
Sarapan bersama keluarga besar membuat Asa sedikit canggung, terlebih kini statusnya telah berbeda. Dia sekarang sudah menjadi istri dari sepupunya sendiri. Gadis itu menunduk dan menyantap sarapannya tanpa banyak bicara. Apa lagi beberapa aggota keluarga memperhatikan Asa terang-terangan.
"Gimana semalam? Kalian tidur nyenyak?" tanya Rayhan.
"Nggak, Pah, pinggang Asa sakit dan Altair nggak tega kalau ditinggal tidur," jawab Altair, membuat seluruh penghuni meja makan menatap kearahnya, terutama ayah Samuel. Pria paruh baya itu berubah menjadi proteksif setelah Asa pulang dari Amerika. Mungkin karena hampir kehilangan Asa di detik-detik saat alat-alat kesehatan akan dicabut dari tubuh gadis itu.
"Kenapa pinggangnya bisa sampai sakit? Ayah udah bilang Asa itu masih dalam pemulihan Altair!" ucap Samuel tegas.
"Bu-bukan salah Air, Yah. Ini biasa terjadi kok pas Asa datang bulan," jawab Asa cepat. Dia tidak ingin jika Altair di salahkan.
Jika raut wajah Asa tampak tegang, tidak dengan penghuni meja yang tertawa kecil. Mereka menertawakan nasib Altair sebagai pengantin baru. Terutama Sabira dan Ayana yang duduk bersampingan.
Usai sarapan bersama, mereka akhirnya meninggalkan hotel satu per satu. Begitupun dengan Asa dan Altari yang pulang kerumah ayah Samuel. Sepanjang perjalanan pulang, Altair terus saja menggengam tangan Asa, bahkan sesekali mengecup telapak tangannnya.
"Maafin aku, harusnya aku nggak datang bulan di hari pertama kita nikah," ucap Asa.
"Santai Asayang. Lagiankan kita nikah bukan tentang yang satu itu, ya meski itu jika penting sih." Altair mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu salah tingkah tanpa ada penyebabnya.
"Rencana kita selanjutnya apa?"
__ADS_1
"Nggak ada rencana selain kita harus fokus sama pendidikan. Kamu harus masuk kuliah dan aku fokus ikut ujian susulan. Oh iya, kata bunda untuk sementara kita tinggal di ruma orang tua sampai benar-benar siap hidup berumah tangga."
Meski usia Asa telah memaski 21 tahun, gadis itu belum bisa menyikapi status pernikahannya. Dia hanya siap hati, tetapi tidak untuk mentalnya. Sampai sekarang Asa takut melakukan kesalahan yang akan membuat Altair meninggalkannya.
"Nggak masalah, kita tinggal di mana aja. Asal kamu udah jadi milik aku, aku udah tenang," cengir Altair.
Pria itu memutar setir kemudi memasuki pekarangan rumah ayah Samuel yang tampak sepi. Sepertinya tidak ada orang di rumah, entah mereka pergi kemana. Tetapi bagi Altair itu sangat menguntungkan, dengan begini dia bisa bermesraan dengan istri tercinta.
"Asayang."
"Hm."
Asa membalik tubuhnya sambil tersenyum lebar. Menangkup kedua pipi Altair. "Mau manja gimana? Sini biar aku manjain bayi gede aku. Udah lama juga kan nggak manja setelah kita pisah satu tahun lebih."
Senyuman Altari langsung merekah, Dia mendaratkan bibirnya di kening Asa, turun ke hidung dan bibir. "Boleh dicicipin kan?"
"Bo-boleh."
Asa memejamkan matanya, menunggu sesuatu terjadi di antara mereka. Jantungnya berpacu sangat cepat saat bibir Altar mendarat di bibirnya. Benda kenyal itu perlahan-lahan bergerak, mencari celah untuk mengabsen mulut yang aromanya seperti bayi.
__ADS_1
Altair seakan menyalurkan rasa rindu yang belum dia tuntaskan beberapa minggu terakhir. Perjalanan cinta yang begitu rumit karena ditentang banyak pihak, menjadikan cinta mereka semakin kuat. Bersatu setelah banyaknya badai, membuat peretemuan begitu manis dirasakan.
"Aku mencintaimu Asa. Rasa ini nggak pernah hilang sejak pertama kali kita bertemu di sekolah. Aku nggak pernah nyangka kamu itu anaknya om Samuel," ucap Altair setelah pengutan mereka terlerai.
Memang Altair pada awalnya tidak tahu bahwa Asa adalah sepupunya, selain karena gadis itu jarang hadir di acara keluarga, Altair pun sibuk sendiri dengan dunianya.
"Aku juga cinta sama kamu Air. Aku selalu takut kehilangan kamu. Maaf kalau selama kita berteman, aku pernah nyakitin perasaan kamu."
"Nggak pernah sakalipun."
Altair menempelkan keningnya dengan kening Asa. "Mari hidup bahagia tanpa menyembunyikan luka di hati masing-masing."
Asa lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Menerima kecupan Altair unuk kedua kalinya.
Kisah yang indah akhirnya mereka temui dan saat kisah indah telah dicapai, maka ceritapun telah menemukan akhirnya.
...****************...
......ENDING......
__ADS_1
Maafin otor ya kalau endingnya nggak sesuai harapan kalian. Novel ini hanya untuk penghibur, dan minim pembelajaran di dalamnya. Terimakasih.