
Terjadi keheningan di ruang keluarga ketika Rayhan mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan pada putranya.
Sudah beberapa menit berlalu, tapi Altair tidak kunjung mengeluarkan suara. Pria itu merasa tidak nyaman mendengar kata perjodohan keluar dari mulut pria yang membuatnya hadir di dunia.
Altair mendongak mana kala mamah Giani mengenggam tangannya, pria itu dapat melihat senyuman tulus yang mamahnya layangkan.
"Katanya tadi mau nikah muda, kok giliran mau dijodohin sama anak om Samuel jadi diam sih?" tanya Giani penuh kelembutan.
"Om Samuel punya dua putri," ucap Altair
"Papah nggak tau om Samuel mau jodohin Asa atau Ayana, dia cuma ngabarin papah kalau dia mau jadi besan, Nak. Tapi semuanya tergantung keputusan kamu. Yang bakal jalanin kamu, lagi pula seumur hidup itu terlalu lama untuk pasangan yang kurang tepat," imbuh Rayha bijaksana.
Altair menghela nafas panjang, terdapat keraguan di hatinya. Ia ingin menolak, tapi takut gadis yang akan dijodohkan adalah Asa. Ia ingin menerima tapi takut Ayana yang dijodohkan.
"Bukan nikah kok Nak, cuma tunangan aja dulu," lanjut Giani.
"Ya udah, lagian om Samuel dan tante Ara baik. Altair mau, kapan makan malamnya?"
"Besok malam."
***
__ADS_1
Asa, gadis itu duduk di balkon kamarnya sambil menatap bintang yang sangat terang. Di atas sana dia sedang mencari bintang bernama Altair. Seperti nama Altair yang katanya bintang, maka sejauh itu pula jarak antara dirinya dan pria yang dia cintai.
Altair, pria yang sangat sulit untuk dia miliki. Pria yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.
Kalau tidak memikirkan perasaan semua orang, mungkin Asa telah melompat dari balkon kamarnya. Percuma dia hidup, lagi pula hidupnya sudah bergantung pada obat.
Merasa udara terlalu dingin, Asa akhirnya masuk ke kamar. Menutup balkon rapat-rapat.
Tatapan Asa tertuju pada botol obat yang berada di atas nakas, ia tersenyum. Mengambil botol obat tersebut lalu melemparnya ke tempat sampah.
Mati lebih cepat adalah pilihan yang lebih baik. Atensi gadis cantik itu tertuju pada ponselnya yang bergetar berulang kali, mengecek pesan yang dikirimkan oleh Altair tanpa berniat membalasnya.
Akhir-akhir ini Asa terlalu sering menangis, membuat kepalanya sakit lalu tidak lama kemudian darah akan keluar dari hidungnya.
Besok? Mungkin Asa tidak akan ke sekolah besok, dia punya alasan untuk tinggal di rumah. Yaitu membantu bunda Ara menyiapkan keperluan untuk makan malam.
Asa buru-buru menghapus air matanya ketika mendengar suara pintu di ketuk. Menyembunyikan ponsel di bawah bantal lalu menemui Ayana di balik pintu.
"Kak Asa, aku punya kabar baik lagi!" seru Ayana dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Asa memaksakan senyumnya, mengikuti Ayana yang berjalan menuju ranjang.
"Ih kalau tau bakal semudah ini udah dari dulu aku ngasih tau ayah."
"Bahas apa sih?"
"Jadi tuh ayah baru aja dari kamar Aya, katanya kak Altair setuju buat dijodohin sama aku."
"Wah, selamat ya dek. Kakak senang banget kamu bisa dapatin Altair. Sebentar lagi dia bakal jadi adek ipar aku." Dengan wajah sumbringan, Asa memeluk Ayana cukup erat.
Di balik tubuh adiknya, Asa berusaha menahan isakan agar tidak lolos dari mulutnya. Ia tidak tahu harus bahagia atau sedih mendengar hal ini.
"Kak Asa nangis?" tanya Ayana ketika merasakan tubuh Asa bergetar.
"Ng-ngak, kakak lagi ketawa. Nggak nyangka banget Altair bakal jadi jodoh kamu Ay. Dia pria yang baik dan sedikit manja, jadi harus pintar-pintar jadi pacarnya."
"Kan ada kak Asa yang bakal bantuin Aya buat ngibangin sikap kak Altair. Kalian temanan, jadi Aya lebih bahagia lagi."
Hening
Asa tidak menyahut lagi, gadis itu susah payah meraih tisu di nakas untuk mengapus air mata juga darah di hidungnya. Asa tidak ingin Ayana tahu apa yang dia derita.
__ADS_1
"Maafin kakak ya Dek, kayaknya besok malam nggak bisa hadir soalnya kakak mau pergi ke suatu tempat."