu yang menjadi pusat perhatian Altair, melainkan sehelai tisu dengan bercak noda darah yang tergeletak di samping novel.


"Kemana dia?" gumamnya.


Berjalan menuju balkon untuk menutup pintu karena udara angin sore terasa sangat dingin, setelahnya ia beralih bersandar di dekat pintu kamar mandi saat mendengar gemircik air.


Altair dengan sabar menunggu pemilik kamar keluar sambil bersedekap dada. Mengatur ekspresi apa yang harus ia perlihatkan pada kekasihnya lebih dulu.


Khawatir karena melihat bercak darah? Kangen sebab lama tidak bertemu? Ataukah bersikap biasa-biasa saja dan bertingkah manja pada kekasihnya?


Belum sempat Altair memutuskan, Asa membuka pintu kamar mandi tanpa di duga.


"Aaaaaakkkkkhhhhh!" Pekik Asa tepat di telinga Altair, kembali menutup pintu rapat-rapat.


Merasai jantung yang berdetak tidak normal di balik pintu kamar mandi. Asa terkejut sungguh, terlebih gadis itu hanya memakai handuk lumahan pendek karena habis mandi.


Sebenarnya Asa tidak ada niatan untuk mandi, hanya saja muntahnya yang menghasilkan sedikit darah mengenai pakaiannya tadi.


"Pergi!" Usir Asa setelah menguasai detak jantungnya.

__ADS_1


"Nggak, orang kangen juga," sahut Altair di balik pintu, mengetuk terus-menerus. "Asayang, buka pintunya ih. Tau nggak sih seberap kangennya aku sama kamu?" rengeknya.


"Nggak sopan masuk ke kamar cewek tanpa izin! Apalagi ini bukan rumah kamu Altair."


"Nggak peduli!"


Asa mengigit bibir bawahnya di balik pintu, menghela nafas panjang ketika teringat tisu di atas ranjang yang tidak sempat dia buang tadi.


"Ak-aku mau pakai baju dulu."


"Ya udah!"


"Altair!" bentak Asa.


Merasa Altair sudah pergi, Asa memberanikan membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Berjalan menuju ruang ganti dan dikejutkan dengan sebuah pelukan dari belakang.


Sungguh Asa bodoh karena mempercayai ucapan Altair begitu saja.


"Kangen banget sama Asanya, Air," gumam pria itu menumpu dagunya pada pundak Asa yang terekspos.


Asa menelan salivanya kasar, tubuhnya merinding seketika membayangkan posisi yang sangat intim dengan Altair.


"Ak-aku mau pakai baju dulu," lirihnya, seakan kehilangan tenaga hanya untuk berbicara.

__ADS_1


Altair yang menyadari lantas melepaskan pelukan dan menyengir tanpa dosa pada kekasihnya. Ah sial, tubuh Altair ikut merinding melihat punggung dan paha mulus Asa.


"Ya-ya udah sana," gugupnya. Langsung berjalan menuju balkon sambil mengusap wajahnya kasar. "Untung nggak khilaf anjir!"


Sambil menunggu Asa berganti baju, pria itu memperhatikan halaman rumah Asa yang sangat bersih. Tatapannya tertuju pada gadis yang sedang duduk di ayun-ayunan seorang diri.


"Sorry, gue udah kasar sama lo." Altair sebenarnya sengaja bersikap kasar pada Ayana agar gadis itu membencinya.


Dengan Ayana membencinya maka tidak ada halangan untuknya bersatu bersama Ara, jika gadisnya mau. Bagaimana jika sebaliknya?


"Kenapa bisa masuk?" tanya Asa yang telah rapi dengan setelan rumah lumayan tertutup.


Altair lantas membalik tubuhnya. "Karena ada pintu, apa lagi? Aku bukan setan loh yang bisa nembus dinding." Candanya.


Mendahului Asa masuk ke kamar karena tidak ingin gadis itu keluar di balkon. Altair tidak rela tubuh Asa terkena angin sore yang lumayan menusuk tulang-tulang.


Tatapannya kembali tertuju pada ranjang dan di sama sudah bersih, pertanda Asa telah membereskannya.


"Sayang, kata guru kamu demam ya? Pasti semuanya karena aku. Gara-gara aku, kamu kena marah sama om Samuel, jadinya demam dan ...."


"Bukan salah siapapun, aku sakit karena udah waktunya. Boleh pergi sekarang? Aku pengen sendiri." Berdiri kikuk di hadapan Altair.


Tidak tahu harus bersikap apa pada Altair saat ini. Jujur ia sangat merindukan Altairnya, tapi di sisi lain ia harus menjauhi pria itu.

__ADS_1


"Nggak bisa pergi, bokong aku udah nempel di sofa. Mending duduk sama pacar kamu sini, dijamin langsung sehat."


__ADS_2