Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 22 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Agaknya pembicaraan semalam tidak bisa Altair lupakan begitu saja, rasa marah yang bersemayang di hatinya untuk Asa masih saja ada.


Dua jam sudah berlalu saat palajaran kedua dimulai, dan selama itu pula Altair tidak menyapa Asa. Bahkan pria itu berpindah tempat dan duduk di samping Mark yang hanya fokus tidur saja.


Selama itu pula perhatian Asa tertuju pada Altair. Tidak menyangka bahwa permintaanya bisa membuat Altair begitu marah sampai tidak mau mengajaknya bicara.


Tepat saat bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas, tapi tidak untuk Asa yang bergeming di tempatnya bersama Fely.


"Altair?" panggil Asa lirih, tapi bukannya menjawab, Altair malah berjalan keluar kelas.


Asa menghela nafas panjang, menumpu kepalanya di atas meja.


"Altair hari ini nggak banyak senyum tahu, kayak marah sama orang," bisik Fely yang menyadari aura tidak mengenakkan Altair.


"Kayaknya sih," cengir Asa.


"Kantin yuk!" Ajak Fely tapi Asa malah mengelengkan kepalanya.


Karena lapar akhirnya Fely pergi seorang diri, sementara Asa memutuskan untuk belajar dan tidak terlalu memikirkan kemarahan Altair. Asa yakin pria itu tidak tahan marah lama-lama padanya.


Atensi Asa yang tadinya fokus pada buku teralihkan saat Mark duduk tepat di sampingnya sambil meletakkan satu buku tugas.


"Ajarin dong!" pinta Mark sambil mengunyah permen karet.


"Gue nggak pintar."


"Bohong banget, aura lo kayak anak pintar gitu. Biasanya juga kalau cantik pasti pintar."

__ADS_1


"Gue pengecualin Mark. Gue juga lagi berusaha buat perbaiki nilai."


Siswa pindahan itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, tapi urung untuk pergi di bangku Asa.


Harus kalian tahu alasan Mark dipindahkan karena terlalu nakal di sekolah sebelumnya. Pria itu memutuskan untuk belajar lebih giat agar tidak kehilangan motor kesayangan yang telah disita.


Mark akan mendapatkannya jika mendapatkan nilai di atas KKM.


Karena hanya Asa yang tidak terlalu arogan, makanya Mark memilih Asa sebagai teman belajarnya nanti.


"Ya udah sama-sama deh, tapi kalau nggak ngerti lo yang jelasin. Tapi jelasin diulang-ulang sampai gue ngerti."


Asa melenggo, sungguh baru kali ini gadis itu bertemu pria yang sama sekali tidak punya tatak rama dan sopan santun seperti Mark.


Apa tidak cukup Asa diberi beban seperti Altair dan Fely, hingga harus ditambah Mark?


Tatapan Asa menyapu ruangan, berharap ada seseorang yang bisa dia minta bantuan. Atensinya berhenti tepat di depan pintu, dia tersenyum saat tahu Altair berdiri di sana.


"Mau cepat pintar nggak? Lo minta teman sebangku lo tadi, dijamin pintar dalam 1 minggu," ucapnya antusias.


"Ogah, sombong banget dia. Masa gue nanya satu soal aja diabaikan. Sama lo aja deh." Menarik-narik ujung rambut Asa layaknya anak kecil. Sama sekali tidak mencermintakn otot dan tindik yang ada di telinganya.


Bisa dibilang Mark hanya sok sangar.


Siapa yang mengira ternyata aksi Mark yang menarik-narik ujung rambut Asa berhasil membuat pria yang sejak tadi mengintip di depan kelas mengepalkan tangannya.


Tanpa memikirkan image, Altair menghampiri Mark dan Asa dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Oh jadi ini alasan kamu nyuruh aku pacaran sama Ayana? Biar kamu bebas dekat sama siapapun? Kok kamu tega sih Sa?"


"Huh?" beo Asa.


Gadis itu tidak bisa mencerna situasi yang terjadi.


"Apa-apaan ini? Kok lo datang langsung marah-marah sih? Sekarang Asa itu teman gue, dia udah janji bakal ngajarin gue sampai ...."


"Bacot!" Altair memotong ucapan Mark.


Menarik tangan Asa untuk meninggalkan kelas, membawanya ke belakang gudang yang tidak pernah dikunjungi oleh siswa. Di sana banyak bangku patah dan beberapa barang rongsokan lainnya.


Altair menatap Asa tajam, tapi bibirnya manyun seperti anak kecil.


"Asa!"


"Kenapa Sayang?" tanya Asa. Cara ampuh membuat kemarahan Altair merada seketika.


Lihatlah, pria tampan yang menjadi Idola kaum hawa tersebut menerbitkan senyum mengemaskannya, menarik-narik ujung jari Asa.


"Aku tadi marah kok nggak dibujuk? Malah asik-asikan sama siswa pindahan itu. Aku cemburu Asa, kamu itu milik aku!"


"Tau."


"Jangan minta aku buat cinta sama orang lain, karena aku cuma cinta dan suka sama kamu. Kamu tega buat aku sedih?"


Ara mengelengkan kepalanya, merasa dilema oleh dua kesayangannya. Ayana dan Altair adalah dua orang berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


Ayana akan bahagia jika bersama Altair, tapi Altair akan menderita jika bersama Ayana. Sungguh dua orang itu membuatnya pusing.



__ADS_2