
Pagi yang indah, seindah suasana dan senyum Asa yang menuruni satu persatu anak tangga. Gadis itu sangat senang ketika bangun sudah berada di kamarnya. Kamar yang sangat dia rindukan.
Langkah Asa terus bergerak hingga sampai di dapur, langsung memeluk bundanya yang seperti biasa sedang menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga.
"Asa kangen, Bunda. Maafin Asa udah buat bunda khawatir dan hilang tanpa kabar. Asa pengen nelpon Bunda, tapi ponsel Asa diambil sama Altair," ucap Asa.
Langsung menjelaskan semuanya tanpa diminta. Gadis itu tidak ingin bundanya salah paham dan berakhir memarahinya.
Bunda Ara menghentikan pekerjaanya, berbalik untuk membalas pelukan Asa tidak kalah erat. Mengecup wajah pucat putrinya berulang kali.
"Bunda maafin. Lagian bunda tahu kamu diculik sama Altair, dia udah jelasin semuanya sama bunda. Kalau bukan dia mana mungkin bunda tahu kelakuan ayah."
Bunda Ara tersenyum lebar, begitupun dengan Asa.
Karena matahari belum terlihat sepenuhnya, Asa membantu bunda Ara menyiapakan sarapan. Setelahnya kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke sekolah.
Dia sudah tidak sabar untuk berangkat ke sekolah dan bertemu teman-temannya. Terutama Fely dan Mark.
"Kak Asa!" pekik Ayana berlari, memeluk tubuh Asa yang sedikit kurus dari biasanya. Entahlah, Asa rajin makan tapi beratnya kian berkurang seiring berjalannya waktu.
"Kakak kangen sama kamu."
"Aya juga kangen sama kak Asa. Aya kesepian di rumah sendirian."
"Ditinggal bentar aja makin cantik, gimana lama ya? Pasti udah secantik bunda." Puji Asa mengacak-acak rambut adiknya.
Ayana mengembungkan pipi, tidak senang dengan pembahasan kakaknya. Ayana tidak ingin ditinggal lagi, meski satu hari saja.
"Kak Asa nyebelin!" gerutunya berjalan ke meja makan.
Duduk bertiga dan menikmati hidangan yang tersedia. Selama itu pula atensi Asa cukup liar melirik kiri dan kanan. Dia sedang mencari keberasaan ayah Samuel tapi tidak kunjung dia temui di rumah.
"Ayah mana, Bunda?" tanya Asa.
"Ayah di usir sama ...."
__ADS_1
"Ayah ada jadwal penerbangan, entah kapan pulang. Ayo makan terus kalian berangkat," ucap Ara cepat, memotong kalimat Ayana karena tidak ingin Asa mengetahui apa yang terjadi di rumah selama gadis itu pergi.
***
Asa, gadis itu mengerjap-erjapkan matanya ketika akan memasang helm. Motor ducati merah berhenti tepat di depan motor birunya.
Bahkan ban depan mereka saling bersentuhan. Asa mengembungkan pipinya melihat hal tersebut.
"Kok ditabrak?" tanya Asa tidak jadi memasang helmnya.
Sementara yang ditanya hanya menyengir tanpa dosa.
"Berangkat bareng aku, kitakan pacaran," sahut Altair menepuk jok belakangnya.
Asa mengeleng cepat. "Nggak, nanti ada yang liat terus difotoin terus ...."
"Terus nabrak!" potong Altair kesal.
Pria itu turun dari motornya, mengendong Asa asal lalu mendaratkan di jok belakang motornya.
Mulai hari ini, Altair tidak akan memberikan celah sedikitpun Asa menjauh darinya, tidak peduli rumor yang akan menyebar.
Toh Altair telah memutuskan hiatus setelah comeback untuk terakhir kalinya dua bulan ke depan.
Pria itu menarik tangan Asa agar melingkar di pinganggnya.
"Pegang yang erat biar nggak jatuh," ucapnya.
Asa mendengus, meski begitu tetap memeluk Altair. Ayolah sebenarnya Asa senang diperlakukan dengan baik oleh Altair, hanya saja sering merasa malu karena Altair jauh lebih muda darinya.
Sepanjang jalan menuju sekolah, ada saja pembahasan yang membuat keduanya tertawa di atas motor. Entah Altair yang menggoda kekasihnya yang tampak diam, atau Asa yang mencubit perut Altair karena nakal.
"Entar, pulang sekolah, temenin aku latihan," ucap Altair setelah sampai di perkiran sekolah.
Memegang pucuk kepala Asa agar tidak celingak-celinguk melihat tatapan teman-temannya.
__ADS_1
Tatapan penuh tanya dan iri karena Asa berangkat bersama Altair untuk pertama kalinya.
"Mau nggak?"
"Iya, tapi lepasin dulu! Aku mau ke kelas ...." Asa memutar bola matanya malas ketika Altair malah mengenggam tangannya cukup erat.
Tidak tahuka pria itu bahwa sekarang jantung Asa berpacu tidak karuan? Asa takut Iren melabrak dirinya dan mencari masalah. Asa tidak ingin memiliki musuh dimanapun, terutama di sekolah.
Gadis itu sesekali berusaha melepaskan genggaman tangan Altair. Namun, Altair seakan tidak mengerti, malahan memeluk erat pinggangnya.
"Jadian nggak sih?" bisik teman sekolah yang mereka lewati di koridor.
"Eh-eh baru ingat. Postur tubuh yang diposting sasaeng beberapa minggu yang lalu mirip Asa."
"Jangan bilang yang di kira staf emang beneran Asa lagi?"
Telinga Asa mulai berasap mendengar bisik-bisik dari teman-temannya. Gadis itu berlari ke kelas setelah berhasil melepaskan diri dari Altair.
"Sa?" panggil Altair.
Pria itu memicingkan matanya pada teman-teman yang lain.
"Asa pacar gue, jadi nggak usah buat prasangka lagi," ucap Altair lalu menyusul Asanya yang telah pergi.
Sementara kaum hawa yang mendengar hal tersebut semakin berbisik satu sama lain. Sedikit tidak menyangka Altair dan Asa benar-benar pacaran.
"Gimana ya reaksi Iren?" tanya salah satu dari mereka.
"Keknya bakal ada labrak melabrak sih."
"Kok aku senang ya Asa dan Altair pacaran? Mereka tuh pasangan serasi!" seru fans sejati Altair yang mendukung Biasnya dengan siapapun asal bahagia.
"Eh iya tau. Apalagi mereka udah saling kenal sebelum Altair jadi idol."
Gosip terus saja berlangsung di koridor dekat pintu masuk, sehingga siapa saja yang lewat akan mendengarnya. Terutama Mark, Fely dan Iren yang baru saja sampai di sekolah.
__ADS_1