
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari yang Altair tunggu-tunggu. Hari di mana dia akan konser sekaligus mengundurkan dari dunia hiburan.
Sejak tadi pria itu berlarian di atas panggung sambil menyanyikan lagu yang dia ciptakan khusus untuk kekasihnya.
Menyapa fans-fans yang terus meneriakkan namanya secara serentak. Sesekali tatapan Altair tertuju pada kursi kosong. Kursi yang seharusnya Asa duduki dan meneriakkan namanya berulang kali.
Namun, apa daya. Itu semua hanya angan Altair saja.
Pria itu mengatur nafasnya yang telah memburu. Keringat bercucuran di tubuhnya sebab menguasai panggung selama kurang lebih 2 jam.
Dia berdiri di tengah-tengah panggung, menatap para pengemar yang setia mendukungnya di situasi apapun.
"Malam semuanya, apa kabar kalian baik?" tanya Altair pada pengemar yang berada di bawah panggung.
"Baik!" seru mereka serempak.
"Senang dengarnya. Kalian tahu? Altair mencintai kalian semua!"
Sorakan seketika mengema di ruangan luas tersebut. Para pengemar Altair baper mendengar idolnya meneriakkan kata cinta.
"Malam ini, aku mau nyapain sesuatu buat kalian. Sesuatu yang mungkin buat kalian sedih. Sebelumnya, maaf!"
Suasana yang tadinya riuh tiba-tiba hening. Mereka seakan siap mendengar apa yang seharusnya tidak mereka dengan dari rumor-rumor yang beredar 2 bulan yang lalu.
"Konser malam ini adalah konser terakhir aku sebagai Altair yang kalian kenal. Setelah ini aku memutuskan buat keluar dari dunia entertaiment. Terimakasih karena sudah mendukung aku sejauh ini. Terimakasih sudah memberi cinta begitu besar untukku. Kalian hebat, aku bangga punya kalian dihidupku."
Suara yang tadinya dipenuhi akan tawa dan teriakan nama Altair, kini berubah menjadi isakan. Tidak ada fans yang rela jika idol mereka hiatus seperti ini, terlebih saat namanya sedang melambung tinggi.
"Aku yakin setelah ini, bakal ada yang lebih baik dari aku. Jangan menangis, kita hanya berpisah sebagai idola dan pengemar. Jika bertemu di jalan, jangan pernah lupakan aku yang pernah ada di dalam hati kalian." Altair mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Terimakasih!"
Usai menyampaiakan apa yang menjadi keinginananya, Altair meninggalkan panggung. Menyisakan kepedihan di hati para pengemar mereka yang tidak menyangka rumor yang mereka dengar menjadi nyata.
__ADS_1
***
Sepulangnya dari konser, Altair tidak lagi keluar kamar. Kini pria itu tidak punya kesibukan lagi selain belajar dan ke sekolah. Tanggung jawab yang semula membebaninya telah hilang.
Jika boleh jujur, Altair berat meninggalkan apa yang telah menjadi impiannya. Namun, karena tuntutan Agensi yang terlalu menyiksa, Altair memilih mundur.
Untuk apa bertahan jika tersiksa? Dijadikan mesin pencetak uang tanpa bisa istirahat dengan tenang. Semakin naik nama seorang Idol, maka semakin berat pula beban yang dipikul. Semakin gencar pula Agensi mencari keutungan atas idolnya.
"Altair?"
"Hm," gumam Altair tanpa menoleh, membuat Jijadi yang baru saja membuka pintu kamar berjalan mendekat.
"Sekarang kita nggak punya kontrak kerja sama lagi, tapi bukan berarti kita bukan teman kan?" tanya Jihadi.
Meski Altair sering kali semena-mena padanya, Jihadi tidak pernah membenci pria itu. Di balik sikap arogant Altair, masih ada kelembutan yang tersisa. Setidaknya Altair peduli pada sesama.
"Ngundirin diri juga?" tanya Altair.
"Seperti yang kamu tau."
"Maksudnya?" Kening Jihadi mengkerut.
"AR Entertaiment, kalau lo mau. Lo bisa kerja di sana sesuai kemampuan lo."
"Serius?" Mata Jihadi sedikit membola. Ayolah, siapa yang tidak ingin berkeja di AR Entertaiment? Agensi besar yang memanusiakan karyawannya.
Belum lagi gaji yang sepadang dengan kerja keras.
"Hm, AR Entertament punya sepupu gue. Kirim aja surat lamarannya, ntar gue yang hubungin bang Arga."
"Makasih Altair. Eh tapi tunggu ...." Jihadi mengelus dagunya, memikirkan hal yang tiba-tiba muncul di kepala. "Saya baru tahu kalau AR Entertaiment punya sepupu kamu. Kenapa nggak kerja di sana aja? Semua artisnya sejahtera."
"Ck, lo tau sendiri gue nggak mau berdiri di perusahaan keluarga gue. Gue pengen sukses karena hasil sendiri tanpa campur tangan Adhitama!"
__ADS_1
***
Jika Altair dan Jihadi sedang membicarakan sesuatu tentang pekerjaan, maka berbeda dengan Fely yang berada di sekolah.
Gadis itu mengepalkan tangannya sambil memejamkan mata. Mendekati Mark yang tengah merokok di rooftop sekolah.
"Mark!" panggil Fely.
Mark langsung membalik tubuhnya, membuang puntung rokok lalu mengijaknya.
"Napa lo? Kok mukanya kek nahan boker?" tanyanya dengan nada meledek.
"Gue suka sama lo!" ucap Fely menahan malu. Gadis itu tiba-tiba mengatakan persaannya karena takut Mark diambil orang lain.
Terlebih beberapa hari ini Mark dekat dengan kakak kelasnya.
"Nggak lucu njir!" Mark tertawa. Menghampiri Fely yang berusaha mengendalikan detak jantungnya.
Pria itu menangkup rahang Fely yang tengah memejamkan mata. "Buka mata lo!"
Dengan sisa keberanian yang tinggal 10%, Fely membuka matanya, sehingga tatapan keduanya terkunci satu sama lain.
"Ngomong apa tadi?" tanya Mark dengan alis terangkat.
"Ak-aku suka sama kamu!" Memutus tatapannya.
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu pindah ke sekolah ini. Aku selalu perlihatin kok kalau suka sama kamu, tapi berhenti setelah tahu kamu suka sama Asa."
"Fely?"
"Aku nggak butuh jawaban kamu, apalagi penolakan. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku suka sama kamu. Tentang kamu yang suka sama orang lain aku nggak peduli."
__ADS_1
Fely membalik tubuhnya, berlari untuk menjauhi Mark. Tapi, alangkah terkejutnya gadis itu ketika tubuhnya di dekap dari belakang oleh Mark.
"Gue nggak suka sama lo, gue nggak punya rasa selain rasa persahabatan. Tapi kita bisa mencobanya. Kamu ingat kata-kata Asa? Kenapa harus mencari yang jauh, kalau yang berada di dekat kita jauh lebih baik?" bisik Mark tepat di telinga Fely.