
Jam 8 malam, barulah Altair sampai di rumah orang tuanya, ia berjalan tanpa senyuman menuju meja makan di mana kedua orang tuanya berada.
Suasana hati Altair tidak kunjung membaik karena panggilan dan pesannya tidak dibalas oleh Asa, bahkan sekarang ponsel gadis itu tidak aktif.
Mungkin jika tidak ada janji dengan orang tuanya, Altair sudah mendatangi rumah Asa untuk meminta jawaban dari perubahan sikap yang terlalu drasis.
"Baru kali ini papah dilarang makan sama mamah kamu," celetuk Rayhan menyambut kedatangan putranya. Menepuk pundak Altair layaknya teman, bukan seorang putra.
"Kenapa tuh?" tanya Altair duduk di hadapan mamahnya.
"Disuruh nungguin kamu, katanya nggak boleh makan sebelum kamunya datang, jahatkan?"
"Banget, Pah," cengir Altair.
Beruntung bukan Altair mempunyai orang tua harmonis yang menyayangi dirinya?
"Kalian kalau ketemu sukanya godain mamah aja. Ayo makan, jangan gibah!" Giani mengeleng tidak percaya. Menyiapkan piring untuk kedua orang tersayangnya.
Hari ini wanita paruh baya itu mengundang putranya untuk makan malam bersama, karena akan membahas sesuatu yang sangat penting.
Giani dan Rayhan telah berdiskusi cukup lama hingga akhirnya setuju akan usul yang diberikan oleh Samuel. Apalagi jika bukan menjodohkan Altair dengan putri Samuel.
Namun, pendirian Rayhan tetaplah kokoh. Pria paruh baya itu tidak ingin memaksa putranya menerima perjodohan, sebab sedikit banyaknya rumah tangga hancur karena perjodohan.
Rayhan bercermin pada masalah Samuel dahulu, pria paruh baya itu tidak ingin putranya menjadi pria pengecut seperti Samuel, pria yang tega menyakiti hati dan fisik seorang perempuan.
Ya meskipun Rayhan juga tidak sesuci itu saat muda dulu, tapi bukankah perubahan itu perlu?
__ADS_1
"Ngapain kalian senyum-senyum?" tanya Altair curiga ketika mendapati orang tuanya saling pandang sambil senyum-senyum sendiri.
Padahal Altair sejak tadi fokus mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Kita punya kabar baik buat kamu," ucap Giani dan Rayhan serempak. Altair lantas mengerutkan keningnya.
"Kabar bahagia apa? Altair bakal punya dedek gemes lagi?"
"Ngawur kamu, cukup dua aja!" tekan Giani.
"Terus apa?"
"Nanti papah jelasin, mending habiskan makanan kamu!" cetus Rayhan dan dijawab anggukan oleh Altair.
Pria tampan itu kembali fokus pada makanannnya hingga tak tersisa, setelahnya berdiri dan meninggalkan orang tuanya di ruang makan.
"Kamar, katanya lagi diet," sahut Giani.
"Emang dia segendut apa sih?" gumam Altair.
Pria itu lantas mengunjungi kamar adik bungsunya, tersenyum jahil melihat gadis kecil berusia 13 tahun itu tengah berpose di depan cermin.
"Cantik?"
"Kak Altair?"
"Peluk?"
__ADS_1
Sabira mengangguk dan menghambur kepelukan kakaknya penuh senyuman. Jarang bertemu tentu membuat Sabira sangat kangen pada kakak satu-satunya.
Hanya saja keduanya harus terhalan jarak cukup jauh. Ini semua atas permintaan Altair yang tidak ingin keluarganya disorot oleh publik, terlebih adik kecilnya yang sangat mengemaskan.
"Mamah nggak ngabarin kalau kakak pulang?"
Sabira mengelangkan kepalanya, gadis itu merangkul lengan kakaknya dan berjalan beriringan ke ruang keluarga. Di sana sudah ada papah dan mamah mereka yang sedang bermesraan.
Di mana Rayhan merangkul pundak Giani dan mengecup pipinya berulang kali. Pria yang dulunya mempunyai pacar 36 kini memutuskan setia pada satu wanita, sehingga dikaruniai putra dan putri.
"Jangan cium-cium terus ih, kamu jelek Ray!"
"Lah kok jelek? Jangan-jangan kamu hamil lagi, Sayang. Goda Rayhan mencolek dagu Giani. Meski tobat, kelakuan Rayhan masih sama seperti dulu, sering menggoda.
"Apaansih, hamil mulu pikirannya. Cukup dua ya, aku nggak mau lagi!"
"Padahal Altair sama Sabira mau dedek," celetuk Altair yang tengah merangkul adiknya.
"Gimana kalau Altair aja yang beri mamah cucu?" cengir Giani.
Bukannya marah, Altair malah menganggukkan kepalanya cepat. "Ide bagus Mah, kebetulan Altair mau nikah muda!" Serunya langsung bergabung dengan orang tuanya.
"Ih Sabira nggak mau kakak nikah! Nggak rela kakak tampan aku jadi milik orang lain!" Gadis belia itu merengut, membuat Rayhan, Giani, dan Altair tertawa senang.
Sabira sangat mengemaskan jika sedang cemberut.
__ADS_1