
Sesuai perintah papahnya, Altair langsung mengantar Asa pulang. Terlebih kekasihnya masih dalam masa pemulihan dan baru saja menempuh perjalanan cukup jauh.
Kebetulan hari ini Altair membawa mobil karena cuaca yang susah ditebak. Sakin bahagianya, Altair sampai melupakan Iren yang tadi mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
Ayolah, Altair sangat bahagia sekarang. Rasa bahagianya membuat dia lupa akan segalanya. Terlebih Altair telah menantikan kehadiran Asa meski itu mustahil terjadi setelah kabar yang dia terima satu tahun yang lalu.
Tangan Altair tidak pernah melepaskan tangan Asa. Pria itu menyetir dengan sebelah tangan.
"Tangan aku keringetan, Altair!"
"Udah, jangan banyak protes. Kamu nggak tau gimana frustasinya aku selama ini," sahut Altair melirik kekasihnya sekilas.
Melajukan mobil dengan kecepatan lumayan sedang agar bisa berlama-lama dengan kekasihnya.
"Jadi kematian kamu cuma kebohongan?"
"Aku nggak tau Altair. Aku nggak tau apa yang sudah aku alami setelah pencangkokan jantung itu. Setelah dioperasi, awalnya aku baik-baik aja. Tapi pada akhirnya aku jatuh pingsan dan terbangun setelah waktu berlalu cukup panjang."
Asa bercerita sambil mengenang hal-hal yang dia alami. Rasanya dia hanya tertidur sebentar. Kadang rasa sakit dia rasakan, tapi dikalahkan dengan mimpi buruk dan indah silih berganti dalam tidurnya.
Asa pernah berusaha untuk membuka mata, mengerakkan seluruh tubuhnya. Namun, tidak membuahkan hasil apapun.
"Kamu tau? Saat pertama bangun, aku malah nyari kamu, sampai ayah cemberut." Asa tertawa.
"Itu karena kamu kangen banget sama tunangan tampanmu ini." Menjawil hidung Asa.
__ADS_1
Tidak terasa keduanya telah sampai di rumah gadis itu. Altair menghentikan mobilnya dan membantu sang kekasih turun.
"Akhirnya pulang juga, bunda khawatir banget, Nak." Ara menyambut kedatangan putrinya.
"Kamu tahu Altair? Sepanjang perjalanan pulang, Asa jadi cengeng. Dia terus nangis karena merasa bersalah katanya."
"Bunda?"
"Emang benar kan?" Bunda Ara seakan tidak mengerti arti kedipan mata putri sulungnya.
Tidak tahukah bunda Ara bahwa sejak tadi Asa mencegahnya untuk bicara lebih banyak lagi? Asa tidak ingin Altair besar kepala di hari pertama mereka bertemu.
Asa terkejut bukan main ketika pinggangnya langsung diamit oleh Altair. Mengecup keningnya di depan ayah Samuel dan dan Bunda Ara.
"Altair udah lecehin Asa, Om. Kalau om punya harga diri, harusnya om seret Asa dan Altair ke penghulu karena udah berbuat dosa!" jawab Altair tanpa rasa goyah di hatinya.
Mata bunda Ara dan Asa tentu terbelalak mendengar penuturan pria yang umurnya baru saja genap 17 tahun ini.
"Altair, kamu ngomong apa sih? Lepasin!" Mendorong dada Altair. Wajah Asa telah memerah layaknya kepiting rebus.
Altair hanya bertingkah konyol, tapi sayangnya dia malah baper dan salah tingkah.
"Sayang!" panggil Altair ketika Asa telah pergi menjauhinya.
"Pulang, aku mau istirahat!" teriak Asa dari dalam rumah.
__ADS_1
Altair menghela nafas panjang. Segera undur diri setelah menyadari tatapan tajam ayah Samuel. Tidak lupa sebelum pergi, pria itu mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.
Jika tadi Altair melajukan mobil dengan kecepatan sedang, maka kali ini sebaliknya. Itu semua dia lakukan agar sampai dengan cepat ke rumah.
Setelah sampai dan memarkirkan mobil dengan aman, Altair berlari memasuki rumah dengan wajah paniknya.
"Mah, Pah! Gawat!" teriaknya.
Rayhan dan Giani yang sedang bermesraan di dapur lantas menemui putranya yang berdiri di tengah-tengah rumah. Begitupun dengan Sabira yang menyusul dari kamarnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Sabira dari lantai dua.
"Om Samuel ngamuk. Om Samuel paksa Altair buat nikahin Asa!"
"Kok bisa?" Hanya Sabira yang terhanyut dalam drama kakaknya.
"Altair nggak sengaja lecehin Asa. Altair harus gimana, Pah? Altair nggak mau nikah."
Berlutut di tengah-tengah rumah masih dengan raut wajah paniknya. Rayhan mendekat, menepuk pundak putranya denga ekpresi tidak kalah dramatis.
"Jangan khawatir Nak, papah bakal berusaha gagalkan pernikahan paksa ini. Kamu bisa memilih pasangan hidupmu. Biarkan Asa menikah dengan orang ...."
"Kok gitu sih?" protes Altair. Raut wajah pria itu berubah kesal. Dia mengira ayahnya akan menikahkan dia dan Asa hari ini.
"Katanya nggak mau nikah muda, kok ngamuk?" tanya balik Rayhan.
__ADS_1