
Melihat Altair berdiri dengan tatapan tertuju ke arahnya, Asa ikut berdiri. Bedanya gadis itu ingin menghindar tidak seperti yang akan Altair lakukan.
"Maaf, Asa ke kamar dulu. Asa masih ada kerjaan," ucap Asa, membalik tubuhnya dan melangkah dengan cepat.
Namun, itu tidak membuat niat Altair surut. Pria tersebut malah tersenyum sinis melihat kepergian Asa yang mulai menapaki anak tangga.
"Gadis yang Altair suka itu Asa, bukan Ayana!" teriak Altair hingga suaranya mengema di ruangan tersebut.
Hal itu membuat langkah Asa memelan. Dengan sigap Altair menggampiri Asa, mengenggam tangan gadis itu dan membawanya kehadapan para orang tua yang terdiam. Mungkin terkejut melihat apa yang terjadi.
"Lepasin aku, Altair!" bentak Asa tidak sanggup menatap ayah dan Ayana yang tengah menatapnya.
"Nggak Sa, keluarga kita harus tahu hubungan kita yang sebenarnya! Kenapa harus di sembunyiin? Memangnya apa yang kita lakukan salah hm?"
"Salah Altair! Kamu nggak seharusnya suka sama aku!" Menghentak tangan Altair, lalu berlutut di depan ayah Samuel dan bunda Ara yang telah berdiri.
"Maafin Asa, harusnya Asa nggak ikut bergabung, karena Asa acara kalian jadi berantakan seperti ini," lirih gadis itu dengan mata memerah.
Jika memejamkan mata maka air matanya akan menetes detik itu juga. Asa mendongak menatap wajah datar ayahnya.
__ADS_1
"Asa sama Altair cuma teman Yah, nggak lebih." Melirik Ayana yang menangis dalam diam. "Dek, jangan nangis, Altair cuma bercanda kok. Pertuangan kalian tetap terjadi kakak yakin," ucapnya dengan suara terbata.
Gadis itu memutar atensinya menatap satu persatu orang yang tengah berdiri di antaranya yang tengah berlutut.
"Apaansih!" sentak Altair menarik tangan Asa, tapi gadis itu tetap pada pendiriannya.
Ia rela bersujud dan meninta maaf pada semua orang dari pada harus kehilangan kasih sayang mereka.
"Maafin Asa, Bunda, Ayah."
"Nggak Sayang, kamu nggak salah. Ayo bangun." Ara membantu putrinya berdiri.
Sementara Samuel diam saja tanpa mengambil keputusan apapun. Berbeda dengan Rayhan yang menganggap semunya tidak masalah.
"Ngapain minta maaf, Asa? Lagian kan yang Altair suka itu kamu bukan Aya. Kamu ataupun Ayana yang jadi menantu om, om bakal tetap jadi besan ayah kamu," cengir Rayhan mengelus pundak Asa yang menunduk.
"Bro, kabarin ya kalau perjodohan tetap berlanjut," ucap Rayhan. "Dan kamu anak nakal! Ayo ikut papah!" Menatap Altair.
"Altair nggak mau pulang! Altair mau sama Asa!"
__ADS_1
"Altair!" tegas Giani.
Pria itu menghela nafas panjang, dengan langlah pelan menggampiri Asa dan kedua orang tuanya.
"Maaf om, tante. Harusnya Altair nggak hancurin acara makan malam ini. Altair cuma mau kalian tau kalau Altair suka sama Asa bukan Ayana. Lagian kita udah kenal dari SMP, mustahil kalau nggak ada rasa suka selama bertahun-tahun bersama," ucap Altair.
"Oh iya, jangan salahin Asa ya. Dia udah berusaha jauhi Altair kok, tapi Altairnya aja yang keras kepala," lanjutnya.
Setelah berbicara panjang lebar, barulah Altair menyusul orang tuanya yang telah keluar rumah lebih dulu, mungkin tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga Samuel dan Ara yang bisa dipastikan akan bertengkar hebat.
Terlebih Rayhan tahu betul bagaimana sikap Samuel jika sedang marah, apalagi Asa bukanlah putri kandung pria itu.
"Dasar anak nakal! Papah kira kamu tuh udah berubah pas jadi idol!" omel Rayhan setelah Altair berada di dalam mobil, menarik telinga putranya hingga memerah.
"Pah?" sentak Altair.
"Pah-pah ... paha?" Ledek Rayhan. "Kenapa nggak bilang kalau sukanya sama Asa? Kalau ginikan bisa dibicarain dulu, ini malah mengacau di rumah om Samuel. Hadeuh, papah malu punya anak tampan kayak kamu."
"Udah Ray, kasian anaknya itu," lerai Giani.
__ADS_1
"Tau tuh, Altair kan cuma ngomong apa adanya. Ya kali nerima perjodohan padahal nggak suka. Lagian tujuan Altair datang memang ini. Biar semua orang tau kalau Altair cuma suka sama Asa, titik nggak pakai koma!"