Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 28 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Tepat saat hitungan ketiga keluar dari mulut Altair, Asa perlahan-lahan membukanya matanya sesuai permintaan pria itu.


Bibirnya berkedut karena menahan senyum melihat benda yang sangat cantik tersemat di lehernya yang polos. Dia mendongak menatap Altair yang tersenyum penuh kehangatan.


"Senyum dong!" pinta Altair.


Akhirnya Asa tersenyum lebar, rasa bahagianya sulit untuk diungkapkan oleh kata-kata malam ini. Asa seakan menginginkan waktu berhenti sampai di sini saja agar dia tidak kehilangan Altairnya.


Mata yang semula menyipit itu membulat sempurna ketika Altair menunduk dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir Asa.


Jantung keduanya berdetak tidak normal, terlebih untuk Asa yang memang mempunyai penyakit jantung bawaan.


Sadar akan apa yang dia lakukan dan teringat oleh ayahnya, Asa mendorong pelan dada Altair agar tidak melakukan lebih lama lagi. Asa menghargai orang tuanya dengan cara menghargai tubuhnya sendiri.


Seringkali sesuatu terjadi lewat ciuman dan Asa tidak ingin terikat pada Altair. Bukan karena tidak cinta, tapi dia tidak yakin akan hal yang akan terjadi kedepannya.


Gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya melihat wajah masam Altair.


"Makasih dedek gemes dan maaf karena nggak bisa ngasih lebih. Usia kamu masih dibawah umur," ucap Asa mengusap rambut Altair hingga berantakan.


Altair merengut, kembali duduk di kursinya bertepatan beberapa pelayan datang membawakan menu special untuk malam ini.


Usai semuanya terhidang, pelayanpun pergi. Memberi waktu untuk Asa dan Altair bersama.


Mengerti suasana hati adik sepupunya yang bad mood sebab telah menolak ciuman, Asa bernisiatif menyenangkan hati pria itu.

__ADS_1


"Ayo makan Altairnya Asa, aku yang suapin sampai habis," ucap Asa mengeser kursinya berada tepat di samping Altair.


Asa mengulum senyum karena mood Altair selalu mudah untuk diperbaiki, pria itu dengan telaten menerima suapan Asa hingga setengahnya, dengan imbalan Altair juga harus menyuapi Asa.


Sesekali tawa keduanya terdengar kalau saja sama-sama jahil memasukkan makanan ke mulut masing-masing.


Sesi makan malam usai setelah jarum jam menunjukkan angka 9 lewat beberapa menit. Tahu mempunyai waktu sedikit, Altair lantas merubah mimik wajahnya menjadi lebih serius.


Dia meraih tangan Asa yang bebas di atas perutnya, keduanya sedang menikmati pemandangan kota melalui kaca tebal yang berada di ruangan VIP tersebut.


"Aku mau ngomong serius," ucap Altair.


"Apa tuh?" tanya Asa tanpa merubah posisinya yang bersandar di pundak Altair.


"Kamu milik aku, Asa! Ada atau nggaknya persetujuan dari siapapun."


"Karena kamu milik aku, maka jangan dekat-dekat sama siapapun termasuk Mark! Aku cemburu, aku merasa dia adalah saingan."


Asa tertawa mendengar ucapan Altair. Apapun pembicaraanya, Altair selalu mengemaskan untuk Asa.


"Altair itu tampan, kaya, perhatian, peka, manja dan udah pasti suka sama aku. Terus kenapa aku harus nyari yang lain?"


Kali ini Asa menatap Altair yang raut wajahnya benar-benar serius.


"Aku bisa bunuh orang tanpa menyentuh."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Asa cuma milik Altair untuk selama-lamanya. Kalau ada yang berani ngambil, berarti dia punya nyawa lebih dari satu."


"Apasih?"


"Intinya jangan dekat sama siapapun yang berjenis kelamin pria, termasuk Mark!" ucap Altair penuh tekanan.


"Iya nggak bakal kok tenang aja tuan egois!" Asa mengulum senyum, menganggap ucapan Altair adalah angin lalu.


"Egois?" Kening Altair mengerut.


"Hm, egois pakai banget. Aku nggak bisa dekat sama laki-laki manapun, tapi kamu bisa dekat sama cewek manapun. Sampai pas konser pamer perut. Tau nggak sih perut kamu itu nggak ada seksi-seksinya?" todong Asa.


Seketika raut wajah serius Altair merengut, tidak terima Asa mengatai perutnya tidak seksi. Apa waktunya untuk nge Gym terbuang sia-sia.


"Serius ih?"


"Serius!"


Wajah Altair semakin masam karena kesal, pria itu berdiri di hadapan Asa. Mengangkat bajunya tanpa aba-aba sehingga memperlihatkan perut yang kotaknya berjumlah banyak.



"Kurang seksi apa lagi coba, Sa?" tanya Altair menggoda.

__ADS_1


Sementara pipi Asa telah merona, menyesal telah membahas perut yang pernah membuatnya kesal beberapa hari yang lalu saat konser.


"Apasih Altair! Nggak sopan ih!" Menutup wajahnya dengan tangan, meski sesekali mengintip.


__ADS_2