Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 25 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Mendapatkan motor dari ayah Samuel adalah hal yang membahagiakan untuk Asa dan Ayana. Sudah terhitung dua kali adik kakak itu mengelilingi kompleks sakin bahagianya.


Saat akan keliling untuk kedua kalinya, Asa dan Ayana di kejutkan dengan sosok pria tampan yang sedang duduk di atas motor ducati warna merah.


Ayana mengerjap-erjapkan matanya tidak percaya, berbeda dengan Asa yang jantungnya tidak karuan mengetahui Altair ada di sekitar rumahnya.


Bisa Asa tebak siapa yang akan Altair temui di sini, sungguh dia menyesal telah melupakan ponselnya di kamar.


"Kak, itu kan kak Altair, ayo kita sapa!" seruh Ayana, melajukan motornya lebih dulu untuk mendekati Altair yang belum menyadari keberadaan Asa dan Ayana.


Gadis cantik berusia 15 tahun itu tersenyum lebar setelah berada di hadapan Altair.


"Kak Altair," sapa Ayana penuh senyuman yang berhasil mengambil atensi Altair dari layar ponsel.


Tatapan Altair bukan tertuju pada Ayana, melainkan Asa yang baru saja mendekat dan berada tepat di samping adiknya.


Senyumnya merekah, senang Asa mempunyai motor baru seperti impiannya dulu.


Siapa yang menyangka senyuman Altair membuat Ayana kegeraan, terlebih pria itu memakai kacamata hitam sehingga tidak ada yang tau kemana arah pandangannya.


"Kak Altair pasti mau ketemu kak Asa kan? Katanya kalian berdua sekelas," ucap Ayana antusias.


Asa menelan salivanya kasar, tangannya berkeringat. Takut Ayana curiga dan menyadari sesuatu antara dia dan Altair.

__ADS_1


"Gue ada tugas kelompok sama Asa, boleh gue pinjam kakak lo?" tanya Altair membuka kacamata hitamnya.


Sejak tadi pria itu terus menghubungi Asa tapi tidak ada jawaban apapaun. Dia berencana ingin mengajak Asa makan malam bersama sekalian memberikan kalung yang selalu lupa dia berikan sebab terlalu sibuk.


"Ummmm gimana kalau kerja kelompoknya besok aja? Ak-aku hari ini nggak bisa karena ...."


"Bisa kok, kak Asa nggak sibuk," sahut Ayana cepat penuh senyuman. Menepuk pundak kakaknya sebanyak tiga kali, lalu berbisik sesuatu.


"Jangan lupa bantu Aya, ya kak. Janji nggak bakal ngasih tau ayah kalau kak Asa dekat sama cowok," bisik Ayana lalu melajukan motornya meninggalkan Asa dan Altair.


Saat itulah tatapan tajam Asa layangkan pada pria yang selalu nekat menemuinya tanpa memikirkan resiko yang terjadi.


"Ngapain ke sini Altair? Kalau ada yang liat gimana?" omel Asa.


"Tadi ketemu!"


"Tapi bareng Mark, aku nggak suka Asa. Oh iya selamat untuk motor barunya."


Asa mengangguk sebagai jawaban tanpa ada keinginan turun dari motornya.


"Jalan ntar malam ya? Aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu," pinta Altair.


Asa terdiam, memikirkan cara untuk menolak permitaan Altair. Dia tidak ingin keluar malam karena takut imagenya di mata ayah semakin jelek.

__ADS_1


"Diam tanda setuju, aku jemput jam 8 malam di sini!" ucap Altair memasang helm full facenya.


Melajukan motor tanpa mengidahkan keputusan Asa yang mungkin saja keberatan. Keberadaan Mark membuat Altair takut Asa akan berpaling darinya.


Terlebih Mark mempunyai banyak waktu bersama Asa tidak seperti dirinya yang terlalu sibuk di luar sekolah.


Kadangkala absen sekolah karena jadwal penting yang tidak boleh dia lewatkan. Akan masuk di waktu-waktu tertuntu saja. Misal, ujian dan beberapa kegiatan penting lain di sekolah.


Laju motor yang semakin kencang menbuat Asa tidak dapat melihat punggung Altair lagi. Ia menghela nafas panjang, ikut melajukan motornya kembali ke rumah, terlebih matahari perlahan-lahan mulai terbenam.


"Dasar tuan pemaksa," gumam Asa.


Tepat saat dia membelokkan motornya memasuki halaman rumah, Asa menyaksikan bagaimana tawa Ayana yang mengelagar berada di pangkuan ayah Samuel.


Asa buru-buru turun dari motornya lalu menghampiri dua manusia kesayangannya.


"Bahagia banget, Ayah sama Adek bahas apa?" tanya Asa antusias, duduk tepat di samping ayah Samuel.


"Ini kak Asa, masa Ayah ngatai Ayana kurusan, makanya naik ke pangkuan ayah biar tahu betapa beratnya Ayana," sahutnya.


"Memang kurus, harus banyak makan putri ayah!" sahut Samuel.


"Kalau Asa gimana, Ayah? Kurusan apa gendutan?" tanya Asa yang ingin masuk ke permbahasan keduanya.

__ADS_1


"Ayah nggan tau."


__ADS_2