Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 90 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Siapa yang menyangka, ungkapan cinta yang dia ucapkan secara gamblang karena takut kehilangan disambut begitu baik oleh Mark.


Fely merasa semuanya masih seperti mimpi bisa menjadi kekasih Mark, pria yang selama ini mencintai sahabatnya. Meski tahu hati Mark belum menjadi miliknya, dia tidak akan berkecil hati.


Dia akan berusaha untuk mengambil hati Mark secepat mungkin, terlebih dia mendapatkan lampu hijau dari pemiliknya.


Hari ini, tepat 6 hari Fely menjadi kekasih Mark, dan selama itu pula dia selalu membuatkan bekal spesial untuk kekasihnya seperti pagi ini.


Fely berdiri di depan rumahnya, menunggu Mark datang dengan motor besar pria itu. Karena nilai yang membaik dan tidak ada panggilan orang tua dari pihak sekolah, Mark berhasil mendapatkan motornya dari sang papah.


Senyuman Fely mengembang sempurna ketika Mark menghentikan motornya tepat di depannya.


"Akhirnya datang juga!" seru Fely dengan mata berbinar, sementara Mark hanya menampilkan senyuman seadanya.


Tanpa turun dari motor, Mark memasangkan helm di kepala Fely. Melajukan motor setelah kekasihnya berada di jok belakang dan memeluknya cukup erat.


Tidak ada pembicaraan terjadi di atas motor hingga sampai di sekolah. Mark memarkirkan motornya bertepatan dengan Altair yang menyalip tanpa dosa.


"Woy, itu tempat gue!" tegur Mark.


"Bacot lo," sahut Altair yang suasana hatinya tidak kunjung membaik, padahal sudah 6 hari berlalu sejak Asa menelponnya.


Selain karena perkataan Asa yang menyebalkan, Altair juga uring-uringan karena ponsel Asa sampai sekarang tidak aktif, begitupun dengan bunda Ara dan ayah Samuel.


"Dasar sombong!" pekik Mark.


Namun, Altair tidak peduli. Tetap melangkahnya kakinya menyusuri koridor yang mulai ramai. Pria itu bukan berjalan menuju kelas, melainkan Rooftop di mana dia dan Asa berjanji bertemu hari ini.

__ADS_1


"Altair, mamah masak banyak hari ini, kita sarapan bareng yuk!" Ajak Iren, gadis itu menghadang langkah Altair yang hendak menuju lantai tiga.


"Gue nggak lapar!" cetusnya tanpa menatap, membuat Iren menghentak-hentakkan kakinya.


Gadis ondel-ondel itu mengira jika Asa telah pergi, Altair bisa menjadi miliknya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Altair semakin ketus dan tidak punya hati.


Pria itu kini berada di rooftop sebelah selatan. Rooftop yang jarang sekali dikunjugi oleh siapapun. Tempat itu adalah tempat ternyamannya bersama Asa agar tidak dipergoki oleh siapapun saat berduaan.


"Aku yakin Asa pasti datang," gumamnya.


Duduk di salah satu bangku usang, menatap langit yang tampak mendung pagi ini. Semendung hati Altair yang merindukan Asanya.


Altair melirik cake yang dia ambil pagi ini setelah memesannya jauh-jauh hari.



Waktu terus berjalan, air hujan mulai menguyur tubuh Altair yang masih setia duduk di bangku usang. Cake yang dia pesan telah hancur karena air hujan yang menerpa.


Dinginnya udara tidak menyurutkan niat Altair untuk menunggu kekasihnya. Hari ini tepat satu bulan kepergian Asa, bukankah kekasihnya sudah berjanji akan pulang?


Altair melirik ponselnya yang terus berdering, menjawab panggilan dari sang mamah.


"Di mana? Udah jam 7 malam, kamu belum pulang. Di luar hujan, jangan buat mamah khawatir!" Omel Giani setelah panggilannya dijawab oleh Altair.


"Altair sibuk."


"Jawab mamah Altair! Itu suara petir sama hujannya jelas banget di sana! Cukup papah yang lembur malam ini, kamu pulang!"

__ADS_1


"Mah, plis Altair bukan anak kecil lagi. Altsir ada urusan jadi nggak bisa pulang!"


Altair mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh air hujan, mengigit bibir bawahnya karena merasa sangat dingin.


"Jangan bilang kamu nunggu Asa, iya? Asa nggak bakal pulang hari ini Altair. Dia baru aja dioperasi dan ...."


"Dan apa Mah? Setelah operasi Asa nggak ngabarin Air lagi. Hari ini Asa liat semua pesan Air, tapi dia nggak balas satupun. Altair nggak bakal pulang sebelum Asa datang!"


Memutuskan sambungan telpon sepihak tanpa memperdulikan perasaan mamahnya yang khawatir di seberang telpon.


Altair memeluk tubuhnya yang bergetar karena kedinginan. Menatap nanar ponselnya yang berada di room chat bersama Asa.


Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah sakit yang berada di Amerika. Bunda Ara duduk di kantin rumah sakit, menatap berbagai pesan yang masuk ke ponsel putrinya.


Air mata wanita paruh baya itu menetes tanpa diminta. Rasanya untuk membalas pesan Altair tidak sanggup bunda Ara lalukan.


"Makan dulu!"


Bunda Ara mengelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia makan sementara putrinya sudah ....


"Ara!"


"Memangnya Abang bisa makan disaat-saat kayak gini?"


"Ara, nggak gini caranya," bujuk Samuel.


"Ini semua karena Abang! Andai saja Abang nggak nekat bawa Asa ke sini, maka dia masih bisa tertawa bersama kita! Lihat! Altair nunggu dia pulang, gimana kita jelasin semuanya hah?"

__ADS_1


__ADS_2