Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 24 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Jarum jam telah menunjukkan angka 4 sore, tapi selama itu pula Asa tidak keluar dari kamarnya sejak pulang sekolah.


Gadis itu terlelap dengan kepala bertumpu pada meja belajar usai mengulang materi yang telah dia dapatkan di sekolah.


Keinginan Asa yang ingin pintar tanpa menjatuhkan Ayana sangatlah besar, gadis itu sampai tidak makan siang hanya untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik setiap harinya.


Jujur saja mendapatkan pujian dari Mark yang mengatakan dia tipe gadis yang pintar membuatnya sangat senang. Tidak ada yang pernah memuji Asa pintar sebelumnya, bahkan pria yang sangat dia sukai.


Gadis itu mengerjap pelan saat suara ketukan pintu terdengar berulang kali disertai teriakan tidak sabaran dari Ayana dari balik pintu.


"Kak Asa bukan pintunya! Ayana punya kabar gembira buat kakak!" pekik Ayana, membuat Asa mau tidak mau harus beranjak dari duduknya.


Membuka pintu kamar dengan kesadaran belum sepenuhnya. Tubuh Asa hampir limbung ketika Ayana menarik tangannya sigap.


Asa menguap, rasa kantuk masih mendominasi untuk saat ini.


"Ada apa sih? Kok ngebet banget narik-narik kakak?" tanya Asa memperhatikan tangga yang dia lewati.


Tidak lucu jika tiba-tiba Asa tersandung dan mengelinding layaknya bola hingga lantai dasar.


"Liat nanti aja, pasti kak Asa senang banget," ucap Ayana masih berlari kecil hingga sampai di depan rumah.


Senyuman Ayana mengembang memandangi ayah dan bundanya, berbeda dengan Asa yang membulatkan mata tidak percaya melihat dua motor dengan merek yang sama tapi warna tentu berbeda.


"Ini apa?" tanya Asa. Kantuk gadis itu menghilang seketika.

__ADS_1


"Motor buat kita kak Asa! Ayah katanya lagi bahagia makanya beliin kita ini. Kakak yang biru aku pink!" seru Ayana mengelilingi motor baru yang ada di halaman rumah.


Asa dan Ayana sudah sejak lama mengidam-idamkan motor agar gampang saat bepergian, tapi ayah Samuel selalu menjawab benda itu berbahaya.


Jika Ayana meneliti motor yang terparkir rapi dan berjejer, berbeda dengan Asa yang menatap ayahnya dengan penglihatan mengabur.


Langkah kakinya sangat ringan, berlari dan menerjang tubuh ayah Samuel.


"Makasih Ayah, Asa senang Ayah peduli sama Asa. Ini bukan tentang hadiah," ucapnya.


Air mata luruh membasahi pipi gadis cantik itu. Baru kali ini Asa memiliki hal yang juga dimiliki oleh Ayana.


Dulu, ayah Samuel sering kali pulang membawa boneka atau makanan yang hanya ditujukan pada Ayana. Jika Asa bertanya maka jawabannya cukup menohok hati anak yang membutuhkan keadilan.


"Beli sendiri, ayah transfer uangnya."


"Asa janji bakal jadi anak yang baik buat Ayah. Asa janji bakal lebih rajin belajar lagi," ucapnya.


Asa berpikir bahwa kebaikan yang dia terima dari ayahnya tidak lain karena nilainya yang mulai membaik.


Asa tidak tahu saja bahwa dibalik sikap ayah Samuel yang membaik ada ancaman bunda Ara yang akan meninggalkan rumah.


Tulus atau tidaknya, hanya ayah Samuel yang tahu tentang kasih sayangnya pada Asa.


"Abang, kok putrinya meluk nggak dibalas?" tanya bunda Ara.

__ADS_1


Samuel yang mendengarnya lantas mengangkat tangan untuk mengelus pundak Asa pelan, lalu mendorongnya seraya berucap.


"Coba liat motornya!" ucap Samuel.


Asa mengangguk antusias, menghampiri motor berwarna biru langit tersebut. Ia lantas menyalakan motor itu dan tersenyum penuh bahagia.


"Suaranya mulus banget Ayah, Bunda. Asa suka banget. Boleh dipakai keliling kompleks?" tanya Asa.


Samuel dan Ara lantas melongo mendengar putrinya bertanya. Tentu mereka heran jika Asa tiba-tiba pintar mengendarai motor, sebab selama ini tidak ada yang mengajari.


Tanpa keduanya tahu Asa sering kali diajari naik motor oleh Altair sebelum debutnya menjadi Idol. Bukan motor bebek seperti yang ayah Samuel belikan, tapi motor sport seperti milik ayah Samuel.


"Ayana juga mau," sahut Ayana ikut naik ke motornya, memutar menghadap pagar tinggi. Hal itu membuat Ara dan Samuel semakin terkejut.


"Kalian belajar dari siapa?" tanya Samuel akhirnya.


"Dari teman Ayah. Maaf karena udah khianatin Ayah. Dadah!" ucap Asa dan Ayana serempak.


Melambaikan tangan sebelum melajukan motor baru mereka keliling komplek, sementara bunda Ara tertawa cekikikan melihat ekspresi suaminya.


"Lucu banget putri-putri kita Bang." Mendongak menatap Samuel. "Makasih karena nggak pilih kasih lagi. Abang tau? Tadinya pas dengar Abang mau beli motor, aku kira cuma buat Ayana aja, ternyata Asa juga dapat."


"Kalau nggak dapat kamu mau ngapain hm?" Menarik pinggang Ara dan mengecup bibir istrinya sekilas.


"Aku bakal jual motor Abang buat beli motor untuk Asa!"

__ADS_1


"Heh berdosa banget jadi istri!"


"Biarin!" teriak Ara dan berlari meninggalkan suaminya. Melihat Samuel adil pada kedua putrinya membuat Ara begitu bahagia.


__ADS_2