Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 34 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Setelah mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, Asa akhirnya menyibukkan diri di dapur, berbeda dengan Altair yang masuk ke kamarnya menerima telpon dari seseorang.


Rahang Altair mengeras mendengar ucapan demi ucapan seseorang di seberang telpon, dia paling tidak ingin diatur jika itu tentang hidupnya.


"Saya nggak mau!" ucap Altair pada atasannya di seberang telpon. "Sebelum anda meminta maaf pada pacar saya, maka jangan harap saya bekerja sepenuh hati untuk Anda!" Altair menekankan setiap katanya.


Setelahnya pria itu memutuskan sambungan telpon sepihak. Memejamkan mata untuk mengontrol emosi, kemudian keluar dari kamar untuk menemui gadis yang sangat dia cintai.


Altair yakin kedatangan Asa ada sangkut pautnya dari masalah yang dia hadapi saat ini.


Tanpa aba-aba langsung memeluk Asa dari belakang, menumpu dagunya di pundak gadis tersebut. Hal itu tentu membuat Asa terkejut.


"Altair jangan peluk-peluk, aku nggak bisa masaknya," tegur Asa.


Altair mengeleng, engang untuk melepaskan pelukannya.


"Tujuan kamu ke sini ngapain selain kangen?" tanya Altair, berhasil menghentikan pergerakan Asa yang sedang mengaduk udang tumis kecap.


"Nggak Ada."


"Tahu darimana aku ada di rumah? Padahal aku izinnnya nggak ke sekolah karena pekerjaan?"


"It-itu karena ...." Asa mengigit bibir bawahnya, dia tidak mau Altair tahu bahwa tujuannya berkunjung untuk membujuk pria itu agar kembali aktif seperti dulu.

__ADS_1


Lagipula Asa kasihan jika Jihadi kehilangan pekerjaan karena kekeras kepalaan Altair.


Asa mejamkan matanya, menarik nafas panjang demi mengumpulkan keberanian.


"Karena ikatan batin, beneran! Aku kangen banget sama kamu, jadinya iseng ke apartemen eh kamunya ada di sini," cengir Asa.


Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Altair, menyiapkan makanan di atas meja lalu menarik Altair yang masih mematung di tempatnya.


"Mau di suapin nggak?"


"Mau ngebujuk gimanapun aku nggak bakal mau sebelum CEO sialan itu minta maaf sama kamu!" ucap Altair tiba-tiba yang membuat Asa tentu terkejut.


Gadis itu bingung darimana Altair tahu semuanya. Dia mendongak untuk menatap Altair yang telah duduk di hadapannya.


"Jihadi kan?" Altair tersenyum miring. Kedatangan Asa yang tiba-tiba setelah kepergian Jihadi. Telpon dari atasan dan beberapa staf sudah bisa menjelaskan semuanya.


"Iya, selain kangen aku mau bujuk kamu buat kerja lagi, apa salah?" Akhirnya Asa mengaku. Dia mengenggam tangan Altair yang mengepal.


"Aku nggak butuh maaf dari siapapun, aku nggak suka cowok keras kepala yang suka seenaknya tanpa peduli perasaan dan hidup orang lain." Asa menjeda sejenak hanya untuk memastikan ekspresi Altair.


Dia tersenyum ketika pria di hadapannya menunduk.


"Dalam tiga hari kalau kak Jihadi nggak berhasil bujuk kamu dia bakal dikeluarin. Kamu mau jadi akibat dari sengsaranya hidup seseorang?"

__ADS_1


"Dipecat?"


"Hm, dia bakal dipecat. Demi Jihadi dan aku, kamu mau ya balik ke aktivitas kayak dulu lagi? Aku janji bakal ada di samping kamu. Aku nggak bakal sakit hati apapun yang terjadi."


Senyuman hangat dan kata-kata lembut adalah hal yang paling ampuh untuk membujuk seseorang yang keras kepala seperti Altair.


Mungkin tidak berefek sekarang, tapi tunggu beberapa menit kemudian pasti membuahkan hasil entah penolakan ataupun penerimaan. Asa hanya perlu bersabar menunggunya.


Gadis itu memutuskan untuk menyantap makanan yang telah dia buat sendiri tanpa memperdulikan Altair yang terdiam.


Sebenarnya masalah ini tidak perlu di perpanjang. Bahkan Asa berterimakasih pada CEO Agensi TB yang bersedia merilis pernyataan sehingga tidak ada lagi yang mencari tahu tentangnya.


Usai makan dalam keheningan, Asa beranjak dari duduknya lalu berniat untuk membereskan bekas makan mereka. Namun, langkahnya berhenti karena tariakan sang kekasih.


"Aku dapat apa kalau nurutin kamu?" tanya Altair yang telah memikirkan semuanya matang-matang.


Asa lagi-lagi tersenyum. "Apapun, demi karir dan masa depan kamu," jawabnya.


"Jadi pacar aku? Jadi milik aku satu-satunya sampai nggak ada yang berani mengerebut kamu dari aku," ucap Altair penuh pengharapan.


Mungkin Asa tidak ingin status, tapi Altair ingin demi sebuah ketenangan dalam hatinya. Pria itu takut suatu hari nanti perasaan Asa berubah padanya.


Senyuman Altair mengembang tatkala melihat kepala Asa mengangguk.

__ADS_1


"Yes akhirnya aku punya pacar!" teriak Altair memeluk Asa sakin senangnya.


"Dasar bayi!"


__ADS_2