
Mendengar bahwa orang tua Altair telah datang, Ayana dan bunda Ara yang berada di dapur kompak mendorong tubuh Asa yang sibuk memotong buah.
Kedua perempuan berbeda generasi itu tampak bahagia menjahili Asa yang pipinya telah memerah seperti kepiting rebus.
"Ayo kak Asa, sambut calon mertuanya," desak Ayana.
"Putri mamah udah cantik, sekarang susul calon mertua kamu," ucap Ara setelah merapikan rambut Asa yang tampak berantakan.
"Ta-tapi Asa ...."
"Asa, sini Nak!" panggil Samuel.
Tidak mengelak lagi, Asa segera meninggalkan dapur. Berjalan dengan kikuk untuk menemui calon mertuanya.
Sudah beberapa kali bertemu, tapi entah kenapa kali ini perasaan Asa sedikit berbeda pada orang tua Altair. Terlebih bunda Ara dan Ayana terus mengodanya sejak beberapa menit yang lalu.
Asa mengembangkan senyumnya, menunduk untuk mencium punggung tangan om Rayhan dan tante Giani yang juga tersenyum senang.
"Duduk dulu Om, tante," ucap Asa sedikit malu-malu.
Rayhan yang melihatnya malah tersenyum jahil.
"Kok Asa makin cantik ya, El? Langsung nikah aja gimana? Sayang nih calon mantunya cuma diikat cincin doang," canda Rayhan, membuat pipi Asa semakin memerah.
"Bisa aja Om." Cengir Asa sedikit gugup. "Tunggu bentar ya, Asa buat minum dulu." Buru-buru meninggalkan ruang tamu hanya karena ingin terbebas dari kejahilan calon ayah mertuanya.
Ekhem, calon ayah mertua. Mungkin jika Altair tahu perihal kedatangan orang tuanya ke rumah Asa, untuk membicarakan tentang pertunangan. Mungkin Altair akan jingkrak-jingkrak sakin senangnya.
Namun, bukan Rayhan jika tidak menjahili putranya. Alih-alih mengatakan akan menentukan tanggal pertunangan, Rayhan malah menolak mentah-mentah perjodohan di depan Altair.
"Diminum dulu jusnya, Om, tante," ucap Asa yang kembali membawa nampang berisi jus.
Di belakang gadis itu ada Ayana yang membawa sepiring kue, begitupun dengan bunda Ara.
Kelima manusia berbeda generasi maupun gender itu duduk saling berhadapan. Bertukar cerita ringan sebelum membahas hal yang menjurus pada tertuangan Asa dan Altair.
"Kira-kira keburu nggak kalau satu minggu lagi?" tanya Samuel yang memulai pembicaraan.
__ADS_1
Padahal sebelumnya pria itulah yang menolak mentah-mentah pertunangan Altair dan Asa.
"Mepet banget, kenapa sih?" celetuk Rayhan yang merasa Samuel sedikit terburu-buru.
"Pengen percepat aja sih, lagian apa salahnya?" tanya Samuel balik.
Membuat Ara dan Rayhan menatap penuh selidik pada pria yang sering kali tidak bisa ditebak tersebut.
Berbeda dengan Asa yang diam saja, memikirkan satu minggu kedepan apakah ada yang istimewa.
Tiba-tiba senyuman gadis ceria itu mengengambang. Menatap ayah angkatnya penuh kehangatan saat tahu satu minggu lagi adalah hari spesialnya.
"Ayah ingat?" tanya Asa akhirnya.
"Kenapa nggak?"
"Sayang Ayah." Tanpa mempedulikan tamu, Asa langsung memeluk ayah Samuel.
Untuk pertama kalinya setelah terbangun dari koma, ayah Samuel mengingat hari ulang tahunnya. Bahkan pria paruh baya itu akan memberikannya hadiah sangat indah. Yaitu Altair, pria yang membawa bahagia untuknya.
"Nggak masalah sih, iya nggak Sayang?" Rayhan menaikkan alisnya dan dijawab anggukan oleh Giani.
"Btw, satu minggu ke depan Altair ada jadwal, Sa?" tanya Rayhan pada calon menantunya.
Asa tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan om Rayhan.
"Setahu Asa nggak ada, Om. Cuma latihan di Agensi. Kata kak Jihadi, bisa libur jika hanya satu dua hari."
"Fiks istri idaman sih, sampai tau jadwal calom suaminya."
Semua orang yang berada di ruangan itu tampak tertawa, begitupun dengan Ayana meski hanya tawa palsu.
Tawa hanya untuk menutupi luka demi kebahagiaan kakaknya. Sekarang saatnya Ayana yang mengalah, setelah sekian lama merebut semua apa yang Asa inginkan.
Entah tempat tidur, sekolah dan pakaian. Asa sering kali mengalah pada adiknya karena tidak ingin gadis itu merasa sedih.
***
__ADS_1
"Assalamualaikum calon penghuni neraka!" teriak Altair setelah membuka pintu rumahnya.
Niat hati untuk pulang ke apartemen, pria itu malah memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya yang jaraknya lebih dekat.
Kening Altair mengerut ketika tidak mendapati siapapun ada di rumah. Tidak, masih ada satu orang yang suaranya cukup memekakkan terlinga.
Langkah Altair perlahan-lahan mendekati asal suara.
"Berisik!" tegur Altair membuka pintu kamar Sabira kasar.
Gadis yang sedang sibuk bernanyi di kamarnya lantas mendengus kesal melihat kedatangan kakaknya.
"Nyebelin! Kenapa kakak pulang cepat sih? Nggak ngapelin kak Asa gitu?"
"Lah?" Kening Altair semakin mengerut.
Merebahkan tubuhnya di ranjang sang adik.
"Kak Altair nggak tau kalau mamah sama papah kerumah kak Asa?" tanya Sabira, ikut membaringkan tubuhnya di samping Altair.
"Mamah sama Papah kerumah Asa?"
Sabira mengangguk. "Ambilin minum dong, Sabira haus," ucapnya pada sang kakak.
Altair langsung bangun, keluar dari kamar untuk mengambilkan adiknya air minum. Usai menutup pintu lemari es, Altair menatap sebotol air di tangannya.
"Lah ngapain gue mau disuruh sama Sabira sih? Enak aja tuh anak."
Mengembalikan botol minum ke lemar es, lalu berjalan menuju ruang tamu ketika mendengar suara mamah dan papahnya.
Orang tuanya tampak tertawa setelah bertukar cerita satu sama lain.
"Dari mana?"
"Lah urusannya sama kamu apa? Dasar anak nakal! Sana tidur!"
"Habis dari mana dulu?" Besedekap dada, layaknya orang tua yang mendapati anaknya pulang larut malam.
__ADS_1