Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 96 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Sejak bangun tidur, senyuman Altair tidak pernah surut di wajahnya. Terlebih saat mamah Giani berkunjung ke kamar beberapa menit yang lalu. Pria itu baru saja mendapat kabar, bahwa hari ini mereka sekeluarga akan berkunjung ke rumah Asa. Bukan hanya berkunjung sebagai keluarga, melainkan mempelai untuk meminang kekasihnya.


Altair mengira drama yang dia mainkan semalam hanya sia-sia, karena respon papah Rahyan yang di luar dugaan. Namun, siapa sangka hari ini papahnya yang merencakan lamaran. Mungkin karena Rayhan tidak ingin membuat putranya sedih seperti beberapa bulan yang lalu. Mengurung di kamar tanpa melakukan apapun.


"Tumben udan rapi aja," sindir Rayhan yang tengah memeriksa barang yang akan dibawa ke rumah Asa.


"Biar nggak kelamaan nunggu," sahut Altair. "Ini Sabira mana? Jangan sampai dia belum mandi lagi. Altair nggak mau ya nunggu lagi, satu tahun udah lama banget." Pria itu mulai mengomel. Duduk di sofa sambil merapikan dasi dan kancing kemeja di bagian tangan.


Hari ini Altair ingin terlihat menawan di depan tunangannya. Jika bisa, pria itu malahan mau dinikahkan hari ini juga, tapi keinginan konyolnya tidak dikabulkan oleh sang papah.


"Sabira, buruan!" teriak Altair.


"Sabar napa Kak! Ini Sabira lagi rapihin rambut ih! Ntar juga kakau udah nikah lama bakal bosan!" omel gadis kecil yang berjalan menuruni tangga sambil membawa sisir.


Sementara Giani dan Rayhan hanya bisa mengeleng melihat tingkah anak-anaknya. Wanita paruh baya itu berdiri untuk menyambut kedatangan sang putri, membantu merapikan rambut agar cepat selesai. Sedangkan Rayhan menyuruh Altair untuk memindahkan barang bawaan ke mobil.

__ADS_1


Keluarga kecil Rayhan baru berangkat setelah semuanya benar-benar siap. Rayhan ingin pernikahan anak pertamanya sangat berkesan dan tidak akan terlupakan hingga tua nanti. Terlebih sekarang tidak ada yang harus mereka takutkan lagi. Penyakit Asa telah berhasil diangkat. Mungkin jika suatu hari nanti Altair dan Asa dipisahkan oleh maut, maka itu semua murni kehendak tuhan.


Tepat saat mobil hitam berhenti di depan rumah Asa, Altair lebih dulu turun. Berjalan mendakati pintu rumah tanpa membantu orang tuanya membawa barang. Pria itu sungguh merindukan kekasihnya. Kemarin bertemu hanya sesaat, dan malanya cuma bicara via telpon saja, padahal mereka terpisah cukup lama.


"Sayang!" seru Altair ketika yang membuka pintu adalah kekasihnya. Gadis cantik dengan dress peach setengah lutut. Rambut disanggul ala korea sehingga semakin menambah kecantikan Asa.


Bibir pria itu mengerucut karena dadanya malah ditahan saat dia ingin memeluk sang kekasih. Belum lagi jeweran dari arah belakang.


"Yang sopan dan jangan meluk-meluk di rumah orang tuanya! Hargai pemilik rumah!" ucap Rahyan penuh tekanan dan hanya dibalas cengiran oleh Altair.


Sepertinya kedatangan Rayhan dan keluarganya sudah dipersiapkan dengan matang, terbukti mereka disambut cukup resmi. Belum lagi orang tua dari Ara dan Samuel hadir untuk menyaksikan lamaran cucu pertama mereka.


"Harusnya kita hukum Samuel nggak sih? Dia udah ngasih kita kabar duka terus sembunyi," celetuk Daren, papi dari Samuel.


"Ssstttt, kita bahas lamarannya dulu, ngapain saling nyalahin sih?" Sela mami Samuel.

__ADS_1


Seketika ruangan itu di isi oleh tawa dari keluarga besar Adhitama. Mereka saling bertukar cerita dan Rayhan mulai mengutarakan tujuan sebenarnya, meski hanya formalitas saja. Usai membicarakan tentang lamaran mereka lanjut membahas kapan dan di mana akan dilaksanakannya pernikahan.


"Cari suasana beda deh, gimana kalau pinggir pantai?" saran Rayhan.


"Boleh tuh, aku setuju," timpal Ara.


Sementara yang pernikahannya sedang direncanakan malah sibuk berbuat ulah. Sejak tadi Altair hanya sibuk memilin-milin jari-jari lentik Asa tanpa memperdulikan permbicaraan para orang tua. Dia berulang kali mendapat teguran dari Asa, tetapi tetap bebal.


"Altair, dengerin orang tua kita ih. Kok tingkahnya makin kayak bocah sih?" bisik Asa.


"Kangen, Sa. Kangen. Kamu nggak tau rasanya nahan kangen itu gimana."


"Kan nanti bakal serumah Altair, sabar dikir lagi napa?"


"Nggak bisa, soalnya kamu makin cantik."

__ADS_1


"Kalian berdua!" tegur Rayhan.


Seketika Asa dan Altair terdiam dan fokus pada pembicaraan.


__ADS_2