Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 33 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Asa, gadis itu mengendarai motor bebek warna birunya membelah padatnya jalan raya di sore hari.


Dia membatalkan janji bersama teman-temannya hanya untuk menemui dan membujuk Altair yang berada di apartemen. Asa telah meminta izin pada kedua orang tuanya untuk pulang malam sehingga dia tidak perlu khawatir akan dimarahi nantinya.


Setelah lama berkendara akhirnya ia sampai di aparteman Altair, berjalan sambil menundukkan kepalanya jaga-jaga kalau saja ada yang melihat.


Sesampainya pada yunit Altair, gadis itu mengetik beberapa angka hingga berhasil membukanya. Dia tercengan usai membuka pintu.


Aparteman Altair layaknya kapal pecah, bisa dipastikan selama seminggu ini Altair tidak meninggalkan apartemen meski beberapa menit saja, sehingga seseorang yang sering membersihkan apartemen tersebut tidak berani untuk datang.


"Ck, bayi aku berulah lagi," decak Asa.


Gadis itu meletakkan ponselnya di atas meja, lalu membereskan ke kacauan tanpa mencari di mana pemilik apartemen tersebut.


Dia bermula pada sofa, kulit kuaci dan kacang berserakan di mana-mana.


"Ngapain ke sini?"


Asa lantas membalik tubuhnya mendengar pertanyaan Altair dari pintu kamar. Ia senyum kikuk melihat penampilan Altair yang sangat menggoda.


Tubuh pria itu hanya dibalut handuk bagian bawahnya, rambut basah dan airnya menetes membasahi pundak.


"Ka-kangen kamu, apa lagi?" tanya balik Asa lalu kembali membereskan kekacauan.


Altair berdecak pelan, masuk ke kamarnya untuk berpakaian lengkap setelahnya menghampiri Asa.


Sebenarnya pria itu masih ingin berlama-lama di kamar mandi, tapi karena merasa seseorang datang dia ingin memastikan, berharap bukan Jihadi. Siapa yang menyangka orang tersebut adalah gadis yang sangat dia rindukan tapi malu untuk menghubungi.

__ADS_1


"Nggak marah?"


"Buat?" Asa berbalik, dan terkejut saat Altair telah berada di hadapannya. Mata gadis itu mengerjap pelan.


"Aku udah buat kamu jadi bahan hujatan, Asa. Agensi aku udah permaluin kamu dengan menganggap kamu cuma staf yang nemenin aku makan," ucap Altair dengan raut wajah sedihnya.


Asa yang melihatnya malah tersenyum lebar, berjinjit untuk mengecup pipi Altair.


"Kenapa aku harus marah dan kecewa sama kamu? Aku tahu kamu seorang Idol, ada banyak konsekuensi yang harus aku tanggung jika harus bersamamu. Jangan pikirkan apapun tentangku Altair."


"Sayang?" Tanpa meminta izin Altair lantas memeluk tubuh mungil Asa. Mengecup kening gadis yang mendongak untuk menatapnya.


"Aku malu, harusnya aku orang pertama yang lindungin kamu, tapi nyatanya malah orang pertama yang menyakiti," bisik Altair.


Asa lagi-lagi mengelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan apapun tentang berita yang beredar.


"Aku yang harusnya minta maaf karena udah buat nama kamu jelek."


"Nggak Sayang."


"Utututu gemes banget sih bayinya Asa." Asa menguyel-uyel pipi Altair usai melepaskan pelukannya.


Perasaan gadis itu lega setelah melihat Altair baik-baik saja.


"Udah makan?"


Altair mengeleng.

__ADS_1


"Kalau gitu kamu duduk dan tunggu masakan spesial dari aku!" seru Asa berusaha mencairkan suasana.


Karena dari cerita yang disampaikan Jihadi, Altair sangat temperamental dan sering marah-marah meski hanya kesalahan kecil.


Namun, anehnya Asa tidak mendapati kemarahan apapun di mata Altair. Yang ia dapatkan hanya tatapan teduh, penuh kasih sayang dan cinta untuknya.


Asa terus saja menyibukkan diri di apartemen, sementara pemiliknya duduk di sofa sambil bertumpu kaki dengan tatapan sibuk memperhatikan Asanya.


Amarah? Sungguh Altair tidak bisa marah jika berhadapan dengan Asa. Amarahnya langsung mereda tanpa diminta, terlebih saat ini dia sangat merindukan gadisnya.


Salahkan dirinya karena tidak menghubungi Asa selama beberapa hari sebab rasa bersalah yang bersarang di hatinya.


"Altair! Kok nggak ada bahan makanan?" pekik Asa dari dapur.


"Sini!" sahut Altair.


Mau tidak mau Asa menghampiri Altair yang sibuk dengan ponselnya.


"Mana bahannya?"


"Baru mau beli, duduk sini!" Menarik tangan Asa agar duduk di pangkuannya, menumpu dagunya di pundak Asa sambil mengulir layar dan masuk ke market online untuk membeli bahan-bahan makanan.


"Ayo pilih!" perintahnya.


Asa bergeming. "Bisa posisinya biasa aja nggak? Aku duduk di ...." Ia mengigit bibir bawahnya ketika tangan kekar Altair malah semakin erat memeluk perutnya, belum lagi deru nafas pria itu yang menerpa leher Asa.


"Cuma peluk nggak macem-macem kok," bisik Altair.

__ADS_1


__ADS_2