
Jihadi, pria itu menghembuskan nafas berulang kali setelah keluar dari Apartemen Altair. Dia yang mempunyai kesabaran seluas lautan pada akhirnya emosi juga jika lama-lama berhadapan dengan pria keras kepala seperti Altair.
Dia memandangi beberapa berkas yang ada di tangannya. Pekerjaan Jihadi bergantung pada berkas tersebut.
Jika dalam tiga hari Jihadi tidak bisa membujuk Altair, maka dia akan dipecat dari Agensi TB, dan pria itu tidak ingin menjadi penganguran.
"Harus gimana lagi aku bujuknya?" gumam Jihadi.
Pria itu terus berjalan dengan langkah malas hingga sampai di parkiran apartemen Altair.
Saat akan melajukan mobil, bibirnya tersungging ketika ide cemerlang melintas di otaknya. Tanpa pikir panjang Jihadi lantas membawa mobilnya memunuju tempat seseorang yang mungkin bisa menyelamatkannya dari pertaka pengangguran.
Sementara di sisi lain, tepatnya di sekolah. Asa sedang tertawa bersama Fely dan Mark yang masih nekat bergabung meski sering kali dicuekin oleh Asa.
Gadis itu terlihat sangat bahagia di mata orang lain tapi tidak dengan hatinya yang merindukan Altair. Sudah seminggu tapi ponsel Altair tidak aktif sama sekali. Asa juga tidak tahu harus bertanya kemana tentang kabar pria yang dia cintai.
Asa terlalu takut kalau saja rasa penasarannya membawa masalah pada karir Altair. Yang ia takutkan sekarang, Altair mendapatkan sangsi sebab makan malam bersamanya satu minggu yang lalu.
Suara bel pulang berbunyi membuat Fely yang bermalas-malasan sambil menatap wajah Mark, bersorak ria.
"Yey pulang sekolah!" pekik Fely penuh kegirangan membuat Mark mendelik.
__ADS_1
"Dasar centil!" celetuk Mark, mengambil tasnya, begitupun dengan Asa.
Ketiganya berjalan di koridor sekolah, Asa berada di tengah-tengah antara Fely dan Mark.
"Kita jalan yuk sebelum pulang? Udah lama tau kita nggak jalan bareng," ucap Fely mengoyang-goyangkan tangan Asa.
"Boleh, kemana memangnya? Tapi aku harus pulang kerumah ganti baju dan izin sama ayah," jawab Asa.
"Gimana kalau ke tempat karaoke? Pasti seru banget, besok kita libur!" usul Mark yang tidak ingin ketinggalan.
Pria yang dulunya mempunyai perkumpulan pria sangar, kini hanya bergaul seputar Fely dan Asa saja. Semuanya tidak lain karena tuntutan ayah dan demi motor kesayangannya.
Saat sampai di parkiran sekolah, tatapan Asa malah tertuju pada pria yang seumuran dirinya tengah berdiri di depan pagar. Asa kenal pria itu, makanya dia berlari untuk menghampiri Jihadi.
"Kak Jihadi? Altair mana?" tanya Asa dengan suara lirihnya, beruntung sekolah mulai sepi.
"Justru itu saya nemuin kamu, Asa. Altair keras kepala. Seminggu ini cuma di apartemen doang tidur, makan dan marah-marah."
"Nggak pup?" Mata Asa membola.
"Lah kalau nggak pup udah sakit perut, Sa. Ada-ada aja pertanyaan kamu."
__ADS_1
"Ya siapa tau kan?" Asa menyengir, mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. "Altair baik-baik aja kan? Dia nggak kena sangsi dari atasan?" tanyanya memastikan.
Jihadi tersenyum lebar. "Tenang, Altair sehat walafiat kok, cuma saya butuh kamu buat bujukin dia. Altair banyak pekerjaan tapi nggak mau dikerjain karena marah Agensi ngomong kalau kamu itu staf," jujurnya.
Mata Asa sedikit membola mengetahui fakta tersebut. Sebenarnya Asa tidak masalah akan pernyataan itu ya meski hatinya sedikit sakit saat pertama kali tahu.
Namun, karena mengerti industri hiburan tak seindah hayalan, Asa mencoba mengerti. Asa yakin pada Altairnya yang tidak mungkin membiarkannya terluka.
Asa menyerjapkan matanya perlahan ketika tangan Jihadi melambai tepat di hadapannya.
"Ah iya ngomong apa kak?" tanya Asa sedikit gugup, bertepatan datangnya Fely yang masih bergelayut manja di lengan Mark.
"Ini bukannya manager, Altair ya? Kak boleh minta foto nggak?" Fely lantas melepaskan rangkulannya pada Mark, lalu menarik tangan Jihadi untuk foto bersama.
Selain nefans dengan Altair, Fely juga ngefans pada Jihadi yang tidak kalah tampan.
"Hmmm, btw kok kakak ketemu Asa? Kalian ada rahasia negara ya?"
"Ng-nggak! Ini kebetulan aja kak Jihadi bawa surat izin buat Altair. Ya kan kak? Nanti aku sampai kan," ucap Asa menatap Jihadi penuh permohonan.
Untungnya Jihadi cepat tanggp hingga langsung mengangguk, berbeda dengan Mark yang seakan mencium sesuatu mencurigakan.
__ADS_1