
Karena akan makan malam bersama dengan Altair jam 7 malam. Asa akhirnya siap-siap lebih awal agar Altair tidak menunggu lama yang mungkin berakibat nekat bertamu di rumahnya.
Atensi Asa yang sedang duduk di meja riasnya teralihkan saat pintu kamarnya terbuka, menampilkan Ayana yang menghampiri penuh senyuman.
Gadis itu duduk di sisi ranjang sambil mengayung-ayungkan kakinya seperti anak kecil. Meneliti Asa yang membalik untuk menatapnya.
"Kok senyum-senyum mulu adek aku, kenapa tuh?" tanya Asa memulai pembicaraan.
Ayan mengingit bibir bawahnya, meremas tangan yang saling bertaut. Seakan malu menanyakan sesuatu pada kakaknya.
"Kak Asa mau ketemu kak Altair ya malam ini buat ngerjain Pr?" tanya Ayana akhirnya.
Asa mengangguk, lalu balik bertanya. "Kenapa?"
"Uummm, kalau Ayana nanya sesuatu sama kak Asa, bakal dijawab dengan jujur nggak ya?"
Asa memutar bola matanya sambil tersenyum mendengar pertanyaan konyol itu keluar dari mulut adiknya.
Dia berdiri lalu menghampiri Ayana di pinggir ranjang.
"Sejak kapan sih kakak pernah bohong sama kamu? Apa pernah kamu nanya tapi kakak abaikan?"
"Nggak." Cengir Ayana.
"Mau nanya apa? Kakak harus pergi ini."
Asa berjalan menuju meja untuk mengambil tas selempang yang selalu dia bawa. Tepat saat menunduk memasukkan ponselnya, pertanyaan yang Ayana lontar bagai aliran listrik yang menyangat tubuh Asa.
__ADS_1
"Kak Asa suka sama kak Altair?"
Itulah pertanyaan yang Asa dapatkan dari Ayana. Gadis itu mengigit bibir bawahnya, keningnya berkeringat.
"Kak Asa?"
"Hah? Kakak suka sama Altair? Nggaklah, kamukan suka sama dia Dek," ucap Asa terpaksa berbohong, hal itu berhasil menerbitkan senyuman Ayana.
Mendapat pesan dari Altair bahwa pria itu telah sampai di lokasi yang telah di janjikan, Asa segera meninggalkan kamar.
Mencium pungung tangan kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga. Sebelumnya Asa sudah meminta izin, dan diizinkan dengan syarat pulang sebelum jam 10 malam.
"Hati-hati, jangan ingkar janji lagi takut ayah marah," ucap bunda Ara dan dijawab anggukan oleh Asa.
Langkah kecil Asa terus bergerak, membawanya pada motor ducati merah yang terpakir tepat di samping rumah Asa.
Tanpa bertanya apapun dia langsung naik, takut ada yang melihat kebersamaan mereka.
Namun, Altair tidak kunjung melajukan motornya. Malah membimbing tangan Asa agar melingkarkan tangan dipinggang.
Alasan Altair naik motor karena ingin dipeluk oleh Asa, dan jika tidak dipeluk bukankah usahanya sia-sia? Ayolah Altair adalah pria yang tidak ingin rugi.
Entah waktu, uang ataupun cinta. Jika Altair menyukai sesuatu atau seseorang maka orang tersebut harus suka balik padanya.
Senyuman Altair mengembang, tidak dengan Asa yang mencebik mengetahui modus sepupunya.
"Padahal aku nggak bakal jatuh," cetus Asa dengan suara sedikit lantang agar suaranya di dengar oleh Altair.
__ADS_1
"Bukan masalah jatuhnya, tapi takut kamu kedinginan Asa. Kan kalau peluk aku, tubuh kamu hangat dikit," sahut Altair menahan senyum.
"Gombal."
Mendorong pundak Altair pelan, dimana membuat pria itu tertawa terpingkal-pingkal. Meski kesal, tetap saja Asa menyandarkan kepalanya di punggung Altair, merasakan kenyamanan dan ketenangan.
Aroma hujan kian menusuk indera penciuman Asa untuk saat ini.
"Altair?"
"Apa Sayang?"
"Kalau aku minta kamu jangan ninggalin aku gimana? Mau ngabulin nggak?"
Tawa yang sempat mereda kembali terdengar, Altair merasa lucu akan permintaa Asa.
"Tanpa kamu minta pun, aku nggak bakal ninggalin kamu Asa. Bahkan kalau papah ngamcem buat ngeluarin aku dari kartu keluarga, nendang aku jadi ahli waris, tetap kamu pilihanku!"
"Kita lihat nanti," sahut Asa dengan senyuman di wajahnya.
Mungkin kali ini Asa benar-benar akan egois. Tidak akan melepaskan kebahagiannya demi orang lain.
"Maafin kakak karena udah bohongin dan khianatin kamu Ayana," batin Asa.
Asa memejamkan matanya, menikmati semilir angin dan suhu dingin bercampur kehangatan yang disalurkan oleh tubuh Altair.
Apalagi saat motor pria itu berhenti di lampu merah, dimana Altair mengelus tangan Asa yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
Hubungan tanpa status tapi terasa begitu indah.