
Setelah sampai di samping Asa, Altair lantas mengendong tubuh itu meninggalkan lapangan yang panasnya tidak bisa diungkapnya oleh apapun.
Aksinya tentu mengundang banyak pasang mata, terutama siswa-siswa yang tengah menyaksikan dari koridor sekolah.
Berbagai gambar telah diabadikan tapi Altair sama sekali tidak peduli. Baginya, Asa lebih penting dari apapun.
Kaki Altair terus melangkah menuju UKS, menghiraukan rontaan Asa yang berada di gendongannya.
"Turunin aku, aku nggak mau ayah tahu Altair!" gumam Asa menepuk-nepuk dada Altair dengan sisa tenanga yang dia miliki.
Namun, Altair seakan tuli, tidak mendengarkan omelan-omelan gadis yang lebih tua beberapa tahun darinya.
Dia membaringkan tubuh Asa setelah sampai di UKS, duduk di pinggir ranjang.
"Suster, tolong tisu basahnya," ucap Altair tanpa mengalihkan tatapan pada Asa yang menghindari Altair.
Dengan telaten pria itu membersihkan darah di hidung Asa yang mulai mengering, tidak lupa bekas darah yang ada di punggung tangan.
"Altair, kamu baru aja buat masalah! Bentar lagi ada berita ...."
"Keluar!" perintah Altair pada managernya.
Mau tidak mau Jihadi akhirnya keluar dan mempersiapkan diri dibentak habis-habisan oleh atasan karena tidak bisa menjaga Altair dengan baik.
__ADS_1
Sementara pembuat onar masih setia di sisi brangkar, tidak beranjak meski suster memeriksa kondisi Asa yang terlihat sangat pucat.
"Saya akan beri obat pereda pusing," ucap sang suster dan dijawab anggukan oleh Altair.
"Kenapa bisa lari-lari dilapangan? Aku kan nyuruh ke belakang gudang, Asa! Aku mau ngomong sesuatu penting banget," omel Altair.
Pria itu rela panas-panasan di belakang gudang hanya untuk bertemu Asa tanpa ada drama pengang tangan sembunyi-sembunyi. Dia juga ingin memberikan kalung. Benda yang dia beli hasil kerja kerasnya sebagai Idol.
"Pergi," lirih Asa.
"Kenapa aku harus pergi?"
"Kamu udah ngelakuin kesalahan Altair! Kamu gendong aku di depan semua orang, kamu buat masalah untuk diri sendiri! Sejak dulu cita-cita kamu jadi orang terkenal dan sekarang udah terwujud. Jangan karena aku, kamu malah ...."
Untung saja hanya ada perawat di dalam UKS, jendela telah ditutup oleh Jihadi dan pintu telah terkuci rapat-rapat, sehingga fans-fans yang ingin mengintip tidak mendapat melihat apapun.
"Altair?"
"Aku tahu usia kamu jauh lebih tua, tapi bukan berarti bebas omelin aku, Sa. Aku tahu mana yang baik dan buruk."
Altair mengelum senyum, mengelus pipi Asa yang sangat mudah merona.
"Kok cemberut? Harusnya senang dong seorang Altair Evando Adhitama nyium kamu," godanya.
__ADS_1
"Aku nggak lemah."
"Yang bilang kamu lemah siapa hah? Yang bilang aku kasihan siapa? Jangan kepedean! Aku gendong kamu cuma mau aja bukan nolongin!" tekan Altair tidak terbantahkan.
Altair tahu betul Asanya tidak suka jika dikasihihani. Asa tidak suka jika seseorang melihatnya terluka seperti saat ini. Karena yang Asa inginkan, semua orang mengenalnya dengan pribadi yang ceria.
"Aku belum makan," gumam Altair. "Kita makan bareng yuk? Aku suruh Jihadi bawa makanan dulu."
Tanpa menunggu persetujuan Asa, Altair langsung menghubungi managernya untuk membelikan makanan kesukaan Asa di kantin.
Sebenarnya Altair kenyang, hanya saja Asa harus minum obat, dimana harus makan lebih dulu.
Sambil menunggu Jihadi membawa makanan, Altair memainkan jari-jari tangan Asa yang seakan tidak dialiri darah, warnanya sedikit membiru.
"Kenapa bisa lari-lari?" Pertanyaan itu kembali terdengar dari mulut Altair.
"Tadi aku bertengkar sama Iren, aku nggak suka dia suka sama kamu," bohong Asa. "Kan kamu cuma milik Asa."
"Nggak percaya."
"Beneran Altair! Aku jambak rambut Iren sampai jatuh ke lantai, sialnya dilihat sama pak Adnan, jadinya dihukum." Asa menyingir tanpa beban, membuatnya mendapatkan sentilan di kening.
Sekali lagi Altair mendaratkan bibirnya, kali ini bukan di bibir Asa melainkan di kening.
__ADS_1
"Jangan lakuin apapun sama pengemar aku, apalagi Iren, karena hati ini ...." Membimbing tangan Asa ke dadanya. "Cuma milik Asa selama-lamanya."