
Mendapatkan kesempatan meski sebentar saja, membuat Altair bahagia tidak terhingga. Pria itu langsung saja menemui Asa-nya yang kebetulan berdiri di depan pintu. Tanpa memiinta izin pada siapapun, dia membawa Asa menuju taman belakang yang tidak berpenghuni.
"Aku kan udah bilang, jangan nekat temuin aku di rumah. Gimana kalau papah kamu marah?" tanya Asa. Gadis itu duduk di atas ayunan, sementara Altair berdiri di belakangnya. Menatap Asa tanpa berkedip. Dapat melihat Asa setelah kabar kematian gadis itu membuat dia sangat bahagia.
"Asayang, kalau kita nikah nanti, hal pertama yang mau kamu lakuin apa?" tanya Altair, menunduk dan menumpu dagunya tepat di pundak sang kekasih.
"Melihat wajah bantal kamu saat pertama kali membuka mata. Mendengar rengekan manja kamu yang masih mau tidur tapi harus bangun karena perintahku," jawab Asa.
"Kan kamu udah pernah lakuin hal itu dulu." Altair merengut.
Asa tertawa lepas, menyentuh rahang tunangannya dengan sebelah tangan. "Aku nggak butuh apapun selain kamu dan keluargaku. Milikin kalian semua udah jadi keinginan terbesarku. Kalaupun nantinnya keinginan-keinginqn lain terwujud, aku harap nggak lupa diri." Asa menatap lurus ke depan. Senyumnya kembali mengembang ketika Altair mengecup pipinya sekilas.
"Mau tau keinginan terbesarku?" tanya Altair. Kini pria itu beralih duduk tepat di samping Asa. "Melihat senyummu setiap hari saat aku bangun tidur."
__ADS_1
"Asa?" Raut wajah dan suara Altair tiba-tiba serius, membuat Asa memfokuskan perhatiannya pada pria itu. "Aku tau, pasti sikap aku buat kamu gugup dan ragu buat nikah, 'kan? Aku anak remaja yang kebetulan besar di keluarga yang bisa membuatku mendapatkan segalanya dengan mudah, sementara kamu harus kehilangan sesuatu setiap kali menginginkan hal yang lebih berharga." Altair mengambil napas dalam-dalam. Genggaman tanganya semakin erat.
"Alasan besar kenapa aku mau nikah di usia muda, bukan cuma karena cinta sama kamu. Tapi aku mau jadi sandaran saat kamu terpuruk setelah berusaha untuk bahagia. Aku mau kamu nggak mikir jadi beban bagi Ayah dan Bunda. Dengan nikah sama kamu, artinya kamu milik aku seutuhnya. Kamu tanggung jawab aku."
"Altair ...."
"Waktu aku udah habis aja." Altair menyenggir. Kembali ke mode anak-anaknya. Sebelum beranjak dia kembali mengecup pipi sang kekasih. "Sampai jumpa di hari pernikahan kita," bisiknya.
***
Waktu berlalu sangat cepat, siap tidak siap, Asa maupun Altair harus siap dengan akad yang sebentar lagi akan berlangsung. Di dalam kamar, Asa sedang menangis terseduh-sedu, sehingga MUA kesusahan untuk merias wajahnya yang selalu basah akan air mata.
"Udah dong nangisnya, Kak! Bentar lagi kak Altair datang dan kakak belum selesai," omel Ayana.
__ADS_1
"Udah Sayang, semuanya bakal baik-baik aja. Setelah nikah kamu masih bebas berkujung ke rumah bunda. Kita nggak pisah beneran kok." Bunda Ara menghapus air mata yang berada di pipi putrinya. "Bunda tahu giman perasaan kamu sekarang. Secinta apapun dan seingin apapun kita nikah, pasti rasanya bakal beda kalau udah hari H."
"Bunda?"
"Iya sayang?"
"Gimana kalau setelah nikah nanti, Asa buat kesalahan dan Altair marah? Asa takut ngecewain Altair. Asa belum ...." Gadis itu semakin sesegukan.
"Aduh-aduh kok cengeng banget sih? Udah nangisnya! Waktu nggak bakal nunggu kita. Asa berhenti nangis dan cepatlah bersiap!" omel Alana yang mulai kesal. Bukan kesal menunggu, melainkan kesal sebab air matanya hampir tumpah mendengar tangisan Asa.
Wanita paruh baya yang sudah memiliki cuucu itu telah cantik dengan riasannya, dan tidak ingin merusak dengan air mata. Bukannya tersinggung akan omelan Alana, semua orang yang berada di kamar pengantin tersebut malah tertawa. Mungkin karena telah mengenal watak Alana yang lumayan cerewet untuk ukuran ibu-ibu.
"Tante tunggu di depan, awas nangis lagi," ucap Alana dan berlalu pergi sambil menggedong cucu pertamanya.
__ADS_1