Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 71 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Rencana yang telah Altair dan Asa susun untuk jalan-kalan ke pantai akhirnya gagal karena kedatangan ayah Samuel.


Altair sedang tiduran di kursi santai tepat di pinggir kolam dengan kacamata hitam di wajahnya. Kacamata tersebut guna menghalangi matahari yang menyilaukan mata.


Ia sendirian berjemur di pinggir kolam, sementara Asa dan Ayah Samuel sedang berada di dalam rumah. Membicarakan hal yang katanya tidak bisa diketahui oleh siapapun.


Altair sesekali melirik pada dinding kaca, memperhatikan Asa dan ayah Samuel yang duduk membelakanginya.


"Ma-maafin Asa, Om. Seharusnya Asa nggak ingkar janji dan pergi sama Altair," lirih Asa meremas jari-jari tangannya.


Gadis itu memberanikan diri untuk mendongak ketika tangannya di genggam oleh ayah Samuel.


"Maafin ayah. Seharusnya ayah nggak egois mikirin kebahagiaan Ayana. Harusnya ayah nggak benci sama kamu, Nak," ucap Samuel.


"O-om nggak salah. Asa yang salah karena menyebabkan kecelakaan itu. Asa yang udah nyusahin kalian karena penyakitan ...."


Gadis itu membulatkan matanya tidak percaya ketika ayah Samuel langsung memeluknya tanpa diminta. Dengan ragu, ia membalas pelukan hangat ayah angkatnya.


"Ayah yang bodoh, harusnya ayah nggak nyalahin kamu atas semuanya Nak. Ayah dibutakan sama keegoisan ayah sendiri, sampai nggak sadar udah nyakitin hati putri sulung ayah." Suara Samuel terdengar sangat lirih.


Asa bisa mematikan ayah angkatnya sedang menahan isakan. Air mata Asa luruh. Rasanya sangat bahagia ayah Samuel memanggilnya anak dan mengenggapnya putri sulung.


"Ayah yang salah karena ninggalin kelian bertiga karena pekerjaan. Andai waktu itu ayah ada di rumah, mungkin kecelakaan nggak bakal terjadi. Maafin ayah, Nak."


Asa lagi-lagi mengelengkan kepalanya. Semakin mengeratkan pelukan pada sang ayah.

__ADS_1


"Asa sayang sama Ayah. Asa pengen banget dapat kasih sayang ayah tanpa harus mengemis. Makasih ayah udah anggap Asa ada," ucap Asa dengan suara bergetar. Tanpa sengaja ia pun mengubah panggilannya.


Sungguh Asa tidak pernah memiliki dendam pada ayahnya meski disakiti berulang kali.


"Tapi maafin Asa, Ayah. Asa nggak bisa lepasin Altair. Asa cinta sama dia, maaf."


"Nggak papa, ayah nggak bakal marah sama Asa." Samuel melerai pelukannya. Tersenyum pada gadis yang dulunya sangat mengemaskan. Gadis yang membuat rumah tangganya dan Ara berwarna sebelum kehadiran Ayana.


Karena keegoisan yang dia miliki, Samuel menghancurkan keluarga harmonis yang dia miliki. Mengecewakan kedua putrinya.


"Altair milik kamu, Nak. Ayah nggak bakal misahin kalian lagi. Makasih udah mau maafin ayah. Makasih udah nyelematin Ayana dari karma yang pernah ayah perbuat dulu pada bunda."


Asa mengangguk, tersenyum meski air mata terus saja lolos di iris indahnya. Ia mengenggam tangan kekar ayah Samuel yang setia menghapus air mata di pipinya.


"Pulang ya? Kita perbaiki rumah yang telah rusak dan memperkuat pondasinya."


Samuel mengeleng dengan mata berembun. Ternyata bukan kebencian yang diinginkan hatinya, melainkan kedamaian bersama putri sulungnya.


Lagi, Samuel baru sadar akan keegoisannya setelah menghancurkan hidup orang lain, menyakiti hati orang-orang yang ia sayangi.


"Ayah tunggu di rumah ya. Kita berobat sampai kamu sembuh sepenuhnya dan hidup bahagia bersama Altair."


Asa mengangguk, ikut berdiri ketika ayahnya beranjak. Mengantar hingga di depan pintu.


Melambaikan tangan mungilnya pada sang ayah yang mulai melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Altair.

__ADS_1


Setelah kepergian ayah Samuel, barulah Asa menghampiri Altair yang memainkan ponselnya sambil berbaring.


"Altair?"


"Hm."


"Itu ponsel aku kan?" tanya Asa ikut duduk di samping Altair.


Refleks pria itu menyembunyikan ponsel Asa, lalu memberikan ponselnya sendiri.


"Aku nggak mau ponsel kamu."


"Ya udah." Cueknya.


"Marah?"


"Mata kamu sembab, pasti habis nangis. Ini semua gara-gara om Samuel. Kenapa sih, tua bangka itu sering banget buat masalah? Apaan coba tadi meluk-meluk."


"Kamu cemburu?" Asa mengulum senyum.


"Cemburu? Cemburu cuma buat orang jelek, aku kan tampan, ngapain cemburu." Elak Altair.


"Btw kalian bicarain apa?" lanjutnya.


"Ayah nyuruh aku pulang kerumah dan janji bakal sayang lagi sama aku. Ayo pulang Altair! Aku kangen sama bunda!" ajak Asa menarik-narik tangan Altair.

__ADS_1


"Nggak percaya om Samuel bakal restuin kita."


__ADS_2