Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 31 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Perjalanan untuk menghadiri iklan salah satu brand di paris tidak begitu Altair nikmati, terlebih saat mendengar beritanya yang jalan bersama Asa tersebar ke sosial media.


Sepanjang acara Altair hanya senyum seadananya saja, menyapa para fans tidak semangat karena mengkhawatirkan Asa yang mungkin saja terganggu akan berita tersebut.


Altair tahu Asanya, gadis itu tidak akan memperlihatkan kesedihannya padahal hatinya tidak sekuat batu yang tidak bisa merasakan sakit meski dihantam bertubi-tubi.


Tangan Altair terus mengulir layar setelah sampai di hotel bersama Jihadi yang setia duduk di hadapannya.


Sesekali decakan keluar dari mulut pria tampan tersebut ketika membaca komentar-komentar jelek tentang Asa.


"Lo kerja nggak sih? Kenapa beritanya sampai nyebar gini? Gue nggak mau tau semuanya harus beres sebelum gue pulang!" omel Altair melepar ponselnya ke atas meja.


Melonggarkan dasi hitam yang terasa mencekek lehernya seharian. Wajah pria itu tampak kusut dan tidak ada selera apapun, dipikirannya hanya Asa dan Asa.


Asanya pasti terganggu dan merasa bersalah telah mengacaukan karir Altair.


"Makanannya sudah datang," ucap Jahadi yang tidak mengidahkan omelan Altair tadi.


"Nggak lapar dan nggak butuh, makan sana sendiri!" ucapnya dan berlalu ke kamar. Mengambil tas yang dia bawa lalu kembali menemui Jihadi.


"Ayo!" ajak Altair.


"Tadi saya di suruh makan, kok dipanggil lagi?" tanya Jihadi yang mulutnya telah penuh akan makanan.

__ADS_1


Manager Altair sangat lapar, giliran mendapatkan makanan malah diajak untuk pergi lagi.


"Lo makan atau ikut gue pulang?" tanya Altair dengan alis terangkat.


Bukan hanya Jihadi yang lapar, Altair juga demikian. Hanya saja tidak ada selera makan sebelum memastikan semuanya baik-baik saja.


Pria itu berjalan di koridor hotel sambil menenteng tasnya tanpa menunggu Jihadi. Setelah sampai di parkiran dia langsung masuk ke mobil dan memejamkan matanya untuk mengatur nafas yang memburu.


Berulang kali Altair mengirim pesan bahkan menelpon Asa tapi tidak ada jawaban sama sekali padahal gadis itu masih aktif.


"Kamu kemana sih Sa? Bisa-bisanya ngilang padahal lagi genting," gumam Altair meremas ponselnya.


Atensi pria itu teralihkan saat Jihadi masuk ke mobil bersama sopir. Seperti keinginan Altair, mereka bertiga akan menuju bandara dan terbang ke indonesia detik itu juga.


"Altair?" panggil Jihadi memberikan ipad pada Altair.


Tampilan yang ada pada layar Ipad tersebut berhasil memancing emosi Altair seketika. Selalu saja Agensi TB mengambil keputusan tanpa bertanya lebih dulu pada pemiliknya.


"Semuanya telah diselesaikan Altair, setelah pernyataan Agensi yang mengatakan nona Asa adalah staf, pengemar kamu tidak menyerang lagi. Trending topikpun sudah tergeser."


Jihadi terus berucap tanpa menyadari wajah Altair yang tengah memerah karena amarah. Pria yang kesabaraanya setipis tisu dibagi dua tersebut seakan ingin mengubur seseorang hidup-hidup.


"Apa kamu ingin istirahat lebih dulu dan menunda keberangkatan ...."

__ADS_1


"Bacot!" Melempar ipad Jihadi tanpa takut akan rusak.


Kekayaan Agensi tidak akan bisa mengalahkan kekayaan Adhitama. Alasan Altair menjadi Idol bukan karena uang melainkan pembuktian bahwa dia mempunyai bakat bukan modal tampan dan kaya saja.


Namun, Altair tidak pernah menyangka hidupnya akan diatur seketat ini oleh Agensi.


***


Sudah satu minggu sejak menyebarnya foto tersebut dan selama itu pula Altair tidak menemui Asa atau bahkan menghubunginya.


Altair marah pada dirinya sendiri sebab telah membuat Asa menderita, padahal dia telah berjanji akan membahagiakan gadisnya di sisi hidupnya.


Pria itu menghela nafas panjang saat Jihadi kembali hadir di hadapannya dengan membawa map berisi beberapa proyek dari Agensi yang harus dia hadiri.


"Lo ngerti bahasa manusia nggak sih? Gue bilang nggak ya nggak!" bentak Altair menatap tajam Jihadi.


"Altair ayolah jangan ngambek gini. Lagian semuanya udah selesai ngapain di perpanjang coba? Hadiri acara ini dan kita mulai dari awal lagi."


"Nggak!"


"Altair! CEO TB bisa aja marah kalau kamu terus keras kepala! Banyak yang mau bekerja sama dengan kamu, entah brand pakaian ataupun aksesoris."


"Sebelum CEO TB minta maaf ke Asa gue nggak bakal nerima tawaran apapun!"

__ADS_1


__ADS_2