Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 67 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Sudah terhitung dua hari sejak Samuel diusir oleh istrinya, pria itu kini tinggal di sebuah hotel sambil merenungin kesalahan demi kesalahan yang kembali ia lakukan karena sebuah kebenaran yang tidak ingin ia percayai faktanya.


Pria paruh paya itu tidak pulang kerumah orang tua maupun mertuanya, sebab ia tahu bukan pembelaan yang akan ia dapatkan, melainkan omelan karena telah melukai hati cucu kesayangan mereka.


Samuel mengacak-acak rambutnya frustasi, menyesali apa yang telah ia lakukan pada gadis baik seperti Asa. Gadis yang menjadi jalannya untuk bersatu dengan Ara beberapa tahun silam.


Pria itu melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata hingga tidak membutuhkan waktu lama sampai di rumah yang tidak kalah mewah.


Terlebih rumah Rayhan termasuk canggih sebab Rayhan sendiri adalah ahli teknologi.


Baru saja Samuel menapakkan kakinya pada lantai yang bergambarkan karpet, pintu itu terbuka lebar, sistem otomatis menyambut kedatangannya layaknya manusia.


"Tuan rumahnya lagi tidur!" teriak Rayhan dari dalam karena tahu siapa yang baru saja berhasil membuka pintu.


Pintu rumah Rayhan akan terbuka otomatis jika yang berdiri adalah orang yang terdaftar sebagai keluarganya pada pintu otomatis.


"Bohong banget," guman Samuel.


Ia langsung duduk di sofa, di susul oleh Rayhan dengan senyum penuh kemengangan di wajahnya.


"Ngapain ke rumah? Kita lagi musuhan Bro! Kamu buat calon mantu aku menderita."


"Di mana Altair dan Asa?" tanya Samuel tanpa basa-basi.


"Lah kok tanya aku? Aku kan ikan ...."

__ADS_1


"Rayhan!" bentak Samuel.


"Oke-oke, aku nggak bakal ngasih tau. Intinya mereka berdua bakal nikah ada atau nggaknya restu dari kamu."


"Dia putriku!"


Rayhan tertawa mengejek, tidak lupa tangan ikut bertepuk mendengar pengakuan Samuel tentang Asa.


"Nggak percaya sih, soalnya nggak ada ayah yang tega buat putrinya menderita. El, jujur aku kecewa pas dengar cerita Altair pas di rumah sakit itu. Aku kira kamu sama kayak Dito, ternyata zonk!"


"Di mana Asa?"


"Nggak tau."


Pria paruh baya itu menunduk dengan tangan terkepal.


"Ak-aku sadar. Aku salah. Jadi tolong banget beri tahu di mana Asa dan Altair!"


"Nggak sepupuku yang keras kepala! Kau bisa berusaha kalau memang berniat menemukan mereka. Lagipula aku nggak yakin kamu benar-benar tulus nyari Asa, pasti ada hal lain yang ...."


"Diusir dari rumah!"


Atensi Rayhan dan Samuel tertuju pada sumber suara, di sana ada Azka dengan setelan jas ditubuhnya. Pria itu ikut duduk di samping Rayhan.


Dinas di luar Negeri membuat sahabat Rayhan dan Samuel itu sedikit ketinggalan berita yang terjadi, dan baru tahu kemarin.

__ADS_1


"Lah sejak kapan pulangnya?"


"Dua hari yang lalu, dan malah dengar Samuel kumat bodohnya," celetuk Azka, melepas dasi yang mencekek lehernya.


Sementara Samuel semakin terdiam. Jika Azka sudah turun tangan dalam masalah seperti ini, maka Samuel tidak punya kebernian lagi untuk menjawab.


"Sebenarnya apa sih yang buat kamu benci sama Asa? Kayaknya dia penurut, baik dan ramah," celetuk Azka.


"Taulah Ka, egonya dari dulu nggak pernah hilang. Mana merasa paling benar pula. Kesal aku, masa mau misahin Asa sama Altair yang jelas-jelas saling cinta. Terus mau dijodohin sama Ayana." Mulai, Rayhan mengadu pada Azka, layaknya menyiram bensin pada api yang sedang membara.


"Mau ngulangin kesalahan yang lalu kali. Kan belum dapat karma dia. Karma di mana anak perempuannya disiksa sama halnya dia nyiksa Ara dulu," sindir Azka membuat Samuel semakin tidak berkutik.


Terlebih Samuel tahu apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya benar. Ia bodoh, ia egois. Tidak ingin semakin tersudutkan, Samuel berdiri dari duduknya.


"Aku bisa cari sendiri," jawabnya dan berlalu pergi.


Sementara Rayhan tertawa terpingkal-pingkal setelah kepergian Samuel. Tanpa abah-abah ia memeluk tubuh Azka karena sangat senang.


"Gila banget njir, akhirnya kamu datang bantuin. Sumpah pengen aku tonjok muka lempeng Samuel!" seru Rayhan.


Brugh


Rayhan meringis ketika tubuhnya mendarat di lantai karena dorongan Azka.


Ketua Ban*gsat

__ADS_1


__ADS_2