
Asa, gadis itu langsung pulang tanpa mampir kemanapun, karena mendapat telpon dari Ayana yang menyuruhnya pulang cepat.
Dari suara yang Asa dengar, sepertinya Ayana sedang bersedih dan itu juga membuat Asa ikut sedih.
Sepanjang perjalanan pulang, Asa fokus pada benda pipihnya, saling berbalas pesan dengan Altair yang tidak henti-hentinnya menganggu, padahal pria itu sebentar lagi ada pemotretan.
Asa mengakhiri sesi chatnya ketika taksi yang telah dia tumpangi berhenti tepat di depan rumah. Dia melangkah masuk usai memberikan bow dan mengucapkan terimakasih pada sang sopir.
Berjalan riang memasuki rumah yang selalu dia rindukan suasananya. Dia berlari dengan kaki kecilnya melihat ayah Samuel duduk di teras sambil membaca majalah.
"Ayah Asa udah pulang!" ucapnya setelah sampai di samping ayahnya.
Samuel hanya melirik sekilas, kemudian kembali fokus pada majalah. Namun, itu tidak membuat Asa putus asa.
Gadis itu duduk di samping sang Ayah, mengeluarkan kertas hasil ulangannya pada Samuel dengan raut wajah bangga. Untuk pertama kalinya Asa mendapatkan nilai di atas 90, biasanya mentok dibawah 80.
"Liat Asa dapat berapa di ulangan kali ini," ucapnya memberikan kertas pada Samuel.
Dengan malas Samuel mengambilnya, meneliti dua kertas yang diberikan oleh Asa.
"Bagus, tingkatkan."
"Siap Ayah." Memberi hormat pada ayah Samuel. Sebelum pergi tidak lupa mengecup pipi ayahnya yang sangat tampan dan berwiba.
Karena tidak mendapati wanita cantik yang telah melahirkannya ke dunia, Asa langsung saja menuju kamarnya. Terkejut bukan main ketika Ayana tiba-tiba memeluknya dengan wajah cemberut.
Mata Ayana sedikit sembab dan memerah, seragam sekolahpun belum diganti. Kening Asa mengerut, menangkup pipi adik kesayangannya.
__ADS_1
"Kenapa wajah adek cantik aku jelek gini sih?" tanya Asa bercanda.
Ayana mencebik. "Tadi Ayana ketemu sama kak Altair, terus Ayana ngomong kalau suka sama dia. Tapi kakak tau apa respon kak Altair?" tanyanya.
Asa lantas mengeleng, bagaimana dia bisa tahu kalau Ayana saja belum bicara.
"Kak Altair nolak Ayana kak!" Tangis Ayana semakin kencang di pelukan Asa.
Asa adalah tempat ternyaman untuk Ayana menceritakan kebahagiaan dan kesedihannya.
"Ayana benaran suka sama Altair? Suka pengen nikah gitu?" tanya Asa memastikan dan dijawab anggukan oleh Ayana.
Seketika Asa merasa sangat bersalah pada adiknya, dia seakan mengkhianati Ayana sebab diam-diam sering bertemu dan bertingkah layaknya pacar bersama Altair.
"Kak Asa mau bantu Ayana buat dapatin kak Altair? Ayana cinta banget sama kak Altair," pintanya.
"Nanti kakak coba bantu kamu ya, semoga aja bisa."
"Makasih kak Asa."
***
Altair yang baru saja sampai di apartemennya lantas tersenyum ketika ponselnya berdering dan mendapati nama Asa di layar.
Pria itu lantas menghempaskan tubuhnya ke ranjang tanpa melepas sepatu yang melekat di kakinya. Dadanya terus saja berdebar setiap kali Asa bernisiatif menelpon lebih dulu.
"Baru beberapa jam udah rindu aja, kenapa Sayang?" tanya Altair
Asa bergeming di seberang telpon, gadis itu seakan ragu mengatakan tujuannya menelpon malam-malam.
__ADS_1
"Asayang?"
"B-boleh nggak aku minta sesuatu sama kamu?"
"Boleh banget dong, apapun itu aku bakal kabulin. Mau mobil, hp, rumah atau aku sekalipun."
"Aku nggak butuh itu semua Altair, aku cuma butuh satu ...."
Asa menjeda kalimatnya di seberang telpon, membuat Altair tentu saja penasaran apa yang diinginkan oleh gadis yang dia cintai.
Baru kali ini Asa ingin meminta sesuatu padanya.
"Tolong cintai Ayana, terima dia dalam hidup kamu. Aku nggak bisa liat dia sedih Altair. Kebahagiaan aku ada padanya."
"Nggak!" sahut Altair tegas.
"Altair!"
"Kalau aku bilang nggak ya nggak, Asa! Aku suka sama kamu, dan sebaliknya juga begitu. Sampai kapan kamu bakal mikirin perasaan orang lain, hm? Memangnya kamu nggak bakal sakit hati kalau aku jalan sama Ayana? Pacaran sama dia?" Sungguh emosi Altair langsung naik mendengar permintaan gadis yang dia cintai.
Lelah habis bekerja bukannya mendapat ketenangan malah hal mengesalkan yang dia dapatkan.
"Aku mohon ...."
"Udahlah, keknya kamu lagi mabuk darat!"
Altair memutuskan sambungan telpon sepihak karena sangat marah.
__ADS_1