Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 46 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Ara menatap nyalang suaminya karena lagi-lagi mengungkap status Asa yang merupakan bukan anak kandung mereka.


Dada wanita paruh baya itu bergemuruh hebat, rasanya ia ingin menampar Samuel sekarang juga, tapi dia sadar menghadapi Samuel dengan emosi malah akan memperburuk suasana.


"Berhenti bawa-bawa status Asa dalam masalah ini, Bang! Dia putriku jauh sebelum kamu dan Ayana hadir!"


Ara membalik tubuhnya, merasa lelah bertengkar dengan sang suami, namun saat akan melangkah, tangannya malah ditarik oleh pria egois di hadapannya.


"Sadar Ra! Jangan korbanin kebahagian putri kita hanya karena Asa. Apa belum cukup dia buat keluarga kita menderita hah? Dia adalah penyebab kita nggak bisa punya anak lagi dan sekarang dia adalah penyebab putri kita sakit hati!" ucap Samuel masih pada pendiriannya, tidak menyadari gadis yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Aku nggak mau dengar apapun, Asa dan Altair harus bersatu," lirih Ara yang mulai lelah bertengkar.


"Kenapa mikirin benalu kayak dia hm? Harusnya ini saatnya dia berkorban untuk kita dan ...."


Ucapan Samuel berhenti karena sebuah tamparan yang melayang di pipinya.


"Dia bukan benalu Bang, dia putriku! Apa kau lupa dia sudah menderita sejak lahir hah? Dia punya panyakit jantung, apa kamu nggak bisa biarin dia bahagia sebentar aja?" tanya Ara dengan suara bergetar.


Air mata wanita paruh baya itu tumpah, tangannya bergetar karena lagi-lagi menampar suaminya tanpa sadar padahal tadi sudah menahan diri mati-matian.

__ADS_1


"Ara ...."


"Beri putriku kebahagiaan dikit aja, jangan benci dia karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Dia cuma mau kasih sayang kamu, Bang. Bukan harta ataupun nyawamu," lirih Ara. Tidak ada lagi suara bentakan yang keluar dari mulutnya.


Wanita paruh baya itu menatap suaminya penuh permohonan.


"Jangan nangis ...." Samuel bersujud tepat di hadapan istrinya, mengapus air mata Ara yang terus berjatuhan tanpa diminta.


Samuel adalah tipe pria yang jika dibentak amarahnya akan semakin berkobar, tapi jika bicara dengan suara rendah, maka amarahnya akan mereda.


Namun, siapapun tidak bisa berucap tanpa emosi jika berhadapan dengan Samuel. Pria egois mungkin sejak lahir ke kedunia.


Bibir Asa telah berdarah karena ulahnya sendiri, dadanya terasa sesak mengetahui alasan kenapa ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah Samuel.


Tubuh yang bergetar membuat Asa tidak sadar telah menjatuhkan ponselnya sehingga mengundang atensi dua manusia yang berada di kamar.


Samuel dan Ara menoleh ke arah pintu mendengar suara tersebut. Sama-sama terkejut melihat orang yang menjadi topik pertengkaran tengah menunduk untuk mengambil ponselnya.


"Asa?" ucap Ara menghampiri putrinya.

__ADS_1


"Maaf, harusnya Asa nggak di sini, Bunda," sahut Asa dan berlari ke kamarnya, mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya di dalam sana.


Tangisan pilu yang tidak mampu dipikul oleh siapapun sakin beratnya.


"Jadi ini alasan ayah nggak sayang sama aku?" gumam Asa. "Selain penyakitan, Asa ternyata bukan bagian dari mereka. Asa cuma benalu di rumah ini." Isakan Asa kian mengeras, untung saja gadis itu berada di kamar mandi sehingga tidak ada yang bisa mendengar tangisannya yang menyayat hati.


Sementara di tempat lain, yakni kamar utama. Ara tengah menatap tajam Samuel.


"Kalau sampai Asa kenapa-napa ini semua salah kamu!" bentak Ara dan keluar dari kamar.


Mengetuk pintu terus menerus tapi tidak ada sahutan dari dalam sana. Ara sangat takut putrinya melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri.


"Asa, buka pintunya Nak! Ini bunda. Bunda bisa jelasin semuanya sama Asa. Bunda mohon, buka pintunya," pekik Asa terus mengedor-gedor pintu.


Sedangkan pemilik kamar sedang sibuk di dalam kamar mandi entah melakukan apa.


"Sayang, jangan buat bunda khawatir gini," lirih bunda Ara.


Yang membuat Ara semakin takut adalah kondisi Asa yang mungkin drop, terlebih dokter mengatakan imun tubuh Asa mulai melemah. Obatpun tidak akan berfungsi dengan baik seperti beberapa tahun belakangan.

__ADS_1


Pengcangkokan jantung sangat mustahil dilalukan pada Asa yang penyakitnya sangatlah parah. Tingkat keberhasilan tidak mempunyai harapan untuk hidup.


__ADS_2