Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 27 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Sesamsampainya di parkiran restoran tempat keduanya akan makan malam, terjadi aksi saling mendorong antara Asa dan Altair.


Altair ingin keduanya masuk secara bersamaan, tapi Asa malah ingin secara bergantian dengan alasan agar tidak tertangkap kamera.


Asa takut kalau saja di kawasan ini bertemu dengan fans-fans fanatik Altair yang akan membuat nama baik Altair buruk nantinya.


Lama mereka bertengkar hingga akhirnya Altair mengalah setelah mendapatkan tatapan tajam dari gadis yang dia cintai. Bukan takut pada Asa, hanya saja tidak ingin membuat gadis itu marah dan badmood secara tiba-tiba.


"Oke-oke aku bakal masuk lebih dulu. Udah jangan cemberut lagi Asa," pinta Altair mencubit pipi Asa.


Lantas saja gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Asa suka Altair yang penurut, ini untuk kebaikan pria itu sendiri.


"Sampai ketemu di dalam," ucap Asa melambaikan tangannya penuh senyuman. Tertawa cekikikan melihat Altair melambai tanpa membalik tubuhnya.


Asa baru menyusul sekitar 15 menit usai kepergian Altair. Itupun dia berjalan sambil menundukkan pandangannya, terlebih saat akan memasuki ruangan VIP yang telah Altair pesan sebelumnya.


Mulut Asa terbuka setengah, matanya membulat tatkala terkejut melihat dekorasi ruangan VIP yang sangat cantik dan mengesankan. Semuanya terasa sangat romantis, Asa suka tapi tidak boleh berharap lebih.


Belum selesai keterkujutannya melihat dekorasi, Altair telah berdiri lalu menarik kursi untuk Asa.


"Duduk dulu ratunya, Altair," ucap Altair mengulum senyum, terlebih saat melihat Asa tersipu malu.

__ADS_1


"Jangan liatin aku terus Altair! Salting ih," ucap Asa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tapi tidak berlangsung lama sebab Altair menarik tangannya untuk digenggam.


"Jangan malu-malu gitu, kita cuma makan malam aja. Lagian besok kita nggak bisa ketemu lagi." Altair cemberut. "Aku bakal ke Paris buat iklanin salah satu brand."


"Kok sedih?"


"Harus pisah sama kamu."


"Tapikan bakal dapat uang banyak Altair. Lumayan bisa nabung buat masa depan," cengir Asa yang tidak ingin larut akan suasana yang mengharukan.


Meski sulit dipungkiri hatinya tengah berbunga-bunga. Perutnya bagai digelitik ribuan kupu-kupu, jantungnya seakan pindah ke lulut sakin bapernya mendapatkan kejutan dari Altair.


"Buat nafakahin kamu dan anak-anak kita," celetuk Altair.


"Kenapasih? Jangan rusak suasana deh. Hati kamu dan hati aku nggak bakal berubah sampai kapanpun!" protes Altair penuh tekanan.


Pria itu sibuk mengelus tangan Asa yang berada di atas meja sambil menunggu hidangan datang.


Keduanya makan malam tanpa ada hari yang harus dirayakan, karena memang keduanya tidak pernah menjalin hubungan apapun.


Sesekali Altair melirik Asa yang meneliti ruangan berhiaskan lilin dan bunga mawar putih kesukaan gadis yang dia cintai.

__ADS_1


Tanpa sadar senyuman Altair merekah. Asanya sangat cantik dan tidak bisa ditandingi oleh siapapun, termasuk Ayana sekalipun.


"Aku tahu luka yang kamu pendam Asa. Aku tahu semuanya, tapi kenapa nggak sekalipun kamu jadikan aku tempat menjadi diri sendiri?" batin Altair.


Tentang Asa yang bukan anak kandung dari pasangan Ara dan Samuel, Altair telah mengetahuinya dari orang tuanya. Mendengar Asa selalu ingin menjadi anak baik untuk ayahnya membuat Altair yakin Asa tidak memiliki kasih sayang penuh sebagai seorang putri.


Andai saja Asa ingin menjadi miliknya, maka Altair telah membawa Asa menjauh dari semua orang.


"Jangan liatin aku terus!"


"Memangnya kenapa? Rugi tau nggak nikmatin wajah cantik yang ngalahin bidadari di surga," puji Altair dengan senyuman khasnya.


Lama menunggu dan makanan tidak kunjung datang, akhirnya Altair memutuskan untuk memberikan kalung yang dia beli tersebut.


Dia berdiri dan memegang kedua pundak Asa. Bukannya menurut, Asa malah mendongak karena penasaran. Bukan apanya, Altair itu jahil. Jangan sampai Asa menjadi bahan percobaan akan sesuatu yang baru.


"Ngapain? Ayo duduk!" perintah Asa.


"Ck, bisa diam nggak sih nyonya Adhitama? Jangan lupa tutup matanya!"


"Nggak mau!" tolak Asa.

__ADS_1


"Tutup mata atau aku cium!" ancam Altair.


Seketika Asa buru-buru menutup matanya, tidak protes saat Altair memposisikan dirinya menghadap sebuah dinding yang mematulkan bayangannya.


__ADS_2