
Sepanjang perjalanan pulang, Asa tidak henti-hentinya tersenyum. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada pundak Altair yang tengah serius menyetir.
Seperti permintaan sang kekasih beberapa hari yang lalu, Asa akan menikmati momen kebersamannya bersama Altair selagi bisa. Tidak akan menahan-nahan keinginan untuk bermanja pada kekasihnya.
Usia tidak akan menjadi penghalang keduanya untuk bersatu, terlebih Altair kadang menyesuaikan diri akan kondisi. Tahu kapan akan bermanja dan kapan akan memanjakannya.
"Senang deh, Asanya Air lengket gini," ucap Altair mengusap pelan kepala Asa, lalu kembali mengenggam tangan mungil kekasihnya.
Keduanya telah makan siang di warung sekitar pasar, sehingga tidak terlalu buru-buru pulang kerumah.
"Aku juga senang bisa meluk kamu kayak gini. Bisa ngabisin waktu tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Makasih Altair udah hadir dalam hidup aku. Jadi pelangi setelah badai."
"Sama-sama Asayang."
Terjadi keheningan, Altair yang sibuk menyetir, sementara Asa memperhatikan laut yang terlihat indah.
Karena melamun, pikiran gadis itu seketika tertuju pada pembicaraanya dengan Jihadi tadi pagi. Asa mendongak untuk menatap wajah tampan Altair dari bawah. Sungguh kekasihnya sangat tampan.
"Katanya mau hiatus?" tanya Asa memulai pembicaraanya. Sayangnya Altair hanya diam tanpa ada keinginan untuk menyahut.
Namun, itu tidak menyurutkan niat Asa untuk membujuk sang kekasih.
"Kenapa milih hiatus padahal nama kamu sedang melejit?"
"Pengen aja, udah bosan jadi terkenal. Udah tau rasanya gimana. Ternya lebih enak hidup gini-gini aja tanpa ada yang ngatur."
__ADS_1
"Kamu lupa? Terkenal karena bakat adalah impian kamu sejak dulu. Pengen suara kamu didengar semua orang."
"Tau, tapi aku nggak mau nyakitin perasaan kamu dengan jadi Idol."
Asa menghela nafas panjang, sangat susah ternyata membujuk pria keras kepala seperti Altair.
"Nggak sayang sama uang pinaltinya?"
Ciiitttttt
Decitan ban mobil tiba-tiba terdengar karena Altair menginjak rem secara mendadak. Pria itu menatap malas pada Asa yang selalu tahu segalanya tentang dirinya.
"Jihadi lagi?" Kesalnya, menghela nafas panjang.
"Kamu rela kehilangan banyak uang demi aku kan?" tebak Asa.
"Bukan, ge'er banget!" ketus Altair.
Bukannya tersinggung Asa semakin menipiskan bibirnya. "Ututu bayinya Asa ngambek lagi. Tahu nggak sih kalau uang itu nggak selamanya ada pada kita. Di luar sana banyak orang yang mati-matian kerja keras buat dapatin uang untuk nafkahin keluarga, tapi kamu malah ngamburin uang gitu aja ketimbang menunggu beberapa bulan lagi."
"Sa, waktu aku sama kamu lebih berarti dari apapun! Uang bisa aku cari tapi nggak dengan waktu yang terbuang sia-sia. Siapa yang tau kamu ...."
Altair membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Nafas pria itu memburu. Bukan dia yang sakit, tapi dia yang seakan tidak mempunyai waktu banyak untuk menjalani hidup bersama Asanya.
"Comeback ya?" Bujuk Asa.
__ADS_1
"Nggak Sa, kalau aku setuju Comeback. Aku bakal latihan dan sibuk sendiri."
"Sayang, cuma dua bulan. Waktu aku masih banyak. Aku bakal jaga kesehatan, aku bakal minum obat sesuai anjuran dokter."
"Nggak mau." Mengeleng layaknya anak kecil.
Asa menghela nafas panjang. "Setelah konser kamu, kita menikah. Lagian kita udah dapat restu dari bunda dan mamah."
Altair tampak berpikir, hingga akhirnya mengangguk tanpa ada beban dan keraguan dalam dirinya. Ternyata Altair benar-benar bucin dan serius ingin menikah. Sungguh Altair sangat mengemaskan.
"Temenin latihan tapi." Altair kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, lagipula mereka hampir sampai.
Asa mengangguk cepat. "Aku bakal nemenin kamu latihan setiap saat. Janji."
"Sayang Asa banyak-banyak." Mejawil hidung mancung Asa dan tertawa bersama.
Altair membating setir kemudi memasuki pekarangan rumah. Keningnya mengerut ketika melihat mobil silver terpakir di depan rumahnya.
"Ay-ayah?" gumam Asa yang mengenali mobil tersebut.
"Ngapain tuh orang datang ke rumah kita?"
"Jangan gitu Altair!"
"Pokoknya aku benci sama orang yang buat kamu menderita Asa, baik ayah kamu sekalipun!" Kesal Altair, turun dari mobil secara terburu-buru disusul oleh Asa. Tepat saat itu Samuel pun turun dari mobilnya.
__ADS_1