
Ara perlahan-lahan membuka pintu kamarnya dan mendapati sang suami tengah berbaring di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Wanita paruh baya itu mendekat, duduk di sisi sofa yang masih tersisa.
"Abang minta maaf sama, Asa?" tanya Ara yang rasa penasaranya selalu berada di atas rata-rata.
"Ngapain minta maaf?" tanya balik Samuel.
Ayolah siapapun tahu bahwa Samuel orang yang gensingnya dijunjung tinggi. Tidak akan mengakui sesuatu jika itu menurutnya memalukan.
Padahal meminta maaf bukanlah hal memalukan, melainkan hal mulia yang hanya bisa dilalukan oleh orang-orang berhati besar.
Permintaan maaf pun bukan untuk orang yang bersalah, tapi orang yang sadar akan situasi.
"Kenapa Abang tiba-tiba mau nerima pertunangan Asa dan Altair? Abang nggak lagi rencanain sesuatu kan?"
Samuel mendengus kesal, bangun dari tidurnya dan menyentil kening sang istri. Sejak pertama menikah hingga sekarang, Ara selalu mempertanyakan sikapnya jika tiba-tiba baik pada seseorang.
"Memangnya Abang nggak bisa baik sama orang?"
"Ish, tapi beda Abang. Aku udah bujuk Abang bertahun-tahun. Jelasin kalau semuanya bukan kesalahan Asa, tapi Abang tetap benci sama dia. Ya kali nggak curiga."
"Abang salah, abang egois. Maafin Abang Ara. Maafin Abang karena nyakitin putri pertama kita. Mari mulai semuanya kembali tanpa rasa curiga dan egois!" Pinta Samuel mengenggam tangan istrinya.
Mengecup punggung tangan Ara bergantian sambil tersenyum tipis. Perasaan pria paruh baya itu tiba-tiba menghangat ketika melihat senyuman istrinya. Senyuman mengemaskan yang tidak pernah berubah sejak dulu.
Tanpa diduga, Samuel mendaratkan kecupan di kening Ara. Membenamkan cukup lama sambil memejamkan mata.
"Jangan pernah usir aku lagi dari rumah ya. Hidup aku hancur tanpamu," bisik Samuel.
Ara mengangguk, mengelus rahang tegas sang suami. "Aku nggak bakal ngusir abang dari rumah dengan tiga syarat. Jangan sakiti hati kedua putriku dan sakiti hatiku."
"Janji," ucap Samuel.
***
__ADS_1
Duduk lesehan di depan ranjang adalah hal yang Asa lakukan untuk saat ini. Gadis itu sibuk memilah-milah barang yang mungkin sudah tidak dia butuhnya, berencana akan membawanya ke panti asuhan.
"Boneka ini?" Asa menimang-nimang dua boneka yang ada di tangannya. Hingga memutuskan untuk memasukkan ke dalam dus.
"Kak Asa lagi ngapain?" tanya Ayana yang menyembulkan kepalanya di balik pintu.
Ayana mendekat ketika dipanggil oleh sang kakak. Ikut duduk dan memperhatikan dus besar di hadapan kakaknya.
"Kakak lagi ngumpulin barang nggak ke pakai, Ay. Mau bantu?"
"Boleh. Eh tapi tunggu, kok boneka ini ada sama kakak?" tanya Ayana. Mengambil dua boneka dengan karakter yang sama tapi berbeda warna.
"Boneka ini dibeli sama Ayah pas pulang kerja," ucap Ayana.
Asa mengangga tidak percaya, pasalnya gadis itu menemukan boneka tersebut di tong sampah depan rumah.
"Tapi ...."
"Aya buang bonekanya di tempat sampah karena kesal sama Ayah. Ayah ngasih Aya boneka tapi kakak nggak."
"Ishh, berhenti belain ayah, kak Asa! Ayah itu jahat. Ayah pilih kasih sama kak Asa. Ayah benci ...."
"Ssssttttttt." Asa mendesis, meletakkan jari telunjuknya di bibir sang adik. "Sebesar apapun kesahalan orang tua, terutama ayah. Kita sebagai anak nggak boleh benci, Aya. Orang tua punya caranya sendiri buat nyenengin putrinya, begitupun dengan ayah."
"Tapi ...."
"Ck. Aya sekarang minta maaf sama ayah, ayo kakak temenin." Menarik tangan Ayana agar segera berdiri.
Asa tidak ingin keluarga angkatnya berantakan karena masalah dirinya. Lagi pula sekarang semua masalah telah selesai. Ayah Samuel sudah sayang padanya dan merestui hubungannya dengan Altair.
Kedua gadis cantik yang berbeda beberapa tahun itu, berjalan menuju kamar orang tuanya.
Mengentuk sebentar sebelum Asa membuka pintu. Refleks Asa menutup mata Ayana ketika melihat apa yang dilakukan ayah dan bundanya di sofa.
"Kok mata Aya ditutup?" tanya Ayana berusaha menyingkirkan tangan Asa.
__ADS_1
"Uhmmm, kita minta maafnya nanti aja. Ayo ke taman belakang!" Buru-buru menarik tangan Ayana agar segera meninggalkan kamar utama.
Asa tidak ingin Ayana melihat kedua orang tuanya sedang berciu*man, bahkan lebih dari itu. Memikirkannya membuat pipi Asa memanas seketika.
"Kok pipi kak Asa memerah?"
"Oh i-ini kakak keingat gombalan Altair." Cengir Asa berbohong.
Ayana mengangguk dengan polosnya, duduk di ayun-ayunan yang terdapat pada taman rumahnya.
Sementara Asa berdiri tidak jauh dari sana sambil menghubungi seseorang. Hari mulai gelap, Asa ingin mengetahui kabar kekasihnya.
"Masih di Agensi?" tanya Asa setelah Altair menjawab telpon hanya dalam satu deringan.
"Hm, kenapa?"
"Nggak, cuma nanya aja. Jangan kebablasan latihannya Altair, aku nggak mau kamu sakit."
"Iya Asayang, palingan sampai jam 10 malam. Setelahnya pulang ke apartemen."
Asa mengangguk-anggukkan kepalanya, sebenarnya dia ingin mempertanyakan perihal rencana kedatangan orang tua Altair sebentar malam.
"Nggak kerumah?"
"Keknya nggak bisa apelin kamu mal ini." Terdengar nada senduh di seberang telpon. Mungkin jika sedang bersama, Altair akan mengeluhkan banyak hal dipangkuan kekasihnya.
"Om Ray nggak ngasih tau kamu sesuatu gitu? Misal makan malam atau sejenisnya?"
"Nggak."
"Oh ya udah, selamat latihan Airnya Asa."
Langsung memutuskan sambungan telpon. Asa sekarang mengerti, sepertinya om Rayhan akan memberi kejutan pada putranya yang menyebalkan.
"Apa iya rencana om sama kayak yang ada dipikiran aku?" gumam Asa.
__ADS_1