Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 15 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Jadwal yang semakin padat membuat Altair kian merasa lelah. Bukan tubuh yang lelah, melainkan hati karena merindukan Asanya.


Jangkan untuk melihat, bertanya kabar saja Altair tidak sempat sebab ponselnya lagi-lagi di pengan oleh Jihadi. Alasannya cukup simple, Jihadi tidak ingin Altair membuat masalah di tengah-tengah jadwal yang berlangsung.


Seminggu full begitu lama untuk Altair, dan ketika jadwal itu dinyatakan selesai. Altair meninggalkan semua kru dan Jihadi seorang diri di lokasi.


Altair berangkat menggunakan pesawat seorang diri tanpa menunggu siapapun hanya untuk menemui Asanya.


Senyuman Altair mengembang setelah sampai di apartemen. Rumah tempatnya selalu menghabiskan waktu bersama Asa jika tidak ada jadwal penting.


Pria itu lantas merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, menghubungi Asanya dan meminta bertemu tanpa kenal lelah.


Senyuman Altair mengembang sempurna tatkala panggilannya dijawab. Dia terdiam, menikmati suara yang sangat dia rindukan.


"Urusannya udah selesai? Sekarang nggak sibuk lagi?"


"Hm."


"Jangan lupa istirahat Altair, satu minggu full aku yakin kamu lelah banget."


"Pengen peluk," rengek Altair. Pria itu sedang tengkurap di atas ranjangnya, menyembunyikan setengah kepala pada bantal sambil memejamkan mata.


"Udah tengah malam, besok ketemu di sekolah aja."


"Pengen sekarang." Altair memanyungkan bibirnya padahal Asa tidak bisa melihat.


Sungguh pria itu sangat ingin memeluk temannya.


"Altair!"

__ADS_1


"Nggak mau Asa, pengen hug sekarang. Atau aku yang kerumah deh, gimana?"


Helaan nafas terdengar di seberang telpon, setelahnya Asa mengiyakan permintaan Altair untuk bertemu di apartemen milik pria itu.


"Wait, aku nyuruh sopir pribadi buat jemput kamu. Sampai jumpa sayangku." Mengecup layar ponsel sebelum mematikan sambungan telpon.


***


Asa menghela nafas panjang setelah panggilan berangkhir, melirik jarum jam yang menunjukkan angka 9 malam.


Dia mengigit bibirnya, berpikir bagaimana caranya meminta izin pada sang ayah.


Dengan ragu Asa keluar dari kamarnya setelah rapi, dia dikejutkan dengan kedatangan Ayana yang tiba-tiba langsung memeluknya.


Asa jelas kaget, tapi tetap memperlihatkan senyuman bahagia.


"Apanih kok peluk-peluk kakak? Bahagia banget keliatannya," ucap Asa penuh kasih sayang.


"Serius? Kakak ikut senang dengarnya Dek. Pokoknya Aya harus dandan cantik," mengusap pipi Ayana.


"Kak Asa mau kemana?"


"Ummm, mau jalan sama Fely bentar. Ini mau izin sama ayah dan bunda."


"Semangat kakakku sayang." Ayana mengepalkan tangannya usai melerai pelukan.


Sementara Asa kembali melangkah untuk menemui ayah dan bundanya di ruang keluarga.


Gadis itu lantas duduk di hadapan orang tuanya yang tengah bermesraan.

__ADS_1


"Ayah sama bunda romantis banget keliataanya, Asa jadi iri," ucapnya basi-basi dan dijawab tawa oleh Ara, tapi tidak dengan Samuel yang tampan acuh.


"Rapi banget putri bunda, mau jalan sama pacar ya?" canda bunda Ara lantas mengundang lirikan Samuel pada Asa.


"Putri kita udah besar, Bang. Udah tau cinta-cintaan."


Asa tersipu, bunda Ara selalu mendukung keinginan anak-anak mereka.


"Asa boleh keluar bentar?"


"Kemana?" tanya Samuel tanpa menoleh.


"Ketemu teman, Yah. Asa janji pulang cepat dan jaga diri."


"Pergilah Nak, tapi ponselnya harus aktif terus ya." Bunda Ara berdiri untuk mengecup kening putrinya.


Melambaikan tangan saat Asa telah berjalan menjauh. Ara kembali duduk di samping suaminya, memeluk lengan Samuel cukup mesra.


"Aku tahu di dalam lubuk hati Abang paling dalam, rasa sayang buat Asa masih ada. Buktinya sampai nanyain pas putrinya mau keluar," gumam Ara.


"Abang harus tahu kecelakaan itu bagian dari musibah dan cobaan dari yang kuasa. Mungkin hari itu kalau aku nggak nganter Asa ke sekolah, bisa aja aku jatuh dari tangga atau hal lain yang micu terjadinya kecelakaan. Lagian hari itu hujan deras, Abang lagi ada jadwal penerbangan. Sopir bawa Ayana ketemu bunda dan Ayah."


Samuel masih bergeming, seakan tidak mendengarkan penuturan istrinya.


"Apa Asa tinggal sama mami atau bunda aja? Biar Abang nggak liat wajahnya tiap hari."


"Nggak usah!"


"Kalau gitu Abang harus janji nggak bakal pilih kasih lagi, karena kalau Abang ngelakuin itu hati aku yang sakit."

__ADS_1


"Hm."


__ADS_2