
" Lo dengar nggak sih bos kita ngomong apa?"
Lagi Asa mendapatkan dorongan hingga tubuhnya hampir terjatuh kalau saja Fely tidak datang untuk menahan.
Asa diam sama bukan karena takut, melainkan tidak ingin ayah Samuel marah. Sudah cukup untuknya tidak bisa membanggakan ayah Samuel seperti yang Ayana lakukan, ia tidak ingin membuat masalah di sekolah.
Tangan Asa mengepal di sisi tubuhnya.
"Kamu apa-apaansih? Terus ganggu Asa! Kalian kalau suka sama Altair suka aja, jangan nyari masalah. Kalau suka itu datangin orangnya, bukan malah datangin saingannya!" bentak Fely.
Gadis itu ingin kembali bicara, tapi Asa malah mengenggam tangannya seraya berbisik.
"Udah Fel, nggak ada gunanya ladenin dia. Ayo kita pergi," bisik Asa.
Dia menarik tangan Fely dan mutar tubuh menuju kantin tanpa berpikir akan menemui Altair. Namun, kepalanya terasa sangat sakit kala rambutnya ditarik dari belakang cukup kuat.
Asa meringis, membalik tubuhnya dan membalas jambakan yang Iren lalukan. Keduanya saling menjambak hingga di mana Iren melepaskan jambakan dan tersengkur ke lantai, bahkan kepala wanita itu membentur tiang di koridor.
"Aaaawwweww sakit," rintih Iren. Gadis itu dibantu oleh teman-temannya berdiri.
Sementara Asa terpaku, bergerak untuk menolong Iren karena menyesal telah menyakiti. Tapi apa yang dia lakukan malah salah di mata orang lain, termasuk guru yang baru saja melintas.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya guru Bk. "Iren, kening kamu memer, itu kenapa?"
"Di dorong sana Asa, pak! Padahal Iren nggak ngapa-ngapain." Adu teman-teman Iren.
__ADS_1
"Mereka yang salah pak! Orang kak Iren yang jambak rambut Asa," sela Fely.
Asa bergeming, mengatur nafasnya yang memburu.
"Maaf Sa, tadi gue nggak bermaksud lukain lo, gue cuma mau temanan," lirih Iren.
"Kamu kok tega Ren? Jelas-jelas kamu yang mulai duluan!" ucap Asa tidak suka pada sikap Iren yang selalu membalikkan fakta.
"Kalian ini selalu saja bertengkar! Terutama kamu Asa! Udah nilai nggak pernah benar, masih aja buat masalah."
"Pak?"
"Bawa Iren ke UKS, dan kamu Asa. Panggil orang tuamu untuk menghadap! Begini nih kalau usianya udah 20 tahun, sok berkuasa," omel sang guru membuat Asa terhenyak.
"Jangan panggil orang tua saya Pak, saya janji nggak bakal ngelakuin kesalahan lagi. Saya rela dihukum," pinta Asa terus memohon.
Agaknya permohonan Asa membuahkan hasil, terbukti guru Bk tersebut membalik tubuhnya dengan salah satu alis naik. Seakan mempertimbangkan permintaan Asa.
"Lari 10 putaran di lapangan indor!"
"Makasih Pak!" seru Asa penuh senyuman.
Perasaannya lega karena pak Adnan berbaik hati untuk memberi keringanan untuknya. Asa lebih rela lari 10 putaran dibandingkan mendapat tatapan tajam dari sang ayah.
Gadis itu berlari menuju lapangan, mengatur nafas berulang kali sebelum mengitari lapangan.
__ADS_1
Fely yang melihat temannya dihukum lantas mengikuti, setidaknya Asa tidak lari sendirian di tengah teriknya matahari.
1 hingga 3 putaran nafas Asa masih baik-baik saja, tapi tidak saat putaran berikutnya. Gadis itu mulai terangah-engah, detak jantungnya kian melemah.
"Ayo pura-pura pingsan aja, Sa. Yakin deh pak Adnan pasti maklum," bisik Fely.
Asa mengeleng, dia takut pak Adnan mengabari ayah Samuel tentang ulahnya.
5 putaran, keringat dingin mulai membanjiri tubuh Asa. Sesuatu yang mengalir mulai Asa rasakan pada hidungnya. Buru-buru ia menghampus menggunakan punggung tangan.
Sangat diuntungkan Fely telah meninggalkan lapangan. Gadis itu ke kantin untuk membeli minum.
Dari kejauhan ada yang memperhatikan Asa, tepatnya perjalanan menuju gudang belakang.
Langkah orang itu semakun cepat, tapi tangannya malah ditarik oleh sang manager yang setia mengintili kemanapun agar Altair tidak berbuat ulah.
"Jangan pergi! Dia cuma dihukum!" ucap Jihadi, sang manager.
"Lo nggak liat ada darah di tangannya hah?"
"Tapi Altair, kamu itu sorotan media. Semua orang menanti kabar tentang kesalahan yang ... Altair!" teriak Jihadi.
Namun, Altair tidak peduli. Pria itu melepar jaketnya ke sembarang arah dan berlari menuju lapangan indor.
"Asa berhenti!" pekik Altair tapi Asa seakan tuli, terus berlari meski kesadarannya hampir hilang.
__ADS_1