
Bel pulang sekolah telah berbunyi setengah jam yang lalu. Sekolah mulai sunyi karena pada siswa pulang kerumah masing-masing. Yang tinggal hanya beberapa untuk mengikuti aktivitas di luar sekolah.
Salah satunya yang masih tinggal adalah Asa. Gadis ceria yang duduk seorang diri di pos jaga sambil menikmati hujan cukup deras.
Fely baru saja dijemput oleh ayahnya, berbeda dengan Asa yang harus menunggu taksi. Sayangnya taksi tidak ada yang lewat sebab curah hujan cukup lebat.
Desa*han nafas terdengar, rasanya sangat menyeramkan duduk sendirian tanpa siapapun menemani.
"Apa aku terobos hujan sampai halte ya?" Pikir Asa yang mulai jengah, dia lapar dan ingin istirahat.
Terlebih tadi dia harus lari-larian di lapangan. Salahkan dirinya yang tidak menerima tawaran Altair untuk pulang bersama. Alasannya cukup simpel.
Asa tidak ingin membuat masalah dalam hidup Altair.
Alis Asa saling bertaut ketika mobil Van berhenti tepat di depan pos jaga. Ia bergeming karena tahu siapa pemiliknya. Melihat kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang.
Sosok pria tampan turun dari bagian depan mobil sambil membawa payung, menghampiri Asa yang pura-pura tidak melihat.
"Masuklah Nona, kalau tidak saya yang akan mendapat marah," ucap Jihadi. Terlinga pria itu telah penuh akan rengekan Altair yang memaksa untuk putar balik demi Asa.
Asa melirik mobil yang kacanya tertutup, seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
__ADS_1
"Saya bisa pulang sendiri Kak, lagian apa kata orang tua saya kalau pulang diantar sama Altair."
"Bisa pulang sendiri tapi duduk sambil mandangin hujan! Bisa nggak sih jangan keras kepala!" Teriakan itu terdengar dari dalam mobil yang kacanya telah terbuka.
Menampilkan wajah cemberut Altair dengan kacamata hitam yang masih melekat.
Pria yang menurut Asa mempunyai dua kepribadian. Di depan orang lain bersikap cuek dan terlihat berwibawa, tapi di depan Asa layaknya anak kecil yang selalu ingin dimanja.
Asa lantas berdiri saat melihat Altair membuka pintu dan hendak turun dari mobil. Dia berlari kecil dan langsung masuk ke mobil sebelum dilihat oleh orang lain.
Dia menghembuskan nafas kasar, menatap Altair yang selalu berlaku seenaknya.
"Udah aku bilang jangan dekat-dekat!" omel Asa.
"Altair!"
"Besok kayaknya aku nggak masuk sekolah, jadi harus puas-puasin hari ini," gumam Altair.
Asa hanya mend*esah, membiarkan bayinya tidur dengan posisi yang sungguh mendebarkan jantung. Diam-diam dia tersenyum menikmati pelukan Altair.
Pelukan yang mampu membuat Asa melupakan luka yang selalu bersemayang di hati.
__ADS_1
Hanya bunda Ara dan Altairlah yang menjadi pelita di hidup Asa. Sebenarnya gadis itu menginginkan cahaya lain, sayangnya cahaya itu selalu redup jika berada di sekitarnya, dan akan bersinar terang jika berada di sekitar Ayana.
"Kak, nanti turunin di depan komplek yang agak sepi ya, takut ada yang kenalin," ucap Asa dan dijawab anggukan oleh Jihadi.
Pria yang tengah mempersiapkan diri untuk mendapatkan omelan dari berbagai sisi. Andai Altair bukan teman baikknya, sudah lama Jihadi mengundurkan diri menjadi manager.
Mobil Van hitam itu berhenti di tempat sepi sesuai keinginan Asa, sayangnya hujan semakin lebat dan itu membuat Altair egang melepaskan pelukannya.
Meski mulut mengatakan tidak kasihan atau khawatir, tapi hati Altair selalu berusaha untuk menjaga gadisnya.
"Altair, aku mau turun ih! Takut ayah sama bunda nyariin di rumah." Mendorong kepala Altair agar menjauh tapi membuahkan hasil yang sia-sia.
"Nggak mau, orang masih mau peluk. Lusa ada konser di luar kota. Kamunya juga nggak bisa datang karena ulangan."
"Bisa nontong Mv nya kok, tenang aja. Aku itu pengemar nomor satu kamu."
"Nah makanya karena nggak bisa datang, kamu harus tinggal dulu!" Tekan Altair.
Pria itu senyum jenaka pada Asa yang terlihat tertekan. Siapa peduli, Altair suka dan tenang berada di dekat Asanya.
"Setengah jam lagi kita harus berada di kantor, dan saya takut terjadi macet," ucap Jihadi memberitahukan.
__ADS_1
"Bodoh amat!"