
Setelah terlepas dari kungkungan Altair, Asa tidak langsung membicarakan kabar yang menurutnya bahagia. Itu semua karena sejak bangun, Altair terus mengeluh lapar sehingga Asa memutuskan untuk memasak lebih dulu.
Gadis itu tengah berada di dapur, membuat makanan dengan bahan seadanya, sementara pemilik Apartemen sedang mandi.
Asa tersetak kaget saat tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Altair. Dia menelan salivanya kasar ketika lehernya dicium secepat kilat.
"Kenapa malah masak, hm? Aku kan bilang pesan," ucap Altair dengan nada manjanya.
Asa hanya menanggapi dengan senyuman, mengelus kepala Altair dengan sebelah tangannya. Hari ini Asa akan memanjakan tunangannya karena tidak yakin akan menemukan momen seperti ini lagi.
Meski mempunyai peluang untuk sembuh, kematian pun berpeluang di saat operasi di jalankan. Jadi tidak ada jaminan pasti untuk Asa bisa hidup.
Ayah Samuel sudah menceritakan semuanya. Akibat dan keutungan yang mungkin Asa dapat jika setuju. Namun, karena keinginan sembuh Asa jauh lebih besar, gadis itu akan mencobanya dan bergantung pada takdir yang telah digariskan tuhan untuknya.
"Asayang, kok diam aja sih?"
"Senang dipeluk gini sama kamu."
Alis Altair lantas mengerut, senang? Sungguh, baru kali ini Asa senang dipeluk olehnya seposesif ini. Biasanya gadis yang lebih tua darinya itu, sangat risih dan selalu mengomel jika terlalu berlebihan saling menyentuh.
Altair menyentuh kening Asa setelah berhasil membalik tubuh gadis itu secara paksa.
"Nggak demam."
"Huh?" Mata Asa mengerjap lucu.
"Apa kabar baiknya?" tanya Altair, mengalihkah permbicaraan.
Pria itu mematikan kompor, menarik Asa agar segera meninggalkan dapur. Altair tidak ingin kekasihnya melakukan apapun dan merasa lelah.
__ADS_1
"Ayo cerita!" Desak Altair.
Asa mengangguk, mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Manatap manik tajam Altair dengan senyuman di wajahnya.
"Kata ayah, aku bisa sembuh, Altair! Kita bisa hidup berdua lebih lama lagi. Kita bisa menata masa depan sampai tua nanti," ucap Asa dengan binar bahagia di wajahnya.
Berangan-angan menghambiskan masa tua bersama dan menunggu anak-anak berkunjung ke rumah mereka, seperti yang Asa mimpikan satu bulan yang lalu.
Gadis itu mengkup rahang Altair yang juga tersenyum.
"Kamu serius, Sa? Nggak bohong kan?" tanya Altair memastikan.
Siapa sih yang tidak bahagia jika kekasihnya punya harapan hidup lebih lama lagi? Altair senang, Altair ingin berterimakasih pada ayah Samuel yang telah mencari dokter untuk kekasihnya.
"Iya, ayah bakal bawa aku ke amerika. Di sana katanya ada dokter handal yang bisa sembuhin aku. Di sana dokternya udah nemu pendoror jantung buat aku. Altair, tunggu aku ya?"
"Asa?"
"Setelah pulang kita nikah, kamu mau kan nikah sama aku?" Masih berbicara dengan antusias tanpa memikirkan perasaan Altair yang kini berkecamuk.
"Asayang?"
"Iya aku tau Altair ini nggak mudah, tapi kita bisa ...."
"Nggak gini caranya!" Altair beranjak, menghempaskan tangan Asa pelan. Berjalan menuju balkon, memperhatikan bangunan dan jalanan di bawah sana.
Rasanya Altair ingin menangis, ingin egois agar Asa tetap ada di sisinya. Namun, Altair sadar. Mengurung Asa di sekitarnya tidak akan membuat gadis itu sembuh.
"Kenapa harus pergi? Konser aku tiga minggu lagi. Kamu janji bakal hadir di konser terakhir aku," ucap Altair ketika merasakan pelukan Asa dari belakang.
__ADS_1
"Kamu nggak setuju? Ya udah, aku nggak bakal pergi. Aku bakal hadir di konser kamu. Aku bakal selalu berada di samping kamu, tapi ...."
"Asa?" Altair menbalik tubuhnya, menatap manik Asa yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa pilihannya sulit banget?"
"Altair Sayang, cuma satu bulan. Kita LDR an cuma satu bulan aja. Setelah itu, aku pulang dan kita nikah."
"Kalau nggak pulang?"
"Aku pasti pulang."
"Kalau nggak pulang gimana?" Desak Altair dengan nafas tidak beraturan.
Melihat hal itu, Asa buru-buru memeluk tubuh kekar Altair.
"Apapun yang terjadi, aku bakal pulang buat nemuin kamu. Karena cintaku habis di kamu, Altair. Aku bakal sembuh." Asa menjeda kalimatnya, berusaha untuk tidak sedih, karena tahu jika dia menangis Altair semakin tidak tega berpisah.
"Berlatih dengan baik dan buat konser terakhir kamu membekas di hati pengemar. Sekolah yang benar, biar lulus dengan nilai tinggi. Di sana, aku bakal berusaha bertahan buat kamu. Buat masa depan kita."
Asa melerai pelukannya, tersenyun hangat pada Altair yang menatapnya penuh luka.
"Aku mencintaimu," ucap Asa. "Aku bakal lakuian apapun yang kamu katakan. Ngomonglah, aku harus pergi atau tinggal di sisimu," ucap Asa yang masih menunggu jawaban Altair.
Asa berharap Altair setuju, sehingga dia tidak sia-sia meyakinkan kekasihnya.
"Satu bulan, kamu harus balik dan bawa kabar bahagia buat aku," ucap Altair akhirnya.
Mendekatkan wajahnya pada Asa, mer*aup bibir yang sejak tadi melengkung tersebut. Melampiaskan rasa kesal, marah, sedih dalam ses*apan yang semakin mengebu setiap menitnya.
Sementara Asa yang mendapatkan serangan tiba-tiba lantas memejamkan mata. Menikmati sesapan kekasihnya, sebagai permintaan maaf karena akan pergi jauh dan tidak tahu akan kembali kapan.
__ADS_1