
Samuel, pria paruh baya itu menghela nafas panjang ketika sampai di depan pagar SMA Angkasa tapi, tidak menemukan siapapun.
Sekolah itu tampak sepi, mungkin karena ia datang telambat. Ini semua sebab ban mobilnya yang tiba-tiba kempes di tengah jalan, sehingga berhenti untuk mengganti dengan ban serep.
"Kemana tuh anak?" gumam Samuel.
Ia merongoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Menghubungi Asa berkali-kali tapi tidak dijawab, bahkan sengaja ditolak.
Tangan Samuel terkepal, pria itu curiga Asa lagi-lagi melanggar janjinya untuk menjauhi Altair. Baru saja Samuel mulai memaafkan Asa, gadis itu malah kembali berulah.
Samuel membanting setir kemudi dengan kasar, melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata sehingga sampai dirumah sangat cepat.
Kedatangan Samuel disambut oleh bunda Ara yang telah menanti kedatangan suami dan putrinya. Sebab jarum jam telah menunjukkan angka setengah 4 sore, tapi satupun dari mereka tidak kunjung tiba.
"Asa mana, Bang? Katanya tadi mau jemput Asa," ucap Ara di ambang pintu.
"Sama Altair mungkin!" jawab Samuel dengan wajah memerah.
Tanpa bertanyapun Ara tahu suaminya sedang kesal. Ara tidak peduli, wanita paruh baya itu menuju kamar untuk menghubungi Asa secara bergantian dengan Altair. Ingin memastikan putrinya baik-baik saja.
"Asa ada sama kamu, Nak?" tanya bunda Ara setelah panggilannya dijawab oleh Altair.
"Iya Bunda, tapi maaf Altair nggak bisa ngasih tahu di mana."
"Dia baik-baik aja kan, Al? Bunda nggak peduli dia ada di mana yang penting sama kamu. Jaga putri bunda baik-baik ya."
__ADS_1
"Tentu. Lagipula Altar nggak bakal biarin Asa tinggal serumah sama orang yang membencinya!"
"Si ...."
Bunda Ara menghela nafas panjang karena Altair memutuskan sambungan telpon begitu saja. Atensinya teralihkan pada sang suami yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Abang ngapain Asa? Bukannya akhir-akhir ini udah mulai nerima dia?" tanya Ara.
Meski hatinya sedang kalut, dia tetap saja membantu Samuel mengeringkan rambut.
"Nggak di apa-apain."
"Terus kenapa Altair ngomong ada yang benci sama Asa di rumah ini? Abang pura-pura baik?"
Ara yang menyadarinya hanya bisa menghela nafas panjang. Sejak dulu sampai sekarang Samuel tidak pernah berubah. Tidak ingin disalahkan dan selalu merasa benar. Akan sadar jika sudah kehilangan.
"Ayah!" pekikan seorang gadis dari lantai bawah mengundang atensi Ara dan Samuel.
Kedua manusia paruh baya itu berlari untuk melihat kenapa Ayana tiba-tiba berteriak, padahal tadi sedang berada di kamar.
Wajah gadis itu memerah, matanya terus mengeluarkan bulir-bulir bening. Ara mendekat dan merengkuh putrinya yang sesegukan.
"Aya kenapa, hm? Dramanya sad ending lagi?" tanya Ara dengan polosnya, karena sering kali Ayana menangis dan membuat semua orang panik, tapi ujung-ujungnya gadis kecil itu hanya menangisi ending sebuah drama yang tidak sesuai espektasinya.
Ayana mengelengkan kepalanya, tatapan gadis itu tertuju pada ayah Samuel.
__ADS_1
"Ayah jahat!"
"Kok Ayah?"
"Kenapa Ayah tega mau misahin kak Asa sama kak Altair? Aya kan udah bilang nggak mau sama kak Altair lagi!" ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.
Gadis itu baru saja mendapat telpon dari Altair yang mengatakan segalanya, bahkan mengirim rekaman yang Altair ambil saat pembicaraan Samuel dan Asa di rumah sakit.
Lebih parahnya lagi Altair melimpahkan semua kesahalan ayah Samuel pada Ayana.
"Jadi yang dikatakan kak Asa benar? Ayah nggak pernah sayang sama kak Asa."
"Sayang?" panggil Samuel mencoba mendekat, tapi tangannya malah ditepis oleh Ayana.
"Kak Asa lagi sakit, umurnya nggak lama lagi. Tapi kenapa ayah tega nyuruh kak Asa milih antara kasih sayang ayah dan cinta kak Altair? Padahal kak Asa bisa milikin keduanya kalau ayah mau!" bentak Ayana.
Tatapan yang dulu memuja kini hilang di manik coklat milik Ayana, yang ada hanya rasa kecewa.
Ayana sangat menyayangi kakaknya, karena Asa tidak pernah sekalipun membuat Ayana kecewa.
Apapun yang Ayana inginkan, akan ia dapatkan dari Asa. Asa selalu mengalah padanya, lalu atas dasar apa hati kecil Ayana berpikir untuk menyakiti kakaknya?
"Ayana benci sama Ayah!" teriaknya dan berlari menuju kamar.
Menutup pintu sangat kencang hingga suaranya mengema di langit-langit rumah.
__ADS_1