Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 23 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Musuhan dan berbaikan dalam waktu satu hari bukanlah hal yang baru untuk pasangan Altair dan Asa.


Sifat Altair yang kekanak-kanakan dan selalu ingin di manja, dan Asa yang bersikap dewasa membuat keduanya saling melengkapi.


Altair dan Asa terpaksa berpisah di depan gerbang sekolah karena mempunyai kesibukan masing-masing. Altair akan latihan untuk Album barunya, sementara Asa sibuk meningkatkan nilai agar bisa mengharumkan nama ayah Samuel.


Beberapa hari ini Asa sangat senang sebab sikap ayah Samuel tidak begitu kaku padanya. Ingin mendengarkan celotehan Asa, selalu menyahut jika diajak bicara. Ya meski sahutannya tidak sebaik saat berbicara dengan Ayana, tapi itu sudah cukup untuk Asa.


Gadis cantik itu berlari memasuki rumah, memeluk tubuh mungil bundanya yang sedang berada di dapur menyiapkan sesuatu untuk ayah Samuel.


"Asa sayang Bunda," ucapnya sambil tersenyum.


Bunda Ara ikut tersenyum, mengelus rambut putrinya penuh kasih sayang. Di antara Asa dan Ayana, Asalah yang paling akrab pada Ara.


Mungkin karena keduanya mempunyai hoby yang sama, yaitu memasak dan memelihara tanaman hias. Berbeda dengan Ayana yang lebih suka menghabiskan waktunya bersama buku juga memandangi layar laptop.


"Bahagia banget sih, Sayang? Pasti dapat sesuatu di sekolah."


"Asa punya teman baru namanya Mark, Bunda. Tadi dia antar Asa pulang. Anaknya baik tapi nggak punya sopan santun. Asa dipuji cantik, nggak kayak yang lain suka ngatai Asa tante-tante," ucapnya tanpa sadar pada kalimat terakhir.

__ADS_1


Membuat tatapan Ara berubah menjadi menyelidik. Wanita yang tengah fokus memotong kue bolu tersebut membalik tubuhnya.


"Sejak kapan kamu dikatain Nak? Siapa yang berani ngatain kamu?" tanya Ara.


"Bu-bukan itu maksud Asa, Bunda. Maksudnya tuh semua teman-teman sering bercandain Asa, serius deh," ucap Asa berbohong karena tidak ingin membuat bundanya khawatir.


Untung saja bunda Ara percaya, dapat dilihat dari wanita paruh baya itu fokus memindahkan kue bolu pada piring.


"Ayana mana?"


"Di kamar, kayaknya adek kamu lagi patah hati. Belakang ini sering ngurung di kamar, nggak becandai ayah dan bunda," sahut Ara.


Tatapan Asa tertuju pada buku Diary Ayana, karena penasaran Asa lancang membacanya.


Aya sayang banget sama kak Altair, rasanya mau mati kalau jodoh Aya bukan dia.


Kenapa sih kak Altair nggak mau sama Aya? Apa dia punya pacar lebih cantik? Apa Aya nggak pantas jadi pacarnya?


Aya sebenarnya sedih, tapi nggak terlalu karena ada kak Asa yang selalu dukung Aya. Aya yakin kak Asa bisa bantu Aya buat ngabulin apa yang Aya inginkan.

__ADS_1


Kak Asa adalah superhero dalam hidup Aya.


Aya sayang sama kak Asa banyak-banyak.


Mata Asa tiba-tiba berembun membaca selembar kertas yang ada di dalam buku diary Ayana.


Adiknya sangat pecaya padanya, apa dia akan tega menyakiti hati Ayana suatu hari nanti?


Asa menunduk untuk mengusap surai hitam pekat milik Ayana, tersenyum meski matanya mengeluarkan bulir-bulir bening.


"Maafin kakak karena udah jahat sama kamu Aya, kebahagian kakak ada pada Altair. Kakak nggak sanggup untuk kehilangan dia sekarang."


"Maafin kakak karena udah jatuh cinta sama pria yang kamu suka. Apa bisa kakak egois untuk yang satu ini? Apalagi bunda ngomong kakak nggak boleh nyerah kalau cowoknya suka," lirih Asa yang entah didengar oleh Ayana atau tidak.


Merasa bahwa dirinya telah larut dalam kesedihan. Asa menghapus air matanya, menerbitkan senyuman selebar mungkin dan berjalan menuju kamarnya.


Kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakan, dan salah satunya jangan terlalu mendalami peran kesedihan. Biarkan masalah selalu datang silih berganti, semuanya harus dihadapi dengan tawa dan senyum bahagia.


Tidak semua orang yang bertanya peduli pada kita, ada kalanya mereka bertanya hanya karena penasaran. Itulah alasan Asa tidak ingin terlihat sedih.

__ADS_1


Gadis itu tidak ingin dipandang dan disayangi karena rasa kasihan. Asa ingin cinta yang tulus dari semua orang, termasuk ayah.


__ADS_2