
Altair, pria itu terus berdiri menghadap kalander yang dia pajang di sisi ranjangnya. Dia sibuk mencoret-coret sesuatu di sana tanpa menyadari kehadiran mamahnya di ambang pintu.
"Lagi ngapain?" tanya Giani, menghampiri putranya karena penasaran.
Yang ditanya lantas meletakkan pulpen di atas nakas. Tersenyum pada mamahnya yang malam ini terlihat sangat cantik.
"Nandain tanggal, Mah. Kenapa?"
"Buat?" Kening Giani mengerut.
"Asa janji bakal pulang setelah satu bulan. Hari ini tepat 24 hari Asa pergi, jadi 6 hari lagi dia bakal nemuin Altair di Rooftop sekolah."
"Sayang? Operasi bukan hal yang ...."
"Mamah pasti datang mau ngajak Altair makan malam kan? Ayo!" Menarik tangan mamahnya tanpa ingin mendengarkan apapun.
Altair tidak ingin perkataan seseorang mematahkan harapannya, karena dia yakin Asanya akan menepati janji. Asanya akan pulang 6 hari lagi.
Pria itu menarik kursi dan duduk di samping Sabira setelah sampai di ruang makan.
"Bro, Altair bosan di rumah," ucapnya pada sang papah yang serius menyantap makan malam.
"Bra-bro ... Bra-bro. Kamu kira papah ini teman kamu hah?" Protes Rayhan.
"Aelah gitu doang marah. Untung Altair nggak manggil kakek," celetuknya. Ikut menyantap makan malam.
Berbeda dengan Sabira dan Giani yang diam-diam tersenyum. Selalu saja perdebatan antara papah dan anak terdengar jika berkumpul seperti ini.
Namun, dibalik perdebatan itulah yang membuat keluarga Rayhan selalu harmonis dan tidak pernah bertengkar serius. Mungkin perselihan beda pendampat selalu menghampiri, tapi Rayhan selalu mengalah sebagai kepala keluarga jika di rasa tidak merugikan siapapun.
Begitupun dengan Giani, dia selalu mengalah pada anak-anaknya selama itu benar. Giani tidak ingin putra dan putrinya mengalami nasib yang sama seperti dia dulu.
Ditinggal oleh orang tua yang sama-sama sibuk dengan keluarga masing-masing.
"Kak Altair beneran hiatus ya?" celetuk Sabira.
"Hm, lo sedih?"
Sabira dengan cepat mengelengkan kepalanya. "Senang malah, kakak aku nggak terkenal. Aku nggak perlu pura-pura nggak kenal sama kakak."
__ADS_1
"Heh?" Mata Altair membulat, jawaban adiknya diluar prediksi BMKG. "Meski hiatus bukan berarti kakak nggak terkenal ya! Nggak liat followers kakak? Idih, dasar anak dajj*al!"
"Berarti kak Altair, kakak dajj*al!" Menjulurkan lidahnya, tidak mau kalah jika menyangkut perdebatan.
Altair menghela nafas panjang, sementara Rayhan tersenyum senang karena putrinya menang.
"Putri papah keren!"
"Nah tuh papah Dajj*al nyahut!" Ledek Altair tanpa dosa.
Pria itu berdiri sambil membawa piringnya yang lebih banyak lauknya dibandingkan nasi.
"Papah Bro! Altair butuh uang 20 jt, mau beli alat-alat konten!" ucapnya kemudian berlalu.
Tidak memperdulikan Rayhan yang menganga lebar mendengar permintaan putranya. Enteng sekali Altair meminta, apa pria itu kira uang di dapatkan hanya disekop layaknya pasir? Sungguh keterlaluan.
"Gaji kamu jadi Idol mana?" pekik Rayhan.
"Tabungan masa depan!"
"Yassalam."
"No, itu buat kamu. Nanti papah Tf ke Altair." Melirik Sabira yang diam-diam menghanyutkan. "Mau uang juga atau benda?"
"Uang aja, Sabira mau jalan-jalan sama teman." Cengirnya tanpa dosa.
***
Jam 10 malam, Altair baru masuk ke kamarnya setelah mencatat beberapa hal yang perlu dia beli untuk keperluan konten untuk menghilangkan kegabutannya di rumah.
Dari idol, Altair merangkak menjadi selengram untuk memanfaatkan instagramnya yang mempunyai jutaan pengikut. Hal itu pula Altair gunakan agar fans-fansnya tidak terlalu kecewa dengan hiatusnya dia dari Agensi Tb.
Pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang, melirik ponselnya yang bergetar, pertanda pesan masuk.
Jantung Altair berdetak tidak normal melihat siapa yang baru saja mengirim pesan padanya.
Alih-alih membalas, Altair malah menelpon pemilik pesan yang sangat dia rindukan.
"Asayang?" ucap Altair dengan senyuman di bibirnya. Namun, meski begitu Asa tidak bisa melihatnya, karena mereka hanya melakukan panggilan suara.
__ADS_1
"Gimana konsernya? Semuanya lancar?" tanya Asa dengan suara sedikit berbeda.
"Video call yuk!"
"Uhhmmm, nanti ya Altair. Kita telponan gini aja."
Altair menghela nafas panjang, meski begitu tetap menurut. Dapat mendengar suara Asa saja dia sudah bahagia, sebab itu pertanda bahwa kekasihnya masih ada dibumi.
"Pengen hug! Di sini sepi banget Asa. Cepat pulang."
"Sabar ya Altairnya Asa, besok aku operasi. Doain semuanya baik-baik saja dan aku balik. Oh iya, gimana konsernya? Sukses kan? Papah sama mamah baik-baik aja?"
"Baik."
"Ih kok gitu aja jawabannya. Kamu malas ya cerita sama aku? Ya udah matiin aja, lagian dokter nggak ngizinin aku ...."
"Asayang! Ih kok ngambek? Tau nggak sih rasanya nahan kangen itu gimana? Sakit banget. Aku lelah nggak ada yang peluk. Ke sekolah sendirian mulu. Pulang cepat!" rengeknya seperti anak kecil, membuat Asa di seberang telpon tertawa puas.
Gadis itu senang mendengar rengekan manja Altair. Ah rasanya Asa ingin pulang dan memeluk kekasihnya.
"Bayi besar aku udah makan? Kalau belum, harus makan biar sehat. Oh iya, aku nelpon kamu cuma mau ngomong ...."
"Apa?" tanya Altair tidak sabaran.
"Besok aku bakal operasi. Nggak ada yang tau aku bakal bangun atau tetap tidur."
"Asa?"
"Kamu pernah bilang kalau aku mau pergi, harus izin dulu. Jadi sekarang aku mau izin, Altair. Kalau aku bangun dan nemuin kamu, terima aku ya? Dan kalau aku nggak bangun lagi, tolong ikhlasin aku. Cari pengganti aku!"
"Ngomong apa sih?" Air mata Altair mulai berjatuhan.
"Baik-baik Altairnya Asa. Udah dulu ya, dokter bentar lagi datang, takut diomelin."
"Asa, jangan matiin dulu ...."
Altair mengenggam erat ponselnya ketika sambungan terputus begitu saja.
"Aaakkkkhhg!" Altair melempar ponselnya ke lantai. "Harusnya kamu nggak usah hancurin harapan aku Asa! Harusnya malam ini kamu nggak ada kabar apapun!"
__ADS_1